Mengucapkan Selamat Hari Raya pada Non-muslim: Motivasi Anda?

(Gambar: dreamstime.com)

Beberapa diantara kita mungkin pernah mengalami perasaan dilematis saat teman, tetangga atau relasi berbeda agama kita merayakan hari rayanya. Dilema karena bingung antara mengucapkan ‘selamat’ atau tidak, juga karena ketidakyakinan bagaimana hukumnya dalam Islam.

Ustadz Yajid Kalam, manajer DIvisi Pelayanan dan Dakwah ITB, mengungkapkan bahwa dalam sudut pandang Islam sendiri ada dua pendapat. Pendapat pertama yaitu yang memperbolehkan, yang kedua yaitu yang tidak memperbolehkan.

Yang mengatakan boleh memandang bahwa ucapan selamat itu hanya sekadar bagian dari pergaulan sosial, sehingga boleh-boleh saja. Sementara yang mengatakan tidak boleh berpendapat bahwa apabila hari raya itu berkaitan dengan keyakinan, maka ketika kita mengucapkan selamat, artinya sama dengan mengakui keyakinan tersebut. Sedangkan dalam Islam sendiri untuk urusan keyakinan, umat Islam harus tegas bahwa ini keyakinanku, itu keyakinanmu.

Lantas, yang mana yang harus kita ikuti?

Menurut Ustd. Yajid, kalau seseorang memandang bahwa ia mengucapkan ‘selamat’ sebagai pengakuan terhadap akidah dari agama lain, jelas itu tidak boleh. Namun, apabila ketika ia mengucapkan ‘selamat’ dan ia memandang hanya sebagai pergaulan sosial, itu boleh saja.“Jadi akhirnya ketika orang melakukan itu, lebih cenderung kepada motivasinya apa,” tegas Ustadz Yajid.

Sementara untuk hukum menjawab salam yang disampaikan umat agama lain kepada umat Islam, itu juga ada dua sudut pandang. Pertama, salam sebagai sapaan, kedua salam sebagai doa. Apabila salam itu sebagai sapaan seperti ‘selamat pagi’, ‘selamat malam’, ‘hai’, ‘hallo’, maka kita jawab sebagaimana mereka menyapa, sebab sapaan ini sudah jelas sebagai bagian dari etika pergaulan.

Etika dalam Islam, mendoakan yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, spiritual dan keagamaan pada umat agama lain, hanya berlaku dalam satu hal. Yaitu, mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dan hidayah. Sehingga ketika ada umat lain yang mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’ yang berarti salam berupa doa, maka secara umum jawaban kita yaitu, “Assalamu’ala manittaba’alhuda” yang artinya ‘kehormatan bagi yang mengikuti petunjuk’.

Untuk dua permasalahan di atas, Ustadz Yajid menegaskan bahwa titik intinya yaitu pemisahan antara ranah sosial kemanusiaan dan ranah akidah.“Ketika kita berada di wilayah sosial kemanusiaan, maka tidak ada masalah. Ketika kita sudah masuk ke wilayah akidah keagamaan, maka kita sudah masuk ke ‘lakum diinukum waliyaddiin’.”

  • rosikh

    Assalaamu`alaikum Ustad, mhon penjelasan tentang statement terakhir berikut ini..

    “Untuk dua permasalahan di atas, Ustadz Yajid menegaskan bahwa titik intinya yaitu pemisahan antara ranah sosial kemanusiaan dan ranah akidah.“Ketika kita berada di wilayah sosial kemanusiaan, maka tidak ada masalah. Ketika kita sudah masuk ke wilayah akidah keagamaan, maka kita sudah masuk ke ‘lakum diinukum waliyaddiin’.””

    Saya berkeyakinan bahwa dalam menjalankan ajaran agama Islam itu tdk ada pemisahan antaranya ranah sosial kemanusiaan dan ranah akidah. Karena Islam itu menyeluruh, melingkupi seluruh aktifitas manusia, sebagai makhluk pribadi (hamba Allah) dan makhluk sosial (bermasyarakat).

    Jika kedua ranah itu terpisah, apa yang saya pikirkan bahwa sesorang hanya berakidah Islam ketika beribadah ritual, namun dalam pergaulan sosialnya, dia berada di luar ketentuan Islam.

    Mhon pendapat Ustad, terutama untuk menjawab hal ini alangkah lebih baik disertakan contoh/ sunnah Nabi Muhammad SAW dalam bergaul dengan umat non Islam. Mhon maaf jika ada yang kurang berkenan, terima kasih Ustad.
    Wassalam,

  • nugraha

    assalamu’alaikum..

    apakah pendapat yg membolehkan itu berasal dari al Qardhawi?

    http://ustadzaris.com/selamat-natal-bolehkah-sanggahan-untuk-al-qardhawi

    Allahualam

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.