Bagian terakhir Surat An-Naazi’at berbunyi:
(34) Fa idzaa jaaäti th-thaammatu l-kubraa “Maka ketika datang Malapetaka Besar”
(35) Yauma yatadzakkaru l-insaanu maa sa`aa “Pada hari teringat manusia apa yang diusahakan”
(36) Wa burrizati l-ja?iimu li man yaraa “Dan dipamerkan Neraka kepada yang melihat.”
(37) Fa ammaa man thaghaa “Maka barangsiapa yang melampaui”
(38) Wa aatsara l-?ayaata d-dunyaa “Dan memprioritaskan kehidupan dunia”
(39) Fa inna l-ja?iima hiya l-ma’waa “Maka sesungguhnya Nerakalah kediamannya”
(40) Wa ammaa man khaafa maqaama rabbihii wa nahaa n-nafsa `ani l-hawaa “Dan barangsiapa yang takut pada Kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu”
(41) Fa inna l-jannata hiya l-ma’waa “Maka sesungguhnya Surgalah kediamannya.”
(42) Yasäluunaka `ani s-saa`ati ayyaana mursaahaa “Mereka menanyaimu tentang Saat Kiamat kapan sampainya”
(43) Fiima anta min dzikraahaa “Untuk apa engkau menyebutkannya”
(44) Ilaa rabbika muntahaahaa “Kepada Tuhanmu kesudahannya”
(45) Innamaa anta mundziru man yakhsyaahaa “Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi ingat yang takut kepadanya”
(46) Kaännahum yauma yaraunahaa lam yalbatsuu illaa `asyiyyatan aw dhu?aahaa “Seakan-akan mereka pada hari mereka melihatnya tidak tinggal kecuali baru petang atau paginya.”
Ayat-ayat tersebut di atas jelas-jelas berbicara tentang suasana Hari Kiamat. Gambaran yang populer tentang kiamat adalah kehancuran total. Sejak kecil kita diajari bahwa alam semesta dan seisinya akan hancur selepas tiupan pertama sangkakala Malaikat Israfil. Pada tiupan kedua sangkakala tersebut, seluruh manusia dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban. Namun seperti itukah gambaran kiamat sesungguhnya?
Dalam Diskusi Tafsir Salman pada Senin (06/12) lalu, gambaran “konvensional” tentang kiamat digugat. “Apakah kiamat kita ini hanya terjadi di tata surya kita, atau galaksi kita saja, atau universe kita saja?” tanya Irfan Anshory dalam pemaparannya. Pertanyaan ini Beliau utarakan setelah memaparkan penafsiran bagian terakhir dari Surat An-Naazi’at. Dr. Moedji Raharto, Staf Pengajar Prodi Astronomi ITB, hadir menanggapi pemaparan Irfan. Turut hadir pula Ustadz Zulkarnain, Ketua Program Dirosah Islamiyah Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB.
Irfan terlebih dahulu memaparkan penafsirannya. Menurutnya para ilmuwan, termasuk yang tak bertuhan pun, sebagian besar meyakini bahwa jagad raya ini akan berakhir. Berbagai penjelasan mereka kemukakan secara ilmiah mulai dari konsep maximum entropy sampai kepada broken arrow of time.
Para ilmuwan berbeda pendapat mengenai saat Kehancuran Total Alam Semesta (ath-Thaammah al-Kubraa). Meski demikian, semuanya sependapat tentang satu hal mengenai tata surya kita yang kecil mungil ini (dibandingkan mahaluasnya jagad raya). Hal tersebut adalah bahwa umur tata surya kita ternyata cuma sebentar dibandingkan umur alam semesta. “Jadi tata surya kita ini, senang atau tidak senang, akan ‘kiamat duluan’!” tegas Irfan.
