Tafsir Surat Al-’Ashr (II): Menyeru Kebaikan yang Berkesinambungan

Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak mampu memanfaatkannya maka ia yang akan menebas lehermu. (Foto: tokyotopia.com)

Istilah yang khusus dikupas berkenaan dengan konsep waktu dalam alquran dalam kata ‘ashr yang termuat dalam Surat Al-‘Ashr (surat ke-103) telah dikaji dalam artikel sebelumnya. Melanjutkan hal tersebut, para peserta diskusi melanjutkan penjelasan istilah-istilah kunci dalam ayat-ayat berikutnya. Hadir dalam diskusi di Rumah Alumni tersebut, Dr. Moedji Raharto (Kepala Program Studi Astronomi ITB), Ustadz Zulkarnain dan Ustadz Aceng dari Tim Tafsir Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB, dan Samsoe Basaroedin, anggota Tim Editor Tafsir Ilmiah Salman ITB.

Zulkarnain menjelaskan istilah-istilah kunci dalam ayat-ayat berikutnya. Kata al-insaan dalam ayat (2) mengambil bentuk ma’rifat (definitif) menunjuk kepada jenis-jenis manusia tanpa kecuali, baik mukmin maupun kafir. Adapun kata khusrin mempunyai banyak arti. Kata ini bisa bermakna rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan dan sebagainya. Kesemua makna tersebut mengarah kepada makna-makna yang negatif atau tidak disenangi oleh siapa pun.

Kata amanu atau al-iman berarti membenarkan (secara keyakinan) dalam hati apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. “Membenarkan” di sini menurut para ulama, mencakup pengikraran dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Sementara pasangannya, yaitu kata ‘amal, menggambarkan penggunaan daya pikir, fisik, qalbu dan daya hidup, dengan sadar oleh manusia dan jin. Kata ini dibedakan dari fa’alun yang digunakan Alquran untuk pekerjaan yang dilakukan tanpa kesadaran (biasanya oleh binatang), atau jika dinisbatkan kepada Allah, bermakna azab.

Kata shalih mempunyai arti dasar “sesuai dengan ketentuan” atau “bermanfaat”. Amal shalih artinya segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok dan manusia secara keseluruhan. Amal shalih juga berarti segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, Alquran dan atau as-sunnah.

Kata tawashau terambil dari kata washa atau washiyatan yang secara umum diartikan “menyuruh secara baik”. Kata ini berasal dari kata ardhun washiyatun yang artinya tanah yang dipenuhi atau berkesinambungan tumbuh-tumbuhannya. Jadi, ber-washiyat adalah: “tampil kepada orang lain dengan kata-kata yang halus, agar yang bersangkutan bersedia melakukan sesuatu pekerjaan yang diharapkan secara berkesinambungan”.

Zulkarnain kemudian mengutip sebuah syair Arab: “ Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak mampu memanfaatkannya maka ia yang akan menebas lehermu“. Waktu adalah modal utama manusia, apabila tidak diisi dengan kegiatan yang positif maka ia akan berlalu begitu saja. Jangankan beroleh keuntungan, modal pun hilang.

Manajer Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

Related posts

*

*

Top