Perlu! Mungkin itu yang akan banyak orang yang katakan kalau ada yang menanyakan apakah Pildacil alias Pemilihan Da’i Cilik itu perlu diadakan, bahkan dikembangkan. Mengapa? Tidak sedikit lho, orang-orang yang terbuka hati dan pikirannya karena anak kecil, di samping malu juga kayaknya kalau dianggap salah oleh mereka. Materi-materi yang beragam dapat disampaikan dengan gaya bicara yang lucu dan unik sehingga mudah dicerna siapapun. Ini adalah pembelajaran yang menyenangkan, bukan?
Di samping kelebihan-kelebihan tersebut, rupanya ada saja pihak yang memandang berbeda dengan persepsi kebanyakan orang. Sebut saja Ibu Anita, seorang ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa S2 merasa prihatin dengan keberadaan Pildacil. Beliau mengungkapkan, anak-anak seusia itu, yang rata-rata seusia anak sekolah dasar, seharusnya lebih difokuskan kepada pembelajaran formal yang lebih menjamin untuk masa depan.
Hal ini disimpulkan beliau berdasarkan beberapa tayangan serupa seperti Akademi Fantasi Indosiar Junior (AFI Junior), Mamamia, dan lain-lain. Mungkin namanya memang tenar dan beberapa kali diundang untuk konser ke mana-mana. Tapi, itu tak lama. Setelah ada acara yang menggantikan, nama-nama yang bersinar itu mulai redup dan akhirnya padam. Tidak menjadi masalah yang berarti kalau saja mereka, para finalis itu, memiliki penghasilan lain dan tidak menggantungkan diri pada entertainment. Bagaimana dengan yang seratus persen mata pencahariannya berasal dari kesanteran nama?
Belum lagi dengan perenggutan masa kecil yang seharusnya dijalani sewajarnya. Menurut beliau, anak-anak yang harus mengikuti seleksi dan karantina ini, tidak lebih baik dari anak-anak yang belajar biasa di sekolah dan berprestasi di sana. Pelatihan dan pembinaan lainnya memang bukan sesuatu yang buruk. Tapi bagaimanapun, belajar secara formal dengan baik adalah salah satu identitas anak yang mengenyam pendidikan.
Selain itu, bisa jadi para da’i cilik mengikuti Pildacil karena uang, sekadar suruhan orangtua, tidak tulus dari diri mereka sendiri. Akibatnya, si anak bisa missorientation atau kehilangan tujuan mereka. Cita-cita mereka. Tidak sedikit yang sampai memanipulasi data dan identitas agar bisa menang.
Pendapat yang berseberangan ini tidak dapat begitu saja dibenarkan. Acara Pildacil dapat menumbuhkembangkan keberanian anak untuk berbicara di depan banyak orang sekaligus menyampaikan ilmu dengan cara yang menarik. Banyak sekali para ilmuwan di dunia ini yang sangat pandai namun tak pandai menyampaikan. Hasilnya tentu saja tidak maksimal. Para da’i cilik dapat tampil lebih menyerap perhatian justru karena mereka masih kecil.
Meski kalah sekalipun, ia akan tetap mengundang simpati dan kasih sayang banyak orang. Lagi-lagi karena ia masih amat muda. Si anak sendiri bisa jadi malah menemukan tujuan hidupnya selama dikarantina. Artinya, ia jadi memiliki titik fokus untuk menjadi apa kelak di masa depan. Ilmunya bertambah, pertemanannya meluas, dakwahnya berpahala. Ini luar biasa, bukan?
Menurut pendapat saya, sebetulnya menjadi seorang da’i memang sesuatu hal yang fantastik. Luar biasa. Apalagi bagi anak-anak kecil. Namun, saya rasa hal seperti ini tidak seharusnya diperlombakan. Justru, sesama da’i harus bekerjasama membangun bangsa kita ini. Tujuan program seyogyianya bukan mencari siapa yang terbaik, melainkan, apa manfaat dan kemajuan yang bisa didapat dengan munculnya bibit unggul yang dahsyat itu.

![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)


Rufa
Thursday, 19 January 2012
Mungkin sudah jamannya. Tontonan jadi tuntunan dan tuntunan jadi tontonan. Dilihat dari penyelenggaraannya, Pildacil, menurut saya lebih pada tontonan. Relatif sedikt orang yang melihat lebih pada memperhatikan isi ceramah, yang dilihat lebih “keta’juban” anak kecil yang bisa pidato
imut
Thursday, 3 November 2011
Setiap anak memiliki kelebihan dan kekuranganya masing2… sebagai orangtua yg baik yg kenal sama anaknya, tentu mengetahui kekurangan dan kelebihan anak2nya, adalah sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk mengoptimalkan kelebihan sang anak sekaligus mengisi kekurangannya….. tdk sedikit dai yg tdk memiliki anak seorang dacil…. karena hal ini suatu kelebihan yg tentunya tdk bisa dipaksakan….^_^…
agung
Wednesday, 14 September 2011
terlalu memaksakan anak dewasa sblm waktunya.
Pilda
Wednesday, 7 September 2011
Jangan mengarbit anak. Biarkan anak itu tumbuh bermain dan berkembang…jangan dipaksa memainkan tugas orang dewasa…