Tafsir Surat Al-’Ashr (I): Di Penghujung Waktu

Foto: wallpapersmaster.com

Kitab Alquran mengupas waktu dengan cukup detil. Ada berbagai istilah dalam Alquran yang terkait dengan konsep “waktu”. Namun, dalam Diskusi Tafsir Ilmiah Salman Rabu sore lalu (28/09), istilah yang khusus dikupas adalah ‘ashr, yang termuat dalam Surat Al-‘Ashr (surat ke-103). Hadir dalam diskusi di Rumah Alumni tersebut, Dr. Moedji Raharto (Kepala Program Studi Astronomi ITB), Ustadz Zulkarnain dan Ustadz Aceng dari Tim Tafsir Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB, dan Samsoe Basaroedin, anggota Tim Editor Tafsir Ilmiah Salman ITB.

Pembahasan dibuka dengan paparan Zulkarnain tentang munasabah (kaitan) surat tersebut dengan surat-surat yang mengapitnya. Surat ini adalah surat Makkiyah yang turun sesudah Surat Alam Nasyrah dan sebelum Surat Al-Adiyat. Surat ini merupakan surat ke-13 dilihat dari segi urutan turunnya. Akan tetapi dalam urutan penyusunan mushaf Utsmani, surat ini terletak setelah Surat At-Takatsur. Dalam Surat At-Takatsur diterangkan bahwa setiap kenikmatan berupa umur, kekayaan, badan dan ilmu bakal dimintai pertanggungjawaban. Sedangkan dalam Surat Al-‘Ashr ini dijelaskan akan pentingnya menjaga waktu agar manusia tidak merugi di dunia maupun akhirat.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani melalui jalur sahabat Ubaidillah bin Hushain, diceritakan bahwa para sahabat Rasulullah Saw. tidak berpisah sebelum mereka saling membacakan surat ini kepada temannya. Imam Syafi’i pernah menyatakan  “ Seandainya umat Islam memikirkan kandungan surat ini niscaya (petunjuk-petunjuknya) mencukupi mereka.”  (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV hal. 550).

Waktu dan Perasan

Wal ‘Ashr (1) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran (3)”

Lebih lanjut, Zulkarnain menjelaskan tinjauan kebahasaan Surat Al-‘Ashr ini. Allah mengawali surat ini dengan kalimat sumpah (qasam) yaitu Wal ‘Ashr. Maknanya, surat ini seyogyanya mendapatkan perhatian lebih dari umat manusia. Kata Al-‘Ashr berasal dari kata ‘ashara. Kata ini berarti “menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan atau keluar”. Atau singkatnya:  “memeras”.

Jeruk yang diperas dan diambil sari (air)-nya disebut al-limuna ‘ashirun. Awan yang mengandung air dan siap untuk turun menjadi hujan disebut al-mu’shirat. Waktu perjalanan Matahari setelah melewati pertengahan, ketika manusia selesai dari aktivitasnya memeras keringat (berusaha), disebut al-‘ashr.

Para ulama sepakat bahwa kata al-‘ashr artinya adalah “waktu” atau “masa”. Namun mereka berbeda pendapat tentang waktu yang dimaksud. Pendapat pertama menyatakan bahwa ia adalah “waktu” atau “masa” secara umum, dimana langkah dan gerak tertampung di dalamnya. Pendapat kedua menafsirkannya sebagai waktu tertentu yakni waktu dimana shalat Ashar dapat dilaksanakan. Pendapat ketiga menyatakan bahwa istilah ini mengacu pada waktu atau masa diutusnya Rasulullah Saw., yang mendekati akhir zaman.

Sebenarnya menurut Zulkarnain, Alquran menyebut “waktu” dengan sejumlah istilah, bukan hanya ashr. Alquran misalnya menyebut waktu dengan al-ajl yang berarti batas waktu yang telah ditentukan. Ada pula istilah ad-dahr yang berarti waktu yang panjang. Istilah ini biasanya digunakan untuk perjalanan waktu dari masa terciptanya alam semesta sampai kiamat (lihat misalnya dalam Q.S. Al-Jatsiyaat:24). Alquran pun menggunakan kata al-waqt: batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Contoh penggunaan istilah ini dapat dilihat dalam Surat An-Nisaa:103 tentang shalat.

Lantas mengapa Allah bersumpah dengan kata al-‘ashr? Bukan dengan kata al-dahr atau al-waqt? Zulkarnain berpendapat, seolah-olah Allah ingin menyampaikan bahwa hasil apapun yang dicapai manusia setelah memeras keringatnya (tenaga), sesungguhnya ia akan merugi. Kecuali tentunya, jika ia beriman dan beramal sholeh. Kerugian itu mungkin tidak akan dirasakannya pada waktu dini, tetapi pasti akan disadarinya pada “waktu ashar” kehidupannya, menjelang Matahari hayatnya terbenam.

Manajer Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

Related posts

One Comment;

  1. Pingback: Tafsir Surat Al-’Ashr (II): Menyeru Kebaikan yang BerkesinambunganMasjid Salman ITB

*

*

Top