Inikah Rasanya Syuting?

Suasana pengambilan gambar film 'Negeri Lima Menara' di pelataran masjid Salman. (Foto: Fery AP)

Sabtu kemarin, tepatnya 10 September 2011, saya menjalani peran ganda. Sebagai wartawan yang meliput syuting Negeri 5 Menara, kemudian sebagai aktris di dalamnya. Wah!

Untuk melakoni pekerjaan kewartawanan, bagi saya bukan merupakan hal yang ganjil lagi. Selain tercatat sebagai mahasiswa Jurnalistik di Universitas Padjadjaran, saya pun magang jadi wartawan di media Masjid Salman. Sedangkan untuk seni peran, jangan ditanya. Stok pengalaman saya benar-benar nihil. Pengalaman hari Sabtu kemarin dapat dikatakan merupakan satu-satunya di dunia akting.

Itu pun saya hanya kebagian sebagai seorang figuran. Ya, sebutlah saya si tokoh tak bernama, tak pula berdialog. Masalah bayaran, jangan tanya. Pun walau begitu, tak sedikit pun saya keberatan. Yang penting senang-senang. Kapan lagi saya dapat ambil bagian dalam film yang diadaptasi dari salah satu novel favorit saya?

Berbicara tentang cerita, Negeri 5 Menara mengisahkan pengalaman pria pra-remaja, Alif, dalam menuntut ilmu Islam di Pondok Madani.  Alif adalah pemuda asal ranah Minang yang pergi ke Pondok Madani lantaran memenuhi keinginan ibunya.

Pada awal ia belajar di sana, ia setengah hati melakukannya. Namun, lama-kelamaan, Alif mulai terpukau dengan dunia baru yang diselaminya di Pondok. Teman-teman seperjuangan pun ia temukan. Mantra “Man Jadda Wajada” yang diusung Pondok Madani benar-benar menyihirnya kuat, sehingga akhirnya Alif dewasa pun dapat menuntut ilmu di Amerika Serikat.

Dalam novel, diceritakan bahwa Alif dan temannya Randai, sempat berpelesir ke Bandung. Mereka sempat mengunjungi ITB dan Masjid Salman. Nah, ini dia. Di bagian inilah saya ikut ambil peran menjadi mahasiswa ITB. Pertama, mahasiswa ITB yang sedang duduk sembari mengobrol di tangga pelataran Salman. Kedua, mahasiswa ITB yang sedang antusias menyaksikan kuliah umum Menteri Riset dan Teknologi saat itu, BJ. Habibie.

Ahmad pun Berharap

Ahmad Fuadi turut menyaksikan syuting Film Negeri 5 Menara di pelataran Masjid Salman(foto: Fery AP)

Ahmad Fuadi, sang penulis yang mencurahkan alter ego-nya dalam tokoh Alif usut punya usut sempat menjadi aktivis Masjid Salman ITB. Sekitar tahun 1992, ia pernah menjadi pengajar pelatihan Bahasa Arab.

“Saya masih ingat, saya mengajar Bahasa Arab di lantai dua bangunan Salman,” kenang Ahmad.

Pria yang pernah tercatat sebagai mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini mengaku senang dengan suasana Salman. Menurutnya, Salman adalah tempat yang nyaman untuk berdiskusi dan mencari buku. Sedangkan untuk urusan perut, Ahmad menilai makanan-makanan yang terjaja di belakang Masjid murah meriah.

Mengenai novelnya yang dibuat film, Ahmad tak memungkiri kemungkinan film yang memiliki perbedaan konten dengan novelnya.

“Novel dan film adalah dua media yang berbeda. Kalau orang membaca novel, otak pembaca memiliki bayangan tersendiri. Istilahnya, theater of Mind. Sedangkan jika dbuat film, yang kita tonton adalah hasil imajinasi dari sutradara, penulis skenario, dan timnya,” tutur Ahmad.

Namun baginya yang terpenting adalah kesamaan semangat yang diusung kedua media tersebut. Semangat ingin menginspirasi dan berbagi. Terutama berbagi ruh sakti dari “Man Jadda Wajada”.

Sedangkan, saya pun memiliki harapan. Terlepas dari akting saya, sekecil apapun peran saya dalam kesempatan apapun, semoga manfaatnya tidaklah sekecil yang saya kira.***

“If you think you are too small to make a difference, try sleeping with a mosquito.”
Dalai Lama.

 

About author
Berusaha memberdaya, bukan diperdaya.
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.