Sukanto, NII Crisis Center, tengah menyampaikan pemaparannya mengenai program NII. (Foto: Tristia R)
Selama ini, masyarakat kerap kali mendengar teror-teror yang dilakukan pegiat NII (Negara Islam Indonesia) pada mantan anggota mereka. Hal ini membuat para aktivis NII KW IX mengurungkan niat untuk keluar. Padahal, jika orang tua dan orang-orang terdekatnya bersatu-padu untuk melindunginya, tidak usah takut.
Paragraf di atas merupakan cuplikan pembahasan dalam “Training Penanggulangan NII bersama NII Crisis Center” pada hari Sabtu, 30 Juli 2011 di Gedung Sayap Selatan (GSS) E Masjid Salman ITB. Acara ini terselenggara atas kerja sama Divisi Kemahasiswaan dan Kaderisasi (DMK) Salman ITB, dengan Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB. Acara ini turut mengundang Sukanto dari NII Crisis Center dan Komisaris Kepolisian Jawa Barat Taufik Rohman.
Dalam pemaparannya, Sukanto meyakinkan, tidak perlu takut dengan ancaman yang dilancarkan oleh anggota NII terhadap mantan NII. Justru, korban (mantan NII), keluarga, dan teman-teman terdekatnya memiliki kekuatan untuk melaporkan keberadaan mereka ke pihak yang berwajib.
“Makanya, jangan takut untuk keluar NII!” ujar Sukanto selaku pemateri.
Namun dalam beberapa kasus, masyarakat, bahkan orang tua, mencampakkan korban. Korban dicampakkan akibat perilaku anehnya selama bergabung dalam NII. Ciri-ciri yang lazim ditemui ialah nilai kuliah korban anjlok, memiliki teman pergaulan baru, dan menghilangkan barang orang lain, seperti laptop.
Oleh karena itu, Sukanto menyatakan NII Crisis Center siap membantu korban agar dapat kembali beraktivitas normal di kalangan masyarakat. Bahkan, jika bisa, korban dapat melawan gerakan yang disinyalir dipimpin oleh Panji Gumilang tersebut.
“Setelah korban memiliki kesadaran normal, ia dianjurkan untuk menyadarkan teman-teman yang pernah direkrutnya,” pungkas Sukanto.
Model Perekrutan
Sukanto juga memaparkan perekrutan-perekrutan yang dilakukan oleh pergerakan NII KW IX. Perekrutan dilakukan melalui tiga cara. Pertama adalah pola perekrutan umum. Pola ini dikenal memiliki risiko kegagalan tingkat tinggi. Orang-orang yang direkrut kebanyakan sudah berkeluarga dan memiliki pengetahuan yang cukup.
Perekrutan kedua populer di kalangan buruh. Biasanya buruh-buruh berhasil terekrut oleh perekrut yang memiliki latar belakang kesukuan yang sama. Perekrutan ketiga menyasar kalangan pelajar dan mahasiswa. Awalnya, dalam merekrut kalangan ini, anggota NII memakai cara umum seperti pertama. Namun cara ini gagal dan bermasalah.
Pemain dalam perekrutan ketiga berjumlah empat orang. Jadi terdapat satu orang yang bertugas melakukan survey terhadap target. Kemudian, orang tersebut membawa target ke sebuah tempat umum seperti restoran dan sebagainya. Tiba-tiba datang dua orang lain yang mengaku teman lama orang kesatu. Kemudian, tiba-tiba mereka mengobrolkan tentang konsep Islam.
Sukanto memaparkan, para ketiga orang ini biasanya memaparkan materi seputar Alquran dan menetapkan aturannya secara kaffah. Perumpamaan tentang akar Pancasila yang dianggap kafir juga menjadi materi andalan yang biasa ditekankan para perekrut kepada korban.
Bahkan, Sukanto mengungkapkan, akan terdapat organisasi masyarakat bertajuk Masyarakat Indonesia Membangun yang merupakan program NII.
“Ormas ini memang akan mengajarkan nasionalisme. Tetapi nasionalisme terhadap Negara Islam Indonesia.”
Sementara itu, Taufik Rohman dari pihak kepolisian berpesan agar kita selalu berislam dengan akal sehat dan jiwa yang dekat. Jangan pula memiliki emosi yang meledak-ledak, karena orang tenang jarang didekati oleh jaringan NII.
Informasi mengenai NII Crisis Center, dapat diakses melalui situs nii-crisis-center.com.***



















