Macapat dan Kehidupan Manusia

Foto: aselicahndeso.wordpress.com

Foto: aselicahndeso.wordpress.com

Macapat, sebagai tembang klasik Jawa, pertama kali muncul pada zaman para Wali Songo. Kehadirannya saat mereka mencoba berdakwah dan mengenalkan Islam melalui budaya, dan di antaranya adalah melalui tembang-tembang macapatan ini.

Sunan BonangSunan KalijagaSunan Drajat, serta Sunan Kudus adalah kreator awal munculnya tembang-tembang Macapat. Secara bahasa (kerata basa), Macapat berarti Maca Papat-Papat (membaca empat-empat).

Tembang-tembang ini sebenarnya menggambarkan perjalanan hidup manusia, berbagai pasang-surut kehidupan yang dilaluinya di “Mauthin Dunya” ini. Bagaimana sebagian manusia terpanggil menempuh jalan pencarian jati diri, sebagian lainnya tidak, dan sebagian kecil manusia berhasil mencapai “durma”, sementara sebagian besar tidak. Namun semuanya akan berakhir sama dalam kematian.

Ada pun berbagai pasang surut dan perjalanan kehidupan itu direpresentasikan dalam judul-judul Macapat sebagai berikut:

  •  Mijil
    Inilah awal kelahiran manusia ke dunia. Tembang Mijil bersifat asih dan berisi doa atau pangajab dan mengilustrasikan proses kelahiran manusia.
  • Sinom
    Adalah lukisan dari masa muda (Si Anom), masa yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan. Tembang ini mempunyai sifat kenes.
  • Maskumambang
    Isih kambang-kambang” artinya masih belum memiliki ilmu yang mantap, masih terombang ambing. Tembang ini bersifat nelongso atau menyedihkan. “Maskumambang“ artinya emas yang mengapung di atas air dan mengandung penafsiran sebagai “air mata“. Air mata keluar karena suka atau pun duka. Maka bisa dibilang irama tembang Maskumambang itu mengharukan. Jika seseorang merasa “terharu”, akan keluar air mata, baik karena sedih atau senang.
  • Kinanthi
    Adalah masa pembentukan dan pencarian jati diri serta menempuh jalan pencarian jati diri tersebut. Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun yang bermakna bahwa manusia membutuhkan tuntunan atau jalan yang benar agar bisa menemukan diri sejatinya.
  • Asmarandana
    Menggambarkan masa-masa di rundung asmara.
  • Gambuh
    Awal kata gambuh adalah jumbuh/bersatu yang artinya komitmen untuk menyatukan cinta dalam satu biduk rumah tangga.
  • Pangkur
    Pangkur atau mungkur artinya menyingkirkan syahwat dan hawa nafsu yang melumpuhkan jiwa manusia. Untuk itu diperlukan riyadhah atau “melatih untuk mati sebelum mati”. Ada juga yang menafsirkannya sebagai uzlah.
  • Dhandhanggula
    Gambaran dari kehidupan yang serba indah. Namun ada juga yang mengatakan bahwa ini artinya “mendendangkan kemanisan iman”.
  • Durma
    Durma berasal dari kata darma, yaitu berdharma dengan menjalankan misi hidup.
  • Megatruh
    Megatruh atau megat ruh berarti terpisahnya nyawa (nafakh ruh) dari jasad kita, terlepasnya Ruh/Nyawa.
  • Pucung (Pocong/dibungkus kain mori putih)
    Manakala yang tertinggal hanyalah jasad belaka, dibungkus dalam balutan kain kafan/mori putih, diusung laksana raja-raja, sebagai prosesi penguburan jasad menuju liang lahat, rumah terakhir manusia di dunia.
  • Wirangrong
    Tembang Wirangrong adalah tembang penutup, usailah masa hidup. Wirang artinya mengerti atau tahu cara hidup, Rong artinya lubang kubur di mana hidup ditutup

Catatan di atas saya sadur dari bebeberapa sumber di internet dan saya edit di sana-sini. Semoga dengan melihat hal ini, para anak muda yang buta sejarah bisa melihat bagaimana Tanah Jawa ini diislamkan oleh para wali yang menghargai khazanah Hindu (sebagai salah satu agama yang Allah turunkan di wilayah Asia ini) dan melakukan pendekatan budaya yang jenius.

Padahal, selain Sunan Kalijaga, para Wali Sanga itu adalah ekspatriat dari jazirah Arab. Mengherankan sekali, betapa para ekspatriat dari jazirah Arab itu begitu fasih menguasai budaya Jawa dan khazanah Hindu, menghargai budaya adiluhung nenek moyang kita.

Sementara anak cucunya saat ini malah buta sejarah, tidak menghargai warisan budayanya sendiri (yang sebenarnya sudah diberi ruh Islam di dalamnya), dan mereka malah begitu terobsesi mengimpor ideologi-ideologi ahistoris dan akultural dari Jazirah Arab sana, yang sudah dikedoki di sana-sini kemudian diklaim sebagai agama. Lalu mereka menjadi keras dan menyukai kekerasan, senang mengkafir-kafirkan dan berteriak-teriak di jalanan sambil membawa anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Kondisi yang sering membuat saya prihatin.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.