Mengapa demikian? Setiap detik, 657 juta ton hidrogen mengalami reaksi fusi menjadi 653 juta ton helium. Empat juta ton massa yang hilang setiap detik berubah menjadi energi berupa sinar Matahari yang terpancar ke segenap penjuru tatasurya. Bahan bakar hidrogen lama-kelamaan makin berkurang. Sementara bagian helium core Matahari lama-kelamaan makin besar. Pada suatu saat, Matahari mengalami kondisi dimana helium itu sendiri mengalami reaksi fusi menjadi karbon, oksigen, dan neon.
Pada saat itu, terjadilah apa yang disebut sudden flow of additional heat, dan Matahari akan mulai berekspansi (membesar). Pembesaran Matahari ini mengakibatkan suhu lapisan terluar menjadi turun. Permukaan Matahari akan berubah dari white heat menjadi red heat, dan Matahari akan menjadi red giant. Inilah barangkali yang diisyaratkan oleh Allah dalam Surat Ar-Rahman 27: Fa idzaa nsyaqqati s-samaaü fa kaanat wardatan ka d-dihaan (“Maka ketika terbelah langit, lalu menjadilah dia merah mawar seperti minyak”).
Matahari yang makin besar menghasilkan aliran panas yang berlipat ganda terhadap planet-planet terdekat, termasuk Bumi. Gelombang panas dari Matahari yang luar biasa dahsyatnya menjadikan Bumi mulai meleleh (mencair). Seluruh isi “perut” Bumi akan keluar. “Akhirnya Bumi ini kempes dan lenyap!” ujar Irfan. Nasib Bumi di akhir zaman ini diisyaratkan Allah lewat firman-Nya dalam Surat Al-Insyiqaq ayat 3-4. Ayat tersebut berbunyi Wa idzaa l-ardhu muddat, wa alqat maa fiihaa wa takhallat (“Dan ketika bumi dikempeskan, dan melemparkan apa yang di dalamnya sehingga kosong!”).
Ruh-ruh manusia yang tersimpan di alam transisi (barzakh) akan dihidupkan kembali di Hari Kiamat dengan penciptaan baru (khalqun jadiid). Selama masa penantian di alam barzakh, ruh-ruh manusia mengalami time dilatation. Hal ini sesuai dengan Teori Relativitas yang dikemukakan Albert Einstein. Ketika bangkit di Hari Kiamat, manusia merasa seakan-akan kehidupan dunia baru kemarin sore atau tadi pagi.
Matahari Mengembang, Tatasurya Kiamat
Moedji menambahkan penjelasan astronomis yang telah disajikan Irfan dalam penafsirannya. Asisten Profesor di Prodi Astronomi tersebut mula-mula menceritakan sejumlah misteri alam semesta.
Pada saat Big Bang misalnya, ternyata tidak semua energi berubah menjadi nebula, bintang dan planet. Jika dihitung, seluruh materi dan energi yang terdeteksi sekarang, total hanya 23 – 26% dari yang “seharusnya” ada. Sisanya adalah dark matter dan dark energy. Disebut “gelap” karena memang tidak terdeteksi keberadaannya. Dark matter dan dark energy hanya eksis dalam perhitungan.
Pertanyaan lain yang menggantung di benak para astronom adalah kapan dan di mana bintang yang pertama itu lahir? Sejumlah ilmuwan berpendapat bintang pertama lahir 75 juta tahun setelah Big Bang. Jawaban akurat pertanyaan ini tengah dicari dengan menyelidiki red shift. Red shift adalah pergeseran panjang gelombang cahaya sebuah bintang (atau galaksi) ke arah spektrum merah. Pergeseran ini berarti bintang/galaksi tersebut semakin menjauh.
Masih banyak teka-teki lain seputar alam semesta yang belum terjawab. Misalnya, “Lebih dulu mana terbentuk, bintang atau galaksi?” Akan tetapi, untuk apa sebenarnya para astronom mencoba memahami alam semesta yang penuh teka-teki ini?
