Belajar Arti Kata Bangkit dari Hafalan Shalat Delisa

(Gambar: riwid.com)

Tepat hari Ibu, 22 Desember 2011 lalu film Hafalan Shalat Delisa diputar serentak di bioskop di seluruh Indonesia. Film bergenre drama ini sengaja diputar perdana pada akhir bulan Desember, untuk mengenang bencana Tsunami yang melanda Aceh tujuh tahun silam.

Film Hafalan Shalat Delisa diangkat dari novel fiksi dengan judul yang sama karya Tere Liye. Novel tersebut terbit pada tahun 2005. Entah apa alasannya hingga Sony Gaokasak baru membuat film ini 6 tahun setelah buku ini terbit. Padahal sejak 2 tahun novelnya terbit, bukunya sudah hampir 4 kali cetak.

Kehidupan Delisa

Sebelum Tsunami datang, hidup Delisa dipenuhi dengan canda dan cemburu yang wajar antarsaudara. Delisa punya 3 orang kakak. Fathimah yang diperankan oleh Ghina Salsabila yang paling besar, lalu Zahra yang diperankan oleh Riska Tania Apriadi dan Aisyah oleh Reska Tania Apriadi. Dengan Aisyah-lah Delisa sering terlibat perselisihan kecil walau hanya masalah sepele.

Delisa juga sangat tomboi. Tidak seperti kawan-kawan perempuannya, ia  sangat gemar bermain bola bersama anak lelaki.  Tak ayal, ia pun menjadi pemain bola perempuan satu-satunya dalam tim. Walau begitu, ia tak mau menjadi penjaga gawang. Keinginannya selalu ingin menjadi penyerang.

Film ini memperlihatkan karakter Delisa yang kuat. Sifatnya yang riang, ceria, nakal dan polos menggambarkan semua itu. Karena perbedaan sifatnya dengan kakak-kakaknya lah sang Ummi begitu menyayangi si Bungsu. Bahkan ketika Abi-nya yang diperankan oleh Reza Rahadian, berniat membelikannya sepeda, Aisyah sang kakak kontan cemburu, karena selain akan mendapat kalung, Delisa juga akan mendapatkan sepeda baru.

Namun sayang, semua tak jadi ia dapatkan. Tsunami menelan semua yang dicintai Delisa. Rumah, ummi, saudari-saudarinya, teman-temannya, tanah kelahirannya, semuanya, termasuk kaki kanannya.

Tsunami tersebut menggemparkan seisi dunia. Setiap orang berbondong-bondong memberikan bantuan untuk Aceh. Tak terkecuali dari negara-negara lain, termasuk Amerika. Smith yang diperankan oleh Mike Lewis adalah salah seorang tentara yang diperbantukan untuk misi kemanusiaan di Aceh.

Smith pula yang menemukan Delisa yang terdampar di karang. Hal tersebut membuat Delisa bersahabat dengan Smith. Delisa juga bersahabat baik dengan Sophie, seorang suster yang juga berkebangsaan Amerika. Persahabatannya tersebut membuat keceriaan Delisa kembali.  Ia mampu tersenyum lagi. Bahkan, ia mampu menularkannya kepada abi-nya, ustadznya, juga teman-temannya.

Semangat Delisa yang Menular

Dari karakter Delisa, film ini mengajarkan apa arti kata “bangkit”. Ketika guru mengajinya pun hampir putus asa bagaimana nantinya nasib Aceh dan seluruh rakyatnya, Delisa mengajarkan bagaimana pulih dari duka. Ia pun kembali bersemangat. Karakter Delisa membuat semua orang jatuh hati padanya. Termasuk Smith yang pernah kehilangan anak dan istrinya, juga suster Sophie yang merawat Delisa hingga pulih.

