Nilai Ketuhanan dalam Sistem Berkehidupan

Foto: Blogspot.com

Mari kita menimak beberapa hal yang mungkin berguna untuk jadi bahan perenungan kita. Beberapa waktu yang lalu, khatib berjalan-jalan bersama beberapa pejabat tingkat menengah dari sebuah instansi.

Ketika itu, sebagaimana lazimnya selesai acara, kami berjalan mencari oleh-oleh untuk istri, anak, atau kerabat. Namun, ada satu hal yang membuat khatib terpekur cukup lama. Ternyata pada pejabat itu memiliki kebiasaan unik, yaitu semakin tinggi jabatannya, semakin sedikit pula belanjaanya. Harga belanjaannya pun sangat mahal. Itu pun bukan untuk keluarganya, tapi untuk atasannya.

Ketika khatib mengkonfirmasi pada salah satu anggota rombongan, ternyata hal tersebut telah menjadi kebiasaan mereka semua.

Ini lah yang membuat khatib terkejut, dan keterkejutan itu melahirkan satu perenungan yang bermuara pada satu pertanyaan: kenapa kita sulit memberantas pengemis dari jalan raya, sekaligus sulit juga memberantas korupsi? Hal ini dikarenakan para pengemis yang meminta sedekah dan para pejabat yang minta oleh-oleh, nilainya sama, yaitu tuna harga diri.

Memang ada bedanya antara pengemis dan para pejabat tersebut. Pengemis masih minta kepada orang yang menurut pandangan mereka berstatus sosial serta ekonominya lebih tinggi. Namun, para pejabat meminta pada bawahan mereka.

Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah yang mewajibkan seorang pejabat memeriksa isi perut, isi hati, serta isi rumah bawahannya. Bila si bawahan tidak punya rumah, tidak punya makanan, bahkan dalam beberapa hal tidak punya jodoh, maka si pejabat wajib untuk memenuhinya.

Untuk melakukan perubahan seperti ini, kita perlu mengkombinasikan tiga hal, yaitu: kepemimpinan, pembangunan sistem kehidupan, dan perbaikan nilai-nilai yang bersemayam di hati.

Seorang pemimpin adalah seorang yang tahu, yakin, berani, sekaligus tabah untuk menunjukan jalan yang lebih sulit dari yang biasa dilalui. Mungkin dia harus membabat alang-alang dari pada jalan yang sudah terbuka. Konsekuensinya, terkadang kehidupan mereka terancam, dituduh gila, dan sebagainya.

Contohnya saja Rasulullah. Jika seandainya saja Rasulullah ingin menikmati status sosial yang nyaman, maka mudah saja. Rasul cukup tinggal di gua Hira dan tidak perlu mengutak-atik sistem kehidupan di kota Mekkah. Namun, Rasul memilih jalan yang sulit,  karena itu adalah kunci perubahan.

Sistem adalah sesuatu yang perlu dibangun. Para pemimpin bisa datang dan pergi, sementara sistem akan terus berjalan. Hal ini menyebabkan kita tidak bisa hanya mengandalkan pemimpin saja. Bagaimana pun, untuk meahirkan seorang pemimpin, kita memerlukan latihan dan waktu. Seorang Muhammad pun perlu kedewasaan hingga umur 43 tahun untuk mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin.

Namun sebenarnya kehadiran seorang pemimpin dan tumbuhnya sistem saja tidak cukup. Bagaimana pun, sistem memerlukan syarat-syarat tertentu. Jika tidak dipenuhi, maka sistem tersebut akan bubar dengan sendirinya. Namun, yang perlu dan berada di atas segalanya adalah nilai yang bersemayam di dada kita dan mengiringi setiap gerak kita.

Hal ini seperti kisah lama tentang seorang gembala yang diuji kejujurannya oleh Umar bin Khatab. Ketika itu, Umar berkata, “Wahai, anak gembala. Jual kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu.”

“Aku hanya seorang budak,” jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, ”Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.”

Anak gembala tersebut diam sejenak. Ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati sang Khalifah, “Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?”

Nilai yang dipercaya oleh anak itu tidak terikat pada kehadiran seorang pemimpin atau sebuah sistem.

Kesimpulannya, nilai tertinggi pada agama bukan pada pemahaman hukum, tapi pada pemahaman bahwa Allah melihat kita setiap saat, tanpa tergantung pada sistem yang berlaku.

Disarikan dari Ceramah Jumat, 16 September 2011 oleh Dr. Syarif Hidayat, Ketua Pengurus YPM Salman ITB

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.