Negeri 5 Menara: Membacanya, Bagai Menatap Masa Lalu

(Gambar: id.wikipedia.org)

Sebuah buku berjudul negeri 5 menara terpajang di rak buku kamar temanku. Kupinjam. Sebelumnya aku pernah menonton ulasannya di Kick Andy, tapi tak sampai habis kuikuti episode itu. Sekilas kutahu buku itu berkisah tentang kehidupan di Pondok Pesantren.

Aku jadi tertarik karena aku pun berasal dari pesantren. Buku ini juga pernah dibedah oleh salah seorang teman di Aksara, oleh uni Yuwelda Bachtiar.  Karena mereka tahu aku berasal dari pesantren, seketika aku diberondong oleh pertanyaan-pertanyaan seputar pondok. Aku pun harus fair,menceritakan tak hanya hal-hal baiknya saja di pesantren, karena aku tak ingin mereka salah persepsi.

Membaca buku negeri 5 menara ini, aku bagai menatap masa laluku. Ya, aku pernah mondok di sebuah pondok pesantren modern dan terbesar di Banten. Disana aku belajar selama 6 tahun. Daar El-Qolam nama pondok pesantrennya dan biasa disingkat Darqo. Masuk tahun 2000 dengan duduk di kelas 1 MTs hingga tamat SMA dan lulus tahun 2006. Ketika baru sekitar 1 atau 2 tahun di pondok, jenjang SMA sudah diakui di Darqo. Jadi tidak hanya MA yang lumrah di banyak pesantren.

Pemimpin pondok pesantren saat itu adalah pak Kiyai Amad Syahiduddin. Sedangkan pendirinya adalah pak Kiyai Ahmad Rifai Arif yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Beliau juga lulusan Gontor, sama seperti Alif. Mungkin dengan punya latar yang sama, pak kiyai Arif mengadopsi peraturan dari Gontor, walau telah banyak dilakukan perubahan. Sebenarnya aku pun tak tau pasti bagaimana peraturan di Gontor, tapi dari novel ini yang berlatar dari kisah penulisnya sendiri yaitu Gontor, tahulah aku bahwa peraturannya tak jauh berbeda.

Istilah jasus, jaros, broken language sebenarnya tak asing bagiku. Faktor waktu lah yang membuatnya menjadi kenangan tersendiri dalam memoriku. Kini aku sedang menjalani proses skripsiku di sebuah kampus bernama Unikom di Bandung. Jadwal kuliah yang padat dan aktifitas luar kuliah yang cukup menyita waktu, membuatku sedikit demi sedikit melupakan kenangan semasa di pondok. Padahal baru 4 tahun aku meninggalkannya.Terakhir kali aku menjenguk pondok kira-kira 2 tahun yang lalu, saat wisuda dan pelepasan santri kelas 6 tahun itu.

Waktu semasa di Darqo tak bisa disebut indah tak pula bisa dikatakan pahit. Aku cenderung pasif. Tidak seperti Alif, tokoh utama dalam novel tersebut yang sangat menjunjung tinggi kalimat sakti itu. Man jadda wajada, siapa yag bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Hingga akhirnya kalimat tersebut berimbas baik pada kehidupannya setelah lulus dari pesantren. Sukses menjejakkan kaki hingga ke Inggris, sesuai impiannya.

Disini aku coba mengangkat kehidupan teman-temanku yang bertolah belakang dari Alif. Terlahir dari keluarga broken home, mungkin juga sebagai anak gaul ala metropolitan yang akhirnya melanggar peraturan pondok. Kalau aku?… hm, terlalu alim sepertinya untuk melanggar peraturan pondok. Sudah kukatakan pula di awal kalau aku cenderung pasif, apalagi di 3 tahun terakhir di pondok.

Bagi Alif dan teman-teman sahibul menara-nya, hukuman botak adalah hukuman berat pula memalukan, tapi tidak dengan beberapa temanku. Mereka bahkan memasang senyum tujuh senti-nya, kemudian difoto bersama teman yang dibotak lainnya. Mereka kirimkan foto itu kepada orang tuanya. Entah ingin menarik perhatian orang tuanya yang sengaja ‘membuang’ mereka di pesantren atau mengatakan secara tidak langsung kalau mereka tidak betah di pondok. Aku menggunakan kata ‘membuang’ karena mereka sendiri yang merasa demikian, padahal menurutku bisa jadi persepsi mereka salah dengan tindakan orang tua mereka.

