Bulan Agustus nanti, saya genap satu tahun tinggal di Bandung. Bandung adalah kota yang memberikan pandangan baru. Saya melihat apa yang tidak pernah saya lihat. Saya juga merasa apa yang tidak pernah saya rasa.
Di Bandung saya hampir selalu melihat anak-anak jalanan. Mereka mengamen menyanyikan lagu cinta. Lebih parah lagi: minta-minta! Jika saya sedang naik Bus Damri lalu anak-anak kecil itu datang mengamen, saya tidak pernah bisa menatap mereka. Aduh, bukan saya jijik lihat mereka, saya cuma tak tega. Kalau sudah begitu saya jadi berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa apa-apa. Memberi beberapa keping uang receh bukan pemecahan masalah. Itu tidak mendidik. Tidak memberi apalagi.
Perkuliahan sedang libur sekarang. Sepulang ke rumah untuk liburan, saya sedikit terhenyak melihat perkembangan berita di negeri ini. Maklumlah anak kosan. Tidak ada TV. Baca koran pun tidak selalu alias jarang. Surfing internet apalagi. Malas singgah ke warung internet. Kalau mengandalkan modem yang lemot cuma bikin sakit hati. Alhasil, saya agak buta informasi.
Saya pikir negara masih pusing sama Nazaruddin yang tidak kunjung pulang kampung ke Indonesia. Ternyata, Indonesia sudah ditambah kasus baru: mafia pemilu dan Andi Nurpati. Di KOMPAS edisi –hari apa saya lupa, saya baca tentang calo anggaran juga. Walah, kasus lama saja belum selesai, sudah ditambah dengan yang baru.
Dipikir-pikir, negeri ini banyak cobaannya, ya? Isu-isu politik semerbak selaiknya kotoran kucing (bukan bunga kasturi). Saya jadi ingat celetukan teman saya yang seorang ketua himpunan: “Politik itu kotor, ya?” Begitu kira-kira. Aih, saya bukan mau sok mengomentari atau mengkritisi kasus-kasus itu. Saya yakin Anda bahkan jauh lebih tahu. Saya hanya merasa miris dan sedih. Menyaksikan dua hal yang kontras setiap saat, saya jadi sakit hati.
Betapak tidak? Mereka yang di atas enak-enakan. Curi uang rakyat. Kamuflase politik. Tuding menuding. Kabur. Curang. Licik. Sementara mereka yang di bawah susah-susahan. Minta-minta. Ngemis-ngemis. Kumal. Borok. Kelaparan. Bodoh.
Ah, kalau sudah begini siapa yang harus disalahkan? Mau menyalahkan Pak Beye juga tidak adil, kan? Lihat saja. Kantung mata beliau semakin menghitam. Mungkin beliau tidak pernah nyenyak tidur saking terlalu banyaknya masalah –dari mulai masalah internal partainya sampai masalah negeri yang mendera. Kasihan Pak Beye. Cobaannya begitu besar sebagai pemimpin. Sekarang kita berharap saja, semoga dari sekian banyak hal yang beliau pikirkan satu di antaranya adalah adik-adik jalanan kita. Wallahu’alam.




![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)

