Gadis Jeruk: Surat Untuk Dibaca di Masa Depan

(Gambar: bukuygkubaca.blogspot.com)

Oleh Utomo Priyambado, Mahasiswa Teknik Tambang ITB 2010

“Aku bertanya lagi: apa yang akan kau pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi dari semua itu, tak pernah kembali lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih?” (hlm. 212)

Novel Gadis Jeruk merupakan karya ketiga belas Gaarder. Seperti biasa, dalam buku-bukunya, Gaarder selalu mengajak kita untuk berfilsafat, sejenak merenungi kehidupan.

Novel ini bercerita tentang George Roed (15 tahun) yang mendapati sebundel surat dari ayahnya yang telah meninggal sebelas tahun lalu. Surat itu ternyata memang benar-benar ditujukan untuk George.

Dalam suratnya, sang ayah bercerita tentang pertemuannya dengan seorang gadis jeruk yang misterius dan membuatnya jatuh cinta. Sejak pertemuan pertama dengan gadis jeruk itulah Jan Olav, ayah George, terus mengembara dan mencari-cari sang gadis jeruk dari Oslo hingga Spanyol.

Selain itu, dalam suratnya sang ayah juga membahas tentang teleskop ruang angkasa Hubble. Olav menyebutnya sebagai mata semesta. Secara kebetulan George pun baru saja menyelesaikan tugas spesialisasinya di sekolah mengenai teleskop Hubble. Dengan teleskop tersebut kita bisa melihat seluruh permukaan bumi bahkan benda-benda luar angkasa lainnya. Bila kita melihat benda langit yang jaraknya satu juta tahun cahaya dari bumi itu berarti kita melihat benda langit tersebut di masa sejuta tahun yang lampau.

Cerita dalam buku ini semakin akhir semakin mencapai klimaksnya. Satu persatu misteri tentang gadis jeruk dan isi surat ayah George itu semakin terkuak dan tujuan adanya surat itu semakin jelas. Akhir dari buku ini ialah ketika George harus menjawab pertanyaan ayahnya apakah ia tetap memilih berada di dunia ini pada awal penciptaannya meskipun kelak akan ditinggalkan atau meninggalkan segalanya, atau menolak berada di dunia ini sejak awal. Terkadang merasa kehilangan sesuatu yang telah dimiliki memang lebih menyedihkan daripada tidak pernah memilikinya sama sekali.

Kelebihan dari novel Gaarder ini adalah bahasanya yang mudah dimengerti meskipun terdapat materi-materi filsafat di dalamnya. Selain itu, kita juga akan mendapatkan wawasan tentang benda-benda alam semesta dan sejarah teleskop Hubble.

Kekurangan dari buku ini ialah tidak adanya pembagian bab-bab cerita yang membuat pembaca sulit untuk menentukan tempat pemberhantian sejenak. Namun, dalam buku ini masih terdapat jeda cerita dengan adanya pemisahan tulisan ke halaman baru selanjutnya.

Secara pribadi, harapan saya akan banyaknya materi filsafat tentang perenungan hidup dalam novel Gaarder ini kurang terpenuhi. Saya memiliki harapan porsi tentang hal tersebut bisa lebih banyak lagi. Nyatanya, cerita misteri tentang gadis jeruk itulah yang menjadi porsi besarnya. Namun begitu, dalam penuturan dan pengungkapan cerita misteri gadis jeruk itu Gaarder juga melakukan pendekatan secara kefilsafatan yang mencoba menebak dan merenungi hal-hal, meski kecil sekalipun, tentang si gadis jeruk tersebut.

Menurut saya, buku ini cocok dibaca oleh semua kalangan, termasuk remaja, mengingat tokoh utama dalam buku ini adalah seorang anak berusia 15 tahun. Testimoni dari Kompas pada sampul depan buku ini menyebutkan, “Buku yang pantas dijadikan bacaan keluarga dan hadiah ulang tahun.”

Orang yang telah membaca buku ini seyogyanya akan bertanya-tanya. Dengan interval umur manusia yang jauh lebih pendek dibandingkan masa kehidupan dunia ini sejak awal hingga akhir, apakah yang akan kita lakukan selama hidup di dunia ini? [dm]

 

About author
Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.