Menurut Moedji, manusia mempelajari bintang-bintang justru untuk memahami Matahari kita sendiri. Dari diagram antara daya dan temperatur orang mempelajari reaksi termonuklir dan struktur bintang. Manusia telah mengetahui bintang berstruktur raksasa merah (red giant), kate putih (white dwarf), dan yang berstruktur normal seperti Matahari kita.
Struktur-struktur tersebut ternyata adalah episode-episode dari kisah hidup sebuah bintang. Sebuah bintang menjelang akhir hayatnya bisa menjadi red giant atau planetary nebula, kate putih, black hole atau bahkan supermassive black hole. Dalam masa hidupnya yang mencapai belasan milyar tahun, struktur sebuah bintang akan menyerupai Matahari kita saat ini.
Suatu saat Matahari kita akan berevolusi menjadi bentuk lain. Warna Matahari akan berubah menjadi putih, kemudian menjadi merah (suhunya menurun). Pada saat itu jari-jarinya membesar dan dayanya meningkat. Tata surya akan “berenang” dalam plasma panas Matahari. Karena Matahari menjadi sangat besar, manusia di Bumi tidak lagi dapat melihat gerhana Matahari total. Yang ada hanya gerhana Matahari cincin.
Inilah evolusi Matahari menjadi red giant yang membawa kiamat di tata surya kita. “Proses ini hanya memakan waktu yang sangat singkat,” ujar Moedji. Namun, proses tersebut baru akan dimulai bermilyar tahun ke depan. “Andaikata kita hidup 10-15 milyar tahun lagi, mungkin kita bisa melihat bintang-bintang di langit meredup dan hilang satu per satu,” tambahnya.
Bukan Kiamat, Tapi Peristiwa Setelahnya
Berlainan dengan penafsiran Irfan, Zulkarnain berpendapat bahwa bagian terakhir Surat An-Naazi’at ini tidaklah bercerita tentang kiamat. Ayat-ayat tersebut justru bercerita mengenai peristiwa sesudah kiamat. Zulkarnain memaparkan argumentasinya dengan membedah struktur bahasa ayat-ayat akhir Surat An-Naazi’at khususnya ayat 34-36.
Huruf fa, papar Zulkarnain, adalah huruf isti’naf (permulaan). Huruf ini menandai paragraf baru meskipun tetap ada keterkaitan dengan ayat sebelumnya. Huruf tersebut kemudian disambung dengan kata idzaa (zharaf zaman lil mustaqbal), yang bertemu dengan fi’il madhii yaitu ja’at, yaitu menerangkan waktu yang lampau. Para ahli bahasa menjelaskan bahwa hal ini berarti “sesuatu yang akan datang, namun pasti terjadi”. Berbeda halnya jika zharaf tersebut bertemu dengan fi’il mudhari yang berarti “akan terjadi”.
Athaammah berarti bencana yang besar, apalagi disifati dengan al-kubra. Para ahli tafsir zaman sahabat dan tabi’in berpendapat bahwa bencana yang dimaksud di sini adalah ba’da yaumil qiyamah. Dengan kata lain, peristiwa yang digambarkan ayat-ayat ini adalah “tiupan yang kedua” (an nafkhotuss tsaniyah), bukan tiupan pertama yang menghancurkan alam semesta. “Lihat kata yauma pada ayat setelahnya (Yauma yatadzakkaru l-insaanu maa sa`aa),” tegas Zulkarnain. Kata tersebut menurutnya tidak bisa tidak, pasti menerangkan ayat sebelumnya.
Meski demikian, Zulkarnain sepakat dengan Irfan bahwa kiamat mungkin saja tidak terjadi serentak di seluruh alam semesta. Sebab, ayat-ayat yang menyebut peristiwa kiamat biasanya bercerita tentang kejadian di Bumi. Bila Al-Qur’an bercerita tentang kehancuran langit, langit yang disebut pun berbentuk tunggal. Langit dalam bentuk jamak hanya disebut dalam penciptaan alam semesta.[selesai]





![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)

