Dari sudut pandang sains astronomi, Dr. Moedji Raharto (Kepala Program Studi Astronomi ITB), menerangkan waktu sebagai salah satu dimensi di alam semesta ini. Sebagai sebuah dimensi yang terukur, waktu hanya bisa bergerak ke depan. Yang unik, alat pengukur waktu juga punya “keterbatasan waktu”. Jam yang mati tentu tidak bisa lagi dipakai mengukur waktu.
Waktu diukur dan ditandai berdasarkan siklus, khususnya siklus benda-benda langit. Misalnya, peredaran Matahari. Namun, karena gerak elipsnya yang rumit, maka digunakanlah model waktu Matahari rata-rata. Dalam model ini, Matahari dianggap beredar (sebenarnya Bumi yang berotasi dan berevolusi mengelilinginya) dalam bentuk lingkaran yang sempurna.
Gerak benda-benda langit membangun siklus yang berbeda-beda. Siklus yang berbeda-beda ini ditujukan untuk pengukuran yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh, untuk mencari posisi satu bintang tertentu, digunakan jam bintang (periode sideris), bukan jam Matahari. Dalam periode ini, yang menjadi patokan adalah periode pergeseran bintang tertentu.
Moedji juga menyinggung perbedaan sistem kalender sebagai implikasi dari perbedaan siklus-siklus tersebut. Kalender Qamariah mematok jumlah hari dalam satu bulan (berdasarkan peredaran Bulan mengelilingi). Sementara kalender Syamsiah mematok jumlah hari dalam satu tahun (berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi Matahari). Konsekuensinya, konsep “satu bulan” dalam kalender Syamsiah sebenarnya artifisial. Satu bulan Syamsiah diatur sedemikian rupa agar 12 bulan tepat sama dengan lama Bumi mengelilingi Matahari (sekitar 3651/4 hari). Karena itu, jumlah hari dalam bulan Syamsiah bisa berkisar dari 28-31.
Di luar ranah saintifik, Moedji mencoba memaknai waktu itu sendiri. Keuntungan atau kerugian waktu menurutnya tergantung pada sikap kita memaknai dan mengisi kehidupan. “Jika kita tidak ditunjuki oleh Alquran, maka rentang waktu yang demikian panjang akan bingung kita isi,” tambah Moedji. Konsep waktu dalam astronomi dibangun dari pengamatan peredaran benda-benda langit. Sejauh mana konsep tersebut beririsan dengan konsep waktu dalam Alquran, masihlah perlu digali. Wallahu a’lam bish shawab.





















