Tafsir Surat Al-‘Ashr (IV): Lembar-Lembar Masa

sumber gambar http://www.lifehack.org/

Sebelumnya, surat ini dikupas dalam tinjauan astronomi, maka berikutnya giliran ilmu geologi yang digunakan untuk menggali maknanya. Pembahasan dari sudut pandang geologi ini dibawakan oleh Dr.Eng. Teuku Abdullah Sanny, dosen Program Studi Teknik Geofisika ITB.

Terjemahan wal ‘ashr sebagai “Demi Masa” sangat menarik menurut Sanny karena, “menyangkut framework besar kerangka ilmu pengetahuan kebumian.” Sejarah panjang ilmu kebumian telah memetakan lembaran-lembaran lapisan batuan di Bumi. Pemetaan ini menurut Sanny telah menjadi diktum ilmu pengetahuan yang belum terbantahkan sampai saat ini. Seluruh sejarah alam semesta ini terekam dalam batuan.

Para ilmuwan membaca lapisan-lapisan batuan itu untuk menyelidiki Bumi. Sebab, baik sifat magnetik, sifat gravitasi, kelistrikan, maupun sistem pengendapan yang hadir di Bumi sebelum batu itu muncul, semuanya tercetak dalam batuan ketika ia terbentuk. Ada tiga kelompok batuan besar yang menutupi permukaan Bumi ini. Ketiganya adalah batuan beku, batuan metamorfosa, dan batuan sedimen. Batuan sedimen paling banyak merekam informasi tentang waktu. Batuan ini misalnya, dapat menunjukkan pola ombak (ripple). “Dengan membaca pola tersebut, saya bisa menentukan arah arus ombak, waktu dan pada kedalaman berapa batuan ini berada,” papar Sanny.

Untuk memahami kondisi batuan di bawah permukaan, digunakanlah metode eksplorasi yang memanfaatkan sifat gravitasi, magnetik, elektrik, dan elektromagnetik. Maka ilmu geologi berkembang begitu pesat. Ilmu ini sekaligus dipakai untuk mencari aneka barang tambang yang kita butuhkan, seperti emas, perak, tembaga, dll. Tidak ada strata/lapisan yang tidak terekam jika manusia mampu meningkatkan sensitivitas dan kemampuan dalam mengukurnya.

Para ahli geologi dan fisika menggunakan waktu peluruhan atom uranium (U) dan karbon (C) sebagai metode penentuan waktu secara mutlak. Hasil penentuan tersebut kemudian dijabarkan berturut-turut ke dalam eon, era, periode dan epos geologis. Masing-masing bagian memiliki fosil-fosil penanda tertentu.  Contohnya, trilobit, fosil paling tua dari Zaman/Periode Kambrium (577 juta tahun yang lalu). Trilobit adalah makhluk bersel satu pertama yang memiliki cangkang sehingga dapat terekam dalam batuan dengan jelas.

Trilobit hidup di air. Kehidupan di Bumi ini berdasar kesimpulan para ilmuwan, memang berawal di air. Binatang-binatang baru mulai merangkak ke darat pada Zaman Silurian. Pada masa itu ikan-ikan berjalan dengan kaki. Sebelumnya ikan tidak berkaki. Ternyata ikan yang berkaki ini masih ada sampai sekarang. “Saya pernah menyaksikannya sendiri ketika menikmati pemandangan anak Krakatau, seekor  ikan saya lihat berjalan dengan kaki, merangkak dari pantai ke darat,” tutur Sanny.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.