Haji, Simulasi Kehidupan Sampai Kembali Kepada Allah

Foto: whyislam.org

Foto: whyislam.org

Baru-baru ini ibu kosan saya membuat hajatan cukup besar di rumahnya. Tenda biru menaungi, parasmanan tersaji dan musik bernuansa Timur Tengah berbunyi. Ternyata ibu kosan saya itu sedang mengadakan syukuran untuk pergi haji. Pun dengan kakak dari ibu saya. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 9 Oktober 2011, ia juga mengadakan syukuran haji di Kota Tasik sana. Sekarang ia sudah terbang ke Tanah Suci.

Setiap tahunnya, ada waktu di mana seluruh ummat muslim di seluruh dunia diundang oleh Allah SWT untuk berkunjung ke rumah-Nya di Mekah. Perjalanan ini biasa disebut dengan Naik Haji. Orang-orang yang hendak pergi haji akan mempersiapkan segala hal, baik secara ruhiyah, materi dan jasmani.

Melakukan syukuran haji menjadi salah bentuk persiapan yang dilakukan. Di Indonesia sendiri, melaksanakan syukuran haji dalam bentuk hajatan maupun pengajian sudah menjadi budaya. Setiap muslim di dunia pasti mendambakan untuk memenuhi undangan Allah itu. Hanya saja, ada yang berkesempatan untuk datang dan ada yang tidak.

Pergi ke baitullah ini termasuk ke dalam rukun islam yang kelima, dan hukumnya wajib bagi yang mampu. Pada hari Kamis, (20/10) lalu, saya berkesempatan mewawancarai Muhammad Yajid Kalam, manajer Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB mengenai makna haji.

Dari segi bahasa,haji’ memiliki makna ‘bermaksud’. Sementara dari segi istilah, ‘haji’ dipandang sebagai ibadah badaniyah yang dilaksanakan di Tanah Haram (Mekah) dalam waktu tertentu, dengan perbuatan-perbuatan tertentu, disertai niat tertentu.

Ternyata makna haji tidak hanya terbatas dari segi bahasa dan istilah. Ada makna-makna lain yang lebih fundamental, yang menjadi hikmah dari berhaji itu sendiri. Yajid menerangkan bahwa perjalanan haji itu seperti sebuah simulasi kehidupan yang tercermin dari aktivitas yang dilakukan selama haji, seperti dalam tawaf.

Aktivitas tawaf semakna dengan aktivitas shalat. Dari segi ilmu fiqih, mereka dikatakan sederajat karena sama-sama harus dalam keadaan suci ketika melakukannya. Namun ada sisi lain yang menyebabkan shalat dan tawaf dikatakan sama.

“Persamaannya adalah sama-sama berputarnya,” terang Ustadz lulusan ponpes Cipasung, Tasikmalaya ini.

Ia menerangkan bahwa satu rakaat shalat sama dengan 3600 atau sama dengan satu putaran tawaf. Putaran tawaf dilakukan selama tujuh kali. Dan tujuh kali putaran itu merepresentasikan bahwa manusia menjalani tujuh hari dalam satu pekan: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu, dan itu terus berputar. Selanjutnya dalam aktivitas Sa’i.

Sementara aktivitas tawaf seakan betul-betul menggambarkan ibadah ritual, aktivitas Sa’i sebaliknya. Ia menggambarkan pencarian kehidupan. Jika dilihat dari sejarahnya, yaitu bagaimana Hajar berlarian dari Safa ke Marwah untuk mendapatkan air demi anaknya, aktivitas Sa’i ini mengajarkan kegigihan dan kerja keras.

Betapa pentingnya mencari dan memperjuangkan kehidupan. Diriwayatkan pada masa kekhalifahan Umar, ada seorang pria yang selalu berdiam diri di masjid. Pria itu memiliki keluarga. Ketika Umar bertanya siapa yang menafkahi keluarganya, pria itu menjawab bahwa sudah ada orang yang mengurusnya. Namun Khalifah Umar berkata pada pria itu bahwa orang yang mengurus keluarganya jauh lebih baik dari dirinya.

Bahkan ada hadist yang menyatakan bahwa ada dosa-dosa manusia yang tidak dihapus oleh Allah melalui shalat dan ibadah lainnya, tetapi baru dihapus oleh Allah dengan sebab lelahnya mencari rezeki.

“Intinya, orang yang tinggi derajatnya di hadapan Allah bukan orang yang diam saja,” tandas manager DPD itu.

Selain sebagai proses simulasi kehidupan, haji juga memiliki makna berangkat menuju Allah. Hal itu sebetulnya menurut Yajid, berkaitan dengan ‘innalillahi wa innailaihi raji’un’.

Dengan haji, manusia diajari sebuah proses perjalanan kembali kepada  Allah. Hal tersebut disimulasikan dengan aktivitas wukuf di Arafah. Sehingga dalam proses perjalanan haji, ada sebuah proses penyucian diri yang harus dilakukan. Sebab, Allah Yang Maha Suci tidak menerima kecuali yang suci juga.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.