Tafsir Al-’Alaq: Hati dan Akal Sebagai Processor

Foto: alqorae.com

Foto: alqorae.com

Allah memberi kita alat baca berupa pancaindera, seperti mata, telinga, hidung dan yang lainnya. Dalam bahasa ilmiah, indera-indera tersebut adalah sensor. Pancaindera merupakan input. Baik buruk output kemudian tergantung pada pemrosesnya.

Pemroses tersebut adalah hati. “Akal hanyalah asisten,” ujar Iping. Akal tidak bisa mengatakan sesuatu itu benar atau salah. Akal hanya bisa membedakan baik atau buruk. Hatilah yang bisa memastikan sesuatu itu benar atau salah.

Mengutip Al-Ghazali, Iping menuturkan bahwa manusia bergerak dengan tiga pertimbangan. Ada kualitas baik (rasional), kualitas benar (spiritual), dan kualitas nyaman (emosional). Ketika kita membaca sesuatu, kita akan selalu menemukan ketiga kualitas ini.

Kadang kita menginginkan sesuatu yang nyaman dan baik,  dan mengesampingkan urusan benar-tidaknya belakangan. “Tergantung siapa yang menjadi raja, apakah aspek spiritual, aspek rasional, atau aspek emosional,” ujar Iping. Orang yang menjadikan spiritualnya raja bagi akalnya dan akalnya raja bagi emosionalnya, maka cara membacanya akan berbeda dari kebanyakan orang.

Iping memberikan contoh. Ketika lewat seorang perempuan cantik, aspek emosional akan mendorong seorang laki-laki untuk terus melihatnya. Aspek rasional bisa jadi mengatakan, “Apa gunanya sih, bisa jadi itu istri orang lain?”. Namun aspek spiritual menilai bahwa kita harus menghindari pandangan tersebut karena diri akan terkungkung oleh keinginan (syahwat).

Pembaca yang ideal, menurut Iping, adalah yang mendudukkan aspek spiritual sebagai sang raja. Akal menjadi asistennya, sedangkan emosi adalah petugas pencarinya. Emosi juga penting, karena tanpanya kita tidak akan bergerak ke mana-mana. “Yang tidak boleh adalah menjadikan emosi sebagai raja,” Iping mewanti-wanti.

Iping menambahi uraiannya dengan firman Allah:

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S. Al Hajj[22]: 46)

… Bersambung

 

About author
Manajer Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.