Tafsir Surat Al Ikhlas: Makna Ahad (Bagian 1)

(Foto: wakaloha.blogspot.com)

Hanya ada dua surat dalam Al-Qur’an yang judul atau namanya justru sama sekali tidak disebut di dalam suratnya. Kedua surat tersebut adalah Al-Fatihah (surat pertama) dan Al-Ikhlas (surat ke 112). Selain keunikan tersebut, Surat Al-Ikhlas mengandung penjelasan pandangan Islam tentang ketuhanan, yaitu tauhid, yang juga unik atau berbeda dibandingkan pandangan agama-agama lain.

Karena itu, Surat Al-Ikhlas menjadi bahasan dalam Diskusi Tafsir Salman pada Senin (01/10) lalu. Drs. Irfan Anshory hadir sebagai pemakalah utama. Sebagai penanggap hadir antara lain Dr. Suparno Satira (Fisika ITB) dan Ust. Andri Mulyadi (DPD Salman ITB).

Menurut Andri, berdasarkan keterangan Imam Qatadah, Dhahak dan Muqatil, surat ini turun atas pertanyaan beberapa orang Yahudi kepada Rasulullah Saw. Mereka berkata, “Terangkan kepada kami wujud Tuhan-mu, karena di dalam Taurat Dia hanya menerangkan sifat-Nya. Jelaskan kepada kami terbuat dari apa Dia? Dari jenis apa? Apakah dari emas atau perak? Apakah Dia makan dan minum? Dari siapa Dia mewarisi dunia dan kepada siapa Dia mewariskannya?” (Asbab Al-Nuzul lil Wahidi Al-Naisaburi).

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, melalui riwayat Imam Ahmad, disebutkan bahwa kaum musyrikin datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya kepada Beliau, “ Terangkan kepada kami bagaimana wujud Tuhanmu.” Lalu turunlah Surat Al-Ikhlas di Makkah untuk menjawab pertanyaan mereka. Masih banyak lagi riwayat yang secara redaksi hampir sama, berkisar pertanyaan orang-orang musyrik akan wujud Tuhannya Muhammad Saw.

Kata ikhlas sendiri menurut Irfan berasal dari akar kata khalasho dalam bahasa Arab, yang berarti murni, atau pemurnian. Surat Al-Ikhlas ini lanjut Irfan, memang berbicara soal pemurnian tauhid, pemurnian ketaatan kepada Allah Swt.

Ayat pertama dalam Surat Al-Ikhlas adalah Qul huwa l-laahu a?ad. Terjemahan harfiahnya: “Katakanlah: Dia ALLAH Yang Esa.”

Menurut Irfan, untuk menelusuri asal-usul istilah ALLAH sebagai nama Tuhan, kita harus menggali bahasa Mesopotamia purba, sebab bangsa Arab merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang berasal dari Mesopotamia.

Tuhan dalam bahasa Mesopotamia disebut El atau Il (nama negeri Babilonia dari Bab-El atau Bab-Il berarti ‘Pintu Tuhan’). Anak cucu Nabi Ibrahim a.s. kelak, yaitu bangsa Ibrani dan bangsa Arab, memodifikasi nama ini dengan penambahan huruf Ha (‘Dia’), masing-masing menjadi Eloh dan Ilah. Ibrahim sendiri bukan bangsa Ibrani ataupun Arab, namun ia adalah bapak dari dua bangsa tersebut.

Nama yang terakhir ini kemudian diberi kata sandang (isim makrifat/artikel definitif) Al-, menjadi Al-Ilah atau Allah. Kata Allah ini dalam konsensus bahasa Arab merupakan isim mudzakar (menunjukkan maskulinitis), sedangkan ciptaannya  yaitu langit dan Bumi, juga ruh menggunakan isim muannats (menunjukkan feminitas). Istilah El dan Il sebagai nama Tuhan masih dijumpai dalam bahasa Ibrani dan Arab pada nama-nama Gabriel (Jibril), Michael (Mikail), Yishma`el (Isma`il), Yisrael (Israil), dan sebagainya.

Jadi, simpul Irfan, orang-orang Arab sebelum Islam sudah menggunakan istilah ALLAH untuk menamai Sang Khaliq yang menciptakan langit dan Bumi. Hal ini diterangkan dalam Surat al-Ankabut 61: Wa laïn saältahum man khalaqa s-samaawaati wa l-ardha wa sakhkhara sy-syamsa wa l-qamar, la yaquulunna l-laah, fa annaa yu’fakuun (“Dan sekiranya engkau menanyai mereka: siapa yang menciptakan langit dan Bumi serta menyediakan Matahari dan Bulan, mereka pasti mengatakan ‘Allah’, maka betapa mereka dipalingkan”). Akan tetapi orang-orang Arab itu mempersekutukan Allah dengan berbagai ilah yang lain.

Itulah sebabnya ayat pertama ini menggunakan kata ahad. “Esa”, yang betul-betul satu, yang harus di’satu’ kan, yang merupakan ‘satu-satunya’, bukan urutan bilangan. Bukan sekadar wahid  atau “satu” sebagai nama bilangan. Maksud bahwa “Ahad bukan bilangan” artinya Allah bukan merupakan hasil dari ½  + ½ atau dengan kata lain bukan hasil koalisi. Bukan pula bermakna 2 – 1 yang merupakan hasil dari perebutan kekuasaan. Jadi “Allahu Ahad” berarti Allah itu satu secara mutlak dalam segala hal: Esa dalam wujud-Nya, Esa dalam sifat-Nya, dan Esa dalam karya-Nya.

Andri menambahkan perbedaan kata ahad dengan wahid. Kata ahad sendiri merupakan istilah untuk menegasikan keberadaan yang lain. Ahad juga bisa berarti tidak ada yang sebanding. Sedangkan kata wahid merupakan bilangan pertama dalam hitungan yang artinya “satu”. Tatkala disebutkan wahid (satu), ada kemungkinan berbilang menjadi dua atau tiga. Sehingga dari ayat ini kita dapat memahami bahwa Allah itu tunggal, tidak berbilang sebagaimana keyakinan orang-orang di luar Islam.

Kata Allah dalam Al-Qur’an, lanjut Andri, selalu disandingkan dengan kata ahad. Berbeda tatkala Allah mewakilkan diri-Nya dengan kata ilah (Tuhan) yang selalu bersandingan dengan kata wahid. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan manusia di dunia ini akan adanya Tuhan tidak hanya satu, tetapi berbilang tergantung keyakinan masing-masing orang.

2 Comments

*

*

Top