Pildacil, Perlukah?

(foto: http://tribunnews.com/)

Perlu! Mungkin itu yang akan banyak orang yang katakan kalau ada yang menanyakan apakah Pildacil alias Pemilihan Da’i Cilik itu perlu diadakan, bahkan dikembangkan. Mengapa? Tidak sedikit lho, orang-orang yang terbuka hati dan pikirannya karena anak kecil, di samping malu juga kayaknya kalau dianggap salah oleh mereka. Materi-materi yang beragam dapat disampaikan dengan gaya bicara yang lucu dan unik sehingga mudah dicerna siapapun. Ini adalah pembelajaran yang menyenangkan, bukan?

Di samping kelebihan-kelebihan tersebut, rupanya ada saja pihak yang memandang berbeda dengan persepsi kebanyakan orang. Sebut saja Ibu Anita, seorang ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa S2 merasa prihatin dengan keberadaan Pildacil. Beliau mengungkapkan, anak-anak seusia itu, yang rata-rata seusia anak sekolah dasar, seharusnya lebih difokuskan kepada pembelajaran formal yang lebih menjamin untuk masa depan.

Hal ini disimpulkan beliau berdasarkan beberapa tayangan serupa seperti Akademi Fantasi Indosiar Junior (AFI Junior), Mamamia, dan lain-lain. Mungkin namanya memang tenar dan beberapa kali diundang untuk konser ke mana-mana. Tapi, itu tak lama. Setelah ada acara yang menggantikan, nama-nama yang bersinar itu mulai redup dan akhirnya padam. Tidak menjadi masalah yang berarti kalau saja mereka, para finalis itu, memiliki penghasilan lain dan tidak menggantungkan diri pada entertainment. Bagaimana dengan yang seratus persen mata pencahariannya berasal dari kesanteran nama?

Belum lagi dengan perenggutan masa kecil yang seharusnya dijalani sewajarnya. Menurut beliau, anak-anak yang harus mengikuti seleksi dan karantina ini, tidak lebih baik dari anak-anak yang belajar biasa di sekolah dan berprestasi di sana. Pelatihan dan pembinaan lainnya memang bukan sesuatu yang buruk. Tapi bagaimanapun, belajar secara formal dengan baik adalah salah satu identitas anak yang mengenyam pendidikan.

Selain itu, bisa jadi para da’i cilik mengikuti Pildacil karena uang, sekadar suruhan orangtua, tidak tulus dari diri mereka sendiri. Akibatnya, si anak bisa missorientation atau kehilangan tujuan mereka. Cita-cita mereka. Tidak sedikit yang sampai memanipulasi data dan identitas agar bisa menang.

Pendapat yang berseberangan ini tidak dapat begitu saja dibenarkan. Acara Pildacil dapat menumbuhkembangkan keberanian anak untuk berbicara di depan banyak orang sekaligus menyampaikan ilmu dengan cara yang menarik. Banyak sekali para ilmuwan di dunia ini yang sangat pandai namun tak pandai menyampaikan. Hasilnya tentu saja tidak maksimal. Para da’i cilik dapat tampil lebih menyerap perhatian justru karena mereka masih kecil.

Meski kalah sekalipun, ia akan tetap mengundang simpati dan kasih sayang banyak orang. Lagi-lagi karena ia masih amat muda. Si anak sendiri bisa jadi malah menemukan tujuan hidupnya selama dikarantina. Artinya, ia jadi memiliki titik fokus untuk menjadi apa kelak di masa depan. Ilmunya bertambah, pertemanannya meluas, dakwahnya berpahala. Ini luar biasa, bukan?

Menurut pendapat saya, sebetulnya menjadi seorang da’i memang sesuatu hal yang fantastik. Luar biasa. Apalagi bagi anak-anak kecil. Namun, saya rasa hal seperti ini tidak seharusnya diperlombakan. Justru, sesama da’i harus bekerjasama membangun bangsa kita ini. Tujuan program seyogyianya bukan mencari siapa yang terbaik, melainkan, apa manfaat dan kemajuan yang bisa didapat dengan munculnya bibit unggul yang dahsyat itu.

About author
Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.
4 total comments on this postSubmit yours
  1. Mungkin sudah jamannya. Tontonan jadi tuntunan dan tuntunan jadi tontonan. Dilihat dari penyelenggaraannya, Pildacil, menurut saya lebih pada tontonan. Relatif sedikt orang yang melihat lebih