Sambung Rasa Sungai Citarum…

Foto: mustangcorps.com

Foto: mustangcorps.com

Selama ratusan tahun, Citarum hadir membelah Jawa Barat. Dulu airnya bening. Tidak ada satu ekor ikan pun yang mampu bersembunyi. Pemancing pun dengan riang gembira mengailnya. Penduduk desa yang dilaluinya, tak pernah kekurangan protein. Air jernih itu digunakan untuk mandi dan minum.

Di setiap sentimeter yang dilaluinya, air Citarum bak menyapa semua mahluk hidup di sisi kanan dan kirinya. Bukan cuma itu, air ini masuk meresap ke tanah dan merelakan dirinya dihisap akar-akar tanaman. Karena kehidupannya terpenuhi, manusia pun punya waktu luang untuk membangun peradaban, hewan pun berbunyi nyaring tanda bahagia, pohon dan tanaman pun tegak.

Dalam khazanah Sunda, manusia adalah mahluk eling, binatang adalah mahluk nyaring, dan tanaman adalah mahluk cicing. Mereka terhidupi oleh Citarum.

Pendek kata, manusia-manusia di sisi kanan dan kiri Citarum adalah manusia-manusia bahagia dan gembira. Mereka tambah bahagia ketika disambungkan oleh jembatan yang melintasi jembatan.

Jembatan Citarum, bukan hanya dimaknai sebagai jembatan yang menghubungkan dua wilayah, akan tetapi juga yang menjembatani batin manusia di kedua sisi Citarum.

Di Majalaya, jembatan Citarum ini suka dikisahkan sebagai tempat bertemunya tali kasih pemuda dan pemudi dari dua desa berbeda di kawasan Citarum.

Hidup begitu berwarna karena ada Citarum…

Karena memberikan kehidupan, kakek moyang saya di Majalaya merasa bahwa Citarum itu hidup, meski dia bukan mahluk eling, nyaring, atau cicing. Tidak ada kategori yang tepat untuk memaknai hidupnya Citarum. Sungai ini tetap merupakan misteri. Semakin misterius Citarum, semakin enggan kakek moyang “menyakiti” Citarum.

Karena Citarum hidup dan memberikan kehidupan, maka terciptalah rasa keterikatan batin yang semakin kuat. kakek moyang pun menyediakan sesaji, yang menurut leluhur kami, sering disalahartikan sebagai sesembahan (offering). Sesajian itu adalah simbol rasa terima kasih kepada Citarum. Intinya adalah komunikasi melalui sambung rasa, bukan sambung logika. Kakek moyang saya bisa menangis kalau melantunkan tembang Citarum…

Sambung rasa batin adalah komunikasi yang nir-logika. Saya merasakan sangat sedih ketika saya harus menjual sepeda motor butut yang selama enam tahun kuliah menemani saya. Di mata saya, sepeda motor tahun 70 itu memang benda mati, tapi dia “hidup” karena memberi sedikit kehidupan buat saya. Tujuh tahun saya merawat dia, seperti waktu kecil saya merawat domba di Majalaya. “Kamu urus motor itu, seperti kamu ngurus domba,” kata nenek almarhum.

Sambung rasa batiniah menyebabkan nenek moyang begitu tahu berterimakasih terhadap mahluk lain. Dan ketika tahu berterimakasih, maka terjadilah interaksi saling menghidupi dan menghidupkan.

Nabi Sulaeman adalah nabi yang mampu berkomunikasi dengan hewan. Ada yang menafsirkan memang Sulaeman mampu berkomunikasi verbal, ada pula yang menafsirkan Sulaeman sangat paham “bahasa”, keinginan, dan “aspirasi” hewan. Sulaeman mengembangkan apa yang sekarang kita sebut sebagai eco-democracy. Dia membangun kerajaan dengan memperhatikan juga aspirasi hewan, selain manusia.

Citarum pun sempat selama ratusan tahun menikmati komunikasi rasa.

Itu dulu…

Manusia modern menolak ide Citarum yang hidup…

Karena itu, manusia modern tidak tahu berterimakasih kepada Citarum. Sungai yang telah memberikan sandang, pangan, papan, dan energi (listrik) itu merana.

Kita membuang sampah dan feses ke Citarum. Pabrik-pabrik membuang limbah seenaknya. Pohon-pohon ditebang. Hutan dibabat…

Karena memang secara komunikasi logika, tidak ada hantu atau jin di dalam hutan…

Karena secara logika dan inderawi, Citarum tak terlihat atau terdengar menangis…

Bahkan rasa berterimakasih disalahpahami sebagai musyrik… Padahal Allah sudah menyatakan jangan merusak alam.

Maka jangan salahkan kalau kemudian Citarum pun tidak berterimakasih kepada kita. Banjir, penyakit kulit, ikan beracun, air berlimbah adalah buah dari permusuhan kita dengan Citarum. Permusuhan dengan alam hanya akan melahirkan rantai bencana ekologis. Chained ecological disaster, kata National Geographic, mah. Adalah juga yang terjadi pada masa Firaun…

Bagaimana menyelamatkan  lingkungan hidup kita?

Mulailah berkomunikasi sambung rasa dengan lingkungan terkecil.

Bersihkan selokan…
Tanam satu pohon..
Sirami…

Berdendanglah tentang pohon dan buahnya…
Amati dari ke hari bagaimana mahluk cicing ini tumbuh…

Duduklah sesekali di pinggir sungai…
Tataplah gerak airnya…
Dengarkan gemericiknya…
Rasakan apakah itu gemericik gembira atau gemericik rintihan karena harus mengangkut beban sampah dan racun..

Duduklah di jembatan sungai…
Rasakanlah apakah kini jembatan itu sebagai jembatan tali kasih, ataukah jembatan sekadar penyambung transportasi polutif. Di Dayeuh Kolot, jembatan ini malah jadi tempat pembuangan sampah…

Marilah sayangi Citarum, Cikapundung, dan sungai-sungai lainnya…

Marilah bersambung rasa dengan alam…***

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.