SD IT Rabbani, Hampir Bubar Namun Bangkit Lagi

Anak-anak SD IT Rabbani saat pulang sekolah (Foto oleh Hesty Ambarwati)

Letaknya masih di Bandung, tepatnya di Kampung Balong, Kecamatan Cimenyan, beberapa kilometer saja dari saung tempat pusat kebudayaan angklung yang mendunia. Sebuah sekolah dengan bangunan bersahaja, SD Islam Terpadu Rabbani namanya. Menuju sekolah ini mestilah melewati jalan bertanah merah. Tak ayal saat musim hujan teras sekolah kotor oleh tanah-tanah basah dari jejak alas kaki.

“Murid-murid kami pakai sepatu Hari Senin saja, itu pun sudah susah payah dipaksa karena ada upacara, selebihnya pakai sendal,” ujar Susilawati (27) yang akrab disapa Bu Uci. Bu Uci adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal tidak jauh dari sekolah. Setiap harinya Bu Uci meluangkan waktu dari pagi hingga siang untuk mengajar di kelas 1.

Sehari-hari, bangunan dengan empat ruangan ini menjadi tempat belajar 32 orang siswa kelas 1 sampai 5 SD. Satu ruangan digunakan sebagai ruang guru dan kepala sekolah, tiga ruangan lain digunakan sebagai ruang kelas.

Jumlah siswa tiap kelasnya tidak lebih dari delapan orang. “Kelas 1 dan 2 di satu ruangan, kelas 4 dan 5 juga, kelas 3 sendiri,” kata Hesty Ambarwati (22), Kepala SD IT Rabbani. “Kalau gurunya ngajar patarik-tarik,” tambah mahasiswi Pendidikan Tata Boga UPI ini sambil tertawa.

 

Hampir Bubar

Pada awal berdirinya pada tahun 2002, sekolah ini makmur, muridnya banyak. Saat sekolah lain belum gratis, SD IT Rabbani ini sudah melaksanakan pendidikan gratis. Tidak heran banyak warga sekitar yang berasal dari kalangan menengah ke bawah menitipkan anak mereka di sekolah ini.

Suatu ketika terjadi perselisihan antara Kepala Sekolah dan pihak yayasan yang menyebabkan Kepala Sekolah tersebut dipindahtugaskan pada tahun 2008. Kemudian berturut-turut para pengajar pun meninggalkan sekolah ini. Tanpa adanya kepala sekolah dan guru, tidak bisa dihindari jumlah siswanya pun kian menyusut.

Tahun 2009 kegiatan belajar mengajar masih berjalan kendatipun tidak ada guru. Beberapa ibu rumah tangga yang peduli sekali waktu datang ke sekolah untuk mengajar sekenanya. Namun demikian hal itu masih dirasa kurang membantu.

 

Pengajar dan murid SD IT Rabbani di depan bangunan sekolah. (Foto oleh Hesty Ambarwati)

Diselamatkan Mahasiswa

“Kami datang ke sekolah ini pertengahan 2010. Saya ingat waktu itu hari Kamis. Hari Sabtunya pihak sekolah akan membagikan raport siswa sekaligus mengumumkan bahwa sekolah ini akan ditutup,” kisah Hesty. Dirinya mengaku mengetahui informasi tentang sekolah yang akan ditutup ini karena berjejaring dengan komunitas-komunitas peduli pendidikan.

Beberapa mahasiswa datang ke SD IT Rabbani untuk melakukan tindakan ‘penyelamatan’. Hal yang dilakukan pertama kali adalah dengan mengisi kekosongan guru. “Pas kita masuk anak-anak tidak siap dengan kultur sekolah, karena biasanya bebas, tidak ada guru,” kenang Anissa Trisdianti (22), Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI yang kini menjadi wali kelas 3.

Relawan dari pihak mahasiswa datang silih berganti untuk mengajar, namun sekarang mahasiswa yang menjadi guru tetap hanya tinggal Hesty dan Nissa saja. Di tengah kesibukan mengerjakan skripsi, kedua sahabat ini mengaku berat meninggalkan SD IT Rabbani terutama karena siswa-siswinya.

“Kami tahu sekarang kenapa Bu Muslimah begitu ingin mempertahankan anak muridnya,” ungkap Nissa yang juga pernah menjadi Kakak PAS ini.

“Sekarang kelas 4 dan 5 tidak ada wali kelasnya, saya biasa keliling ke kelas yang lagi kosong gurunya,” ungkap Hesty. “Jika ada yang bersedia datang mengajar kami akan senang sekali, tidak usah setiap hari, jadwal kami fleksibel,” tambahnya.

SD IT Rabbani kini bangkit kembali. Walaupun tanpa ada yang menggaji dan memiliki banyak keterbatasan, para pengajar tetap setia mengajar setiap hari.

6 total comments on this postSubmit yours
  1. kalo tertarik jd relawan pengajar
    gmana ya?thx

    • bisa datang langsung ke sekolah, naik saja angkot ke arah cicaheum, berhenti di padasuka (yang mau ke saung angklung Udjo), dari situ naik ojeg bilang aja mau ke Pesantren Alfurqon, ongkos ojeg 5-6ribu. Kalau mau datang bisa konfirmasi dulu ke Hesty.

  2. Hayuuuu may,, ?? ?? ??????? ?? ?????? dari februari ya.

  3. Bangga sama temen-temen relawan di SD IT Rabbani. Tapi juga agak khawatir, karena pastinya mereka banyak mengorbankan waktu dan biaya.. .Sementara… Teman-teman pengajar juga pasti punya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

    Bagimana saya bisa berkontribusi lewat donasi?

3 total pingbacks on this post
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.