Aku pun pernah merasa sangat depresi berada di pondok, pernah pula merasa sangat beruntung masuk pondok. Tak kalah dengan SMP atau SMA kebanyakan, hidup di pesantren juga penuh dengan warna-warni. Aku pernah merasakan juga bagaimana rasanya menunggu wesel seperti Alif. Aku yang berasal dari Palembang harus bersabar menunggu kiriman datang, karena belum tentu setahun sekali orangtuaku datang menjenguk. Berbeda dengan mereka yang berasal dari daerah-daerah yang dekat seperti Jakarta, Bandung, atau Tangerang. Seminggu sekali orang tua mereka bisa datang, memberi uang jajan atau stok makanan yang banyak untuk persediaan di asrama. Ah, iri benar aku saat itu.

Ketika merasa iri seperti itu, aku tetap dapat terhibur di pondok. Banyak sekali ekstra kurikuler yang disediakan. Kalau aku malas ikut CEC (Creative English Course) atau al-Azhar (sebuah ekstra kurikuler seperti kursus bahasa inggris dan bahasa arab) kadang aku mengajak temanku untuk menonton pasukan Marching Band yang sedang latihan di Aula saat itu, atau biasa disebut maidan atau masroh.

Lalu, aku juga merasakan apa yang dirasakan Alif, menonton dan ditonton pada Nihai Show, sebuah pertunjukan seni yang semua pemainnya diisi oleh santri kelas 6 atau setara dengan kelas 3 SMA. Ada pula setelah pekan perkenalan santri baru usai, ada Malam Seni Santri diadakan. Teater, band, marawis, hingga lawak ada disana.

Belum lagi pondok sering mengadakan berbagai kegiatan walau peserta acaranya bukan dari pondok. Seperti waktu itu ada lomba nasyid se-Banten, menghadirkan Qori’ Internasional pula, hingga idola Ikal pun dihadirkan, Rhoma Irama.

Senangnya kalau hari-hari besar Islam tiba. Maulid nabi, peringatan Isra Miraj hingga Idul Adha. Pondok sungguh meriah kala itu. Banyak sekali acara diselenggarakan, mulai dari lomba pidato bahasa arab dan inggris, menghias asrama waktu idul adha, lomba bikin mading antar kelas, sampai lomba takbiran antar rayon atau lomba tabuh bedug. Sungguh ngangenin suasananya.

Satu hal yang kusyukuri hingga sekarang adalah hingga detik ini, jilbabku tak pernah lepas kemanapun aku pergi. Banyak teman-temanku yang melepas jilbabnya ketika keluar dari pondok, bahkan mereka yang menyerah di tengah perjuangan menuntut ilmu selama 6 atau 4 tahun. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin masuk SMA favorit, tapi seandainya saja aku tidak masuk pondok selepas SD, mungkin aku belum berjilbab hingga berumur kepala dua seperti saat ini. Aku jadi teringat salah satu ayat di surat Ar-Rahman. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?

Ada pula beberapa yang kusepakati dari novel ini. Ilmu yang diajarkan benar-benar membuka mata hati. Pelajaran yang tak pernah diajarkan di luar pondok pesantren. Tafsir, kitab kuning, ilmu faroid, khot, sampai pidato bahasa inggris dan arab. Kalau ustadz Indra Jaya atau Ustadzah Eva Latifah sudah menerangkan sejarah peradaban islam, aku sangat antusias. Dinasti yang silih berganti, raja-raja yang terpuruk, bahkan raja yang tingkat kejayaan kerajaannya minta ampun. Seperti Umar bin Abdul Aziz idolaku dari dinasti Umayyah. Sampai tiba waktu mengeluarkan zakat, harus jauh-jauh ke afrika karena semua rakyatnya sudah merasa mampu mengeluarkan zakat.

Buku-buku selama di pondok masih kusimpan, walaupun beberapa sudah hilang dan banyak dimakan rayap. Tentu kau ingat betul dengan kamus Munjid yang tebalnya seperti bantal itu. Kitab 3 jilid Fiqih Sunnah berbahasa arab, pun kitab Tafsir Munir. Seandainya saja ada yang mau membeli bukuku itu semahal apapun, aku takkan pernah mau melepasnya. Cita-citaku adalah membuat perpustakaan semasa hidupku. Negeri lima menara membuat lembaran kisah hidupku terbuka kembali dan melukis sebuah senyum di bibirku. Terimakasih untuk temanku Sari Asih Rahmawati yang telah meminjamkan buku ini. Walau aku tak terlalu sering membeli buku karena uang saku yang tidak tebal, setidaknya aku sering pinjam buku. Long life learning! (Ardhani)

*

*

Top