Tafsir Al-’Alaq: Qalam, Tanda, dan Semiotika

Foto: qalam.eu

Foto: qalam.eu

“Ada yang menafsirkan qalam sebagai pena, tulisan, dan tanda,” ungkap Yasraf melanjutkan pembahasan pada ayat tentang qalam. Ada penafsiran qalam yang diwakili dengan alat, dan ada pula yang diwakili dengan hasil. “Dalam ilmu balaghah,  hal ini disebut majaz mursal. Yang disebut alatnya, dalam hal ini qalam, padahal yang dimaksud adalah hasilnya, yaitu tulisan,” jelas Ustadz Aceng.

Namun, “tulisan” tidak selalu sama dengan “teks”. Yasraf menjelaskan, sebelum budaya cetak muncul, istilah teks pada awalnya justru mengacu pada ujaran lisan. Menurut ilmu antropologi, budaya lisan muncul mendahului budaya tulisan. Budaya tulis dalam pengertian budaya literasi baru muncul pada abad pertengahan, jauh setelah turunnya Alquran. Walau tulisan sudah dikenal sebelum zaman Muhammad SAW, tetapi budaya masyarakatnya sendiri sebenarnya tetap lisan. Tulisan belum banyak dibuat. Budaya tulis baru muncul setelah ditemukannnya mesin cetak oleh Gutenberg. Setelah itu yang disebut teks adalah tulisan, bukan lagi lisan.

Qalam diartikan sebagai “pena” dan hasilnya berupa “tulisan” bila manusia yang mempergunakannya. Akan tetapi apakah qalam Allah sama dengan qalam manusia? “Tentu saja tidak,” sanggah Ustadz Zulkarnaen. Maksud qalam dalam ayat ini adalah, Allah mengajarkan manusia dengan berbagai media. Namun saat itu media yang dipahami manusia hanyalah qalam dalam makna “pena”. Allah bisa saja mengajarkan manusia secara langsung sehingga manusia mengerti. Namun menurut ayat ini tidaklah demikian keadaannya.

Jika qalam kita dekati lewat kajian semiotika, pemaknaannya menjadi jauh lebih luas. Semiotika adalah studi tentang tanda atau proses penandaan: indikasi, analogi, metafora, simbol-simbol, komunikasi, dan yang lainnya. Semiotika berhubungan erat dengan bidang bahasa, khususnya struktur dan makna bahasa.

Sebenarnya, untuk mengkaji teks, ilmu yang tepat adalah hermeneutika, yang membahas tentang bagaimana sebuah proses penafsiran teks terjadi. Akan tetapi, teks dalam arti tulisan pun sebenarnya adalah rangkaian simbol atau tanda. Karena itu, jika Allah mengajari manusia dengan qalam—yang diartikan sebagai teks—maka untuk memahaminya perlu dibantu dengan pemahaman tentang ilmu tanda.

Simbol sendiri hanya bagian kecil dari tanda. Simbol adalah tanda yang disepakati maknanya secara sosial dan telah melembaga. Sebuah kata misalnya adalah simbol karena telah disepakati maknanya. Padahal, banyak tanda dalam wujud lain yang belum disepakati. “Misalnya, body language, bahasa batin, gesture, suara, bunyi, mimik. Itu semua adalah tanda,” papar Yasraf.

Ayat atau tanda dari Allah tidak hanya berupa kata-kata dalam Alquran. Allah juga mengajari kita dengan tanda-tanda lain, yaitu ayat-ayat kauniah seperti pohon, sungai, udara, dan ciptaan Allah yang lain. Bahkan dalam diri kita pun ada tanda. Termasuk di dalam ayat-ayat kauniyah ini adalah tanda-tanda alam bawah sadar (subconscius). “Mimpi itu pun sebenarnya adalah teks,” ujar Yasraf.

Menurut Samsoe Basaroedin, salah seorang anggota tim editor tafsir Salman, tanda dalam diri kita disebutkan dalam Surat Fushshilat (41) ayat 53: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka apakah Al-Haq itu. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Jika tanda lebih luas daripada sekadar simbol, maka teks yang digunakan Allah mengajari kita tentu lebih luas pula dari sekadar tulisan. Kita bisa membaca tanda-tanda ilahiyah tersebut melalui berbagai pendekatan. Tanda-tanda tersebut sebenarnya mungkin sudah terlihat manusia sejak dulu, tetapi mereka belum memahaminya secara mendalam. “Hanyamelihat tapi tidak mampu menyimpulkan apa maknanya,” ujar Samsoe.

Menurut Yasraf, setiap manusia baik sebagai individu maupun bagian dari kelompok, berada dalam posisi harus memahami tanda. Dalam semiotika, ada tiga tahapan memahami tanda. Level pertama, qualisign atau tanda yang dipahami dari kualitasnya. Namun kualitas tersebut dipahami sangat personal dan spontan. Kita sama sekali tidak mempunyai kesepakatan mengenai maknanya. Misalnya, warna merah bisa diartikan sebagai keberanian, bahaya, larangan, dan sebagainya. tergantung kepada setiap orang.

Level ledua, sinsign atau tanda yang dikaitkan dengan pengalaman. Tanda yang kita lihat ketika mengalami suatu peristiwa di masa lalu, akan dimaknai sesuai peristiwa tersebut di masa depan.

Level ketiga, legisign atau tanda yang sudah disepakati bersama. Tanda ini mengandung pemahaman kolektif tertentu, seperti norma tentang hal yang baik dan buruk. Teks-teks tentang ibadah dan hukum dalam Alquran termasuk ke dalam tanda jenis ini. Ada pemahaman-pemahaman yang disepakati bersama ketika membacanya.

Walau demikian “Penafsiran di level pertama dan kedua itu tidak pernah mati,” tegas Yasraf. Bisa jadi perbedaan penafsiran Alquran dihasilkan dari pengaruh penafsiran level pertama dan kedua. Para wali Allah bisa saja tiba-tiba memahami sesuatu secara spontan tanpa belajar. Atau, bisa juga tafsir berbeda karena perbedaan pengalaman. Contohnya  ketika Ali dan Ibnu Abbas menafsirkan Al- ‘Adiyat. Menurut Ali tafsir Al-‘Adiyat itu unta, sedangkan menurut Ibnu Abbas yang benar adalah kuda perang.

Di akhir diskusi Yasraf menyayangkan masih minimnya kajian mengenai teks selain kajian teks berupa tulisan. Perlu ada pembacaan di samping tilawah atau iqra untuk membaca hal-hal di luar teks. “Kalau dalam Islam misalnya body language dalam shalat,” ujar Yasraf.

Hal tersebut dijawab Samsoe bahwa sudah ada dokter-dokter yang mengkaji hikmah gerakan shalat, walau memang belum banyak. Menurutnya, memang dalam rentang 14 abad terlalu sedikit kajian tentang itu. Kajian yang paling tua sudah dilakukan Prof. Alwi Sabu yang telah menulis hikmah kesehatan dari gerakan shalat.

… Bersambung


About author
Manajer Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.