Berlin, Kota Mega Kultur di Belahan Eropa Barat

Brandenburger tor, pusat kunjungan turis di Berlin, gerbang bersejarah yang menjadi lambang kota Berlin. (Foto: Ulfah Mardiah)

Oleh : Ulfah Mardiah*

Empat bulan terakhir, setelah memulai program doktor, saya tinggal di Berlin. Dibandingkan Bremen, kota tempat saya menyelesaikan program master, Berlin jauh lebih besar dan kompleks. Kalau dulu dengan jalan kaki selama 30 menit bisa menelusuri semua bagian penting kota Bremen, sekarang 30 menit habis buat perjalanan menuju pusat kota saja.

Awalnya tentu ini membuat saya shock dan agak stress karena terbiasa dengan kota kecil yang saya kenal dengan baik hampir setiap sudutnya. Ketika beralih ke kota Berlin yang serba besar, penuh manusia, transportasi yang jauh lebih kompleks, banyak mobil dan berdebu (dibandingkan dengan Bremen, bukan Jakarta), rasanya agak bikin hati penat dan kangen dengan kota kecil seperti Bremen.

Berlin, kota termurah di antara ibukota negara-negara Eropa Barat

Tapi, hanya butuh satu bulan tambahan untuk akhirnya jatuh cinta dengan kota yang satu ini. Ada beberapa alasan yang turut berkontribusi untuk membuat siapa pun yang tinggal di kota ini jatuh hati. Pertama, dibanding ibukota di Eropa Barat lainnya, bisa dijamin, Berlin adalah kota termurah. Katanya ini karena sejarahnya yang sebagian pernah menjadi bagian dari Jerman Timur (dan posisinya di Jerman pun memang di bagian timur).

Waktu dua orang teman saya dari Kopenhagen (Denmark) dan Gent (Belgia) berkunjung, saya mengajak mereka pergi makan ke restoran Italia. Untuk makan tiga orang, lengkap dengan minuman kami membayar maksimal 20 euro atau sekitar Rp 210 ribu saja.

Biaya hidup sekitar 600 euro per bulan bisa dibilang cukup murah untuk ukuran Jerman. Diskon di mana-mana, ditambah dengan berbagai macam toko 1 euro. akomodasi yang terbilang murah, dan memang yang paling penting harga makanan yang membuat kenyang tapi tetap terjangkau.

Keanekaragaman budaya a la Berlin

Kedua, kota yang satu ini terbilang ramah dalam berbahasa Inggris. Sewaktu saya membeli buku, si penjual tanpa segan-segan langsung meladeni dengan bahasa Inggris. Normalnya bukan seperti ini kejadiannya. Biasanya untuk membuat mereka berbahasa Inggris harus melibatkan wajah bingung, kata-kata ‘Would you mind speaking in English, please?’, itu pun sering ditambah wajah masam karena mereka terpaksa berbahasa Inggris. Mungkin karena banyak orang asing yang tinggal di Berlin, bahasa Inggris banyak dipakai tanpa wajah muram (kecuali kalau kamu pergi ke kantor pemerintahan!).

Kabarnya, beberapa tahun terakhir ini, Berlin banyak mengundang bukan hanya turis, tetapi juga penduduk tetap dari Amerika Serikat.  Setiap kali s-bahn1 atau u-bahn2 melewati daerah turis sepanjang Potsdamer Platz-Alexanderplatz3, seolah-olah kita dibawa ke pot kultur raksasa tempat berbagai bahasa dunia turut tumpah ruah.

Ketiga, Berlin memang bukan tempat dengan banyak daerah wisata seperti London. Tidak seeksotis Madrid. Bukan juga kota romantis seperti Paris atau Budapest. Tapi Berlin merupakan salah satu kota tempat banyak orang eksentrik bisa hidup dan tinggal bersama tanpa perlu dipandang aneh. Boleh dibilang, kota ini merupakan tempat orang dari berbagai latar budaya, suku, agama yang bisa hidup bersama-sama.

Karena biaya hidup yang terbilang murah di Berlin, banyak artis muda yang memutuskan untuk memulai berkarir dari Berlin. Jadi, kalau kamu berjalan ke pusat kota, bisa dipastikan berbagai jenis mode berpakaian. Bahkan, mode yang paling aneh sekalipun menjadi terlihat biasa. Dampaknya, hal tersebut membuat orang yang berjilbab seperti saya pun tidak dianggap aneh.

Di restoran Italia yang sebut di awal tulisan ini, pelayan, koki, dan manajemennya berasal dari Italia, Sudan, dan Mesir. Di salah satu daerah yang paling ramai dengan orang asing seperti di Kreuzburg, bisa dijamin kamu bisa mencicipi berbagai penganan. Makanan yang dijual disana berasal dari Afrika, Korea Selatan, Meksiko, hingga Vietnam dan Thailand. Hal tersebut membuat saya selalu bingung kalau ditanya, ‘Jadi, makanan khas Jerman apa Fah?’ saking banyaknya pengaruh budaya asing di sini. Semuanya tumpah ruah membuat Berlin terasa begitu kaya dengan keanekaragaman.

Mungkin ini baru bagian pertama dari sedikit cerita saya tentang kota ajaib ini. Ada banyak hal lain yang ingin saya bagi tentang Berlin. Semoga betah dalam mendengar kisah-kisah selanjutnya!

 

1. s-bahn: Stadtschnellbahn (city rapid railway/ kereta cepat)

2. u-bahn: Untergrundbahn (underground railway/ kereta bawah tanah)

3. Postdamer Platz-Alexanderplatz: daerah pusat kota Berlin yang paling populer di kalangan turis.

 

*Penulis merupakan mahasiswi tingkat doktoral di University of Berlin. Penulis juga merupakan alumni Salman.

 

About author
Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.
1 comment on this postSubmit yours
  1. ga sabar sama cerita selanjutnya :D

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.