Setelah kesedihan Delisa yang ditinggal ummi dan seluruh saudarinya, ia kembali bersemangat. Pasalnya Delisa sungguh polos untuk mengerti arti kehilangan yang sesungguhnya. Pikiran anak-anaknya sudah senang jika ummi dan saudari-saudarinya tenang di surga sana. Tempat yang dijanjikan Allah untuk orang-orang yang sholeh dan sholehah. Bahkan, tanpa kesedihan ia mengajak teman-teman sepermainannya untuk bermain bola seperti dulu, walau kini kakinya tinggal satu.

Akting yang Tampak Nyata

Salah satu harapan saat orang menyaksikan film yang diangkat dari novel adalah untuk melihat visualisasi dari khayalan akan novel tersebut. Nyatanya ekspektasi tersebut tak mampu dipenuhi oleh film tersebut.

Di samping itu, nuansa yang diciptakan oleh film tersebut tak cukup untuk membuat para penonton menangis terharu. Ketika saya baru saja menitikkan air mata dan ingin menuntaskan emosi saat menonton sebuah adegan yang memilukan dengan menangis, gambar di layar segera berganti menjadi adegan yang datar.

Hasilnya, penonton tidak merasakan emosi yang luar biasa ketika menontonnya. Seperti tidak ikut larut dalam film. Padahal yang saya harapkan ketika menonton film ini adalah ikut merasakan apa yang para korban rasakan.

Setelah menonton film ini rasanya tangis saya belum mencapai klimaksnya. Meski mata saya merah akibat menangis ketika keluar bioskop, tetap saja saya merasa kurang puas terhadap film ini.

Sebelumnya saya sempat menonton sebuah program di televisi yang membahas film ini. Tokoh di balik layar yang dihadirkan adalah sutradara film dan Reza Rahadian. Sang sutradara mengatakan bahwa tidak ingin terlalu mengekspose kesedihan, karena khawatir akan membuka kembali luka lama bagi para korban bencana Tsunami Aceh.

Saya kurang sependapat, karena film akan kurang bagus ditonton jika dibuat dengan tujuan yang setengah-setengah. Di satu sisi tidak ingin membuat para korban trauma, namun di sisi lain ingin membuat para penonton lainnya ikut merasakan kepedihan para korban. Hasilnya jadi kurang maksimal.

Setelah mendapat kekecewaan akan film ini, ada beberapa kelebihan yang membuat film ini berarti di mata saya. Adalah sebuah adegan yang membuat saya menitikkan air mata ketika menontonnya. Salah satunya adalah ketika Delisa mengatakan “Aku cinta ummi karena Allah” seraya memeluk sang Ummi seusai shalat berjamaah.

Subhanallah, sejuk sekali mendengarnya. Walau ternyata perkataan itu bukan murni dari Delisa, melainkan saran dari sang Ustadz yang diperankan oleh Fathir, namun tetap saja kalimat tersebut membuat terharu bagi siapa saja yang mendengarnya.

Atas semuanya, kekurangan film ini cukup tertutupi oleh akting yang bagus dari para pemainnya, seperti Chantique dan Reza Rahadian. Apalagi Reza seperti telah mendalami peran begitu dalam hingga aktingnya benar-benar nampak nyata.

Mimik mukanya berhasil menyihir penonton menaruh iba padanya atas kesedihan hebat ditinggal seluruh keluarga. Pilu yang melandanya bukan main menyakitkan saat ia menangis, begitu sampai di tanah lapang, bekas rumahnya dulu. Selain itu, film ini juga mampu membuat catatan historis mengenai bencana nasional terbesar yang terjadi pada tahun 2004 lalu.

Film ini sangat cocok ditonton bagi para keluarga yang ingin mengajarkan nilai dan moral yang baik untuk anak-anaknya sejak dini. Termasuk arti dari sifat keberanian dan ketulusan. Film yang sarat akan makna ini sangat direkomendasikan untuk semua kalangan. Selamat menonton! [Ardhani Reswari]

 

Tags ,

One Comment;

*

*

Top