Yudi Latif, saat memaparkan gagasannya dalam seminar bertajuk Islam, Kekerasan, dan Negara, Kamis (28/9). (Foto: Yudha PS)
Hilangnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada masyarakat Indonesia, merupakan pangkal dari munculnya berbagai tindakan radikalisme & terorisme di Indonesia. Demikianlah yang dapat disimpulkan dari pemaparan Yudi Latif, ketua Pusat Studi Islam & Kenegaraan, dalam seminar “Islam, Kekerasan, & Negara” pada Kamis (29/9) di Gedung Serba Guna (GSG) Salman ITB. Seminar ini terselenggara atas kerjasama antara Divisi Pengkajian dan Penerbitan (DPP) YPM Salman ITB dengan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP).
Lebih lanjut, dalam pemaparannya tersebut, Yudi Latif mencontohkan dengan sila pertama. Sila pertama dalam pancasila adalah Ketuhanan yang berkebudayaan baik. “Dari mana datangnya, asalkan Tuhan (agama)-nya baik, diterima di Indonesia,” sahut Yudi.
Radikalisme sendiri, menurut ilmuwan politik Indonesia ini, sebagai ekspresi ketuhanan yang tidak berkebudayaan. Radikalisme tumbuh akibat merosotnya nilai-nilai ketuhanan pada diri manusia.
Idealnya, hubungan manusia dengan Tuhannya harus selaras dengan hubungan manusia dengan manusia. “Bagaimana pun, berketuhanan menghilangkan kebencian dalam diri manusia,” ungkap Yudi Latif.
Lebih lanjut, sikap berketuhanan yang merupakan cermin sila pertama ini, secara langsung berhubungan dengan sila kedua: kemanusiaan yang adil dan beradab.
Pada fase yang lebih luas, radikalisme merupakan cerminan lumpuhnya sila ketiga: persatuan Indonesia. Bagaimana pun, menurut Yudi, kelompok radikal ini biasanya berada di lingkungan pergaulan yang sempit & tertutup. Sehingga memiliki ilmu dan pandangan yang terbatas.
Daya permusyawaratan dan kepemimpinan yang buruk di negeri ini pun jadi penyebab munculnya beragam aksi radikalisme dan terorisme di Indonesia. Yudi memaparkan bahwa para teroris umumnya memiliki jaringan dengan ingatan yang pedih. “Mereka (teroris) tidak mengalami perbaikan keadaan dan cenderung diabaikan oleh pemerintah. Makanya mereka akhirnya memberontak,” simpul Yudi Latif.
Terakhir, negara tidak mampu mewujudkan sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Umumnya, lanjut Yudi, ketimpangan sosial ini menghadirkan radikalisme di berbagai negara di belahan dunia. Kasus bom di Norwegia pun, lanjut Yudi, merupakan hasil dari ketimpangan sosial di negara tersebut.
Pancasila Sebagai Solusi
Dalam pemaparannya selama 30 menit itu, Yudi Latif berkesimpulan bahwa Pancasila merupakan solusi permasalahan radikalisme yang melanda Indonesia saat ini. “Jalankan sila-sila yang ada dalam Pancasila,” tandas Yudi.
Pancasila sendiri, lanjut Yudi, sebagai sebuah titik keseimbangan dalam bernegara. Pancasila tidak hanya menjadi acuan masyarakat untuk berkehidupan, tetapi juga alat ukur pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. “Masyarakat dapat mengukur apakah pemerintah telah menjalankan Pancasila atau belum,” ajak Yudi Latif menutup sesi kuliahnya.




![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)

