Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (I): Merangkai Pagi dan Petang

(Gambar: writemindful.tumblr.com)

Terdapat tiga surat dalam Juz ‘Amma yang berturutan sekaligus membahas fenomena yang sama. Ketiga surat tersebut adalah As-Syams, Al-Lail dan Ad-Dhuha. Surat Asy-Syams telah dibahas sebelumnya. Dua surat terakhir akan dibahas dalam artikel ini.

Dalam diskusi tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail, hadir Dr. Moedji Raharto, Ketua Program Studi Astronomi ITB selaku pembahas aspek isyarat ilmiah. Sementara pembahasan dari aspek bahasa kembali dibawakan oleh Ustadz Aceng Saefuddin dan Ustadz Zulkarnain dari Tim Tafsir DPD Salman ITB.

Sebelum masuk ke pembahasan aspek isyarat ilmiah, pada bagian awal ini akan dipaparkan tinjauan kedua surat tersebut dari ilmu balaghah oleh Ustadz Aceng. Beliau memulai dari Surat Al-Lail ayat pertama:

(1) Wal laili idzaa yagsha “Demi malam apabila sedang meliputi”.

Menurut sebagian ulama ahli fiqh dan ulama ahli falak,  yang disebut lail (malam) ialah posisi 18° Matahari setelah ghurub (tenggelam)  atau  72  menit dari awal waktu magrib.  Kata yagsha  adalah  kata kerja berbentuk  fi’il mudhori yang  menerangkan waktu “sedang” atau “akan”. Untuk mengetahui mana  di antara dua waktu tersebut yang dimaksud dalam ayat ini, maka terlebih dahulu kata idza sebelum kata yagsha harus dikaji.

Fungsi kata idza yang paling umum adalah zharaf (keterangan), dalam hal ini keterangan waktu. Kata idza juga mempunyai makna syarat yaitu “apabila” dan “jika nanti”.  Kata idza termasuk  ke dalam kata kerja. Menurut  ulama ahli nahwu (tata bahasa Arab), apabila kata idza berada  setelah  kata  sumpah  maka makna waktunya menjadi “sedang”, sebab  sumpah  bersifat insha (menuntut sesuatu) bukan ikhbar (berita).

Tashbih dan Isti’arah

Berdasarkan uraian tersebut, terjemahan yang paling tepat bagi ayat ini dari sisi waktu adalah “Demi malam apabila sedang meliputi”. Dalam terjemahan yang lain yagsha diartikan “menyelimuti” atau “menutupi”. Jika kata yagsha diartikan “menyelimuti” atau “menutupi”, maka di sini tersimpan makna tashbih dan isti’arah.

Tashbih bermakna menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, sedangkan isti’arah ialah meminjam suatu makna kata untuk makna kata yang lain. Dalam hal ini malam diibaratkan kain, mirip dengan makna dalam Surat An-Naba’ ayat 10 (wa jaalna laila libaasaan: dan kami jadikan malam sebagai pakaian). Kata yagsha yang artinya “meliputi” dipinjamkan menjadi makna “menyelimuti”.

(2) Wan nahaari idzaa tajallaDemi siang apabila telah jelas atau terbuka”.

Apabila dikaji mendalam, sebenarnya kedua ayat ini mengandung makna majaz bil hadzfi (membuang kata). Secara bahasa semestinya ayat pertama berbunyi: Wadzulmatil laili idza yagshaDemi gelapnya malam apabila telah menyelimuti/meliputi”. Sementara ayat kedua seharusnya berbunyi Wadhouinnahari idza tajallaDemi terangnya siang apabila sudah tampak”. Kata tajalla berpola tafa’ala. Menurut sebagian ahli morfologi (shorof), bentuk tafa’ala bisa bermakna fa’ala yang dapat diartikan tawajuh atau “menghadap”. Jadi idza tajalla artinya “menghadap ke keadaan yang jelas”.

Aceng juga sedikit menjelaskan makna tajalla atau tafa’ala. Makna tajalla dari sisi ilmu shorof bisa berarti muthowa’ah yaitu “menerima dengan jelas”, bisa berarti tholab yaitu “mencari kejelasan”, bisa juga tajannub yaitu “menjauh dari kejelasan”. Kata tersebut bisa juga diartikan dengan ta’diyyah yaitu “menjelaskan”. Makna terakhir ini diperkuat dengan Surat Asy-Syams ayat 3 (wan nahaari idza jallaaha: dan siang apabila menampakkannya), hanya saja ditambahkan makna taktsir (banyak) sehingga menjadi “banyak menjelaskan”.

Jika dikaji dari sisi ilmu badi’ (stilistika), Surat Al-Lail menurut Aceng banyak menggunakan badi’ muqobalah. Kata-kata disusun kemudian diikuti dengan perbandingannya, seperti malam yang menutupi dibandingkan dengan siang yang sudah terang. Orang yang pemurah, takwa dan membenarkan Islam dimudahkan urusannya. Sementara orang yang bakhil, berkecukupan namun mendustakan Islam maka dipersulit urusannya.

Manajer Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

One Comment;

*

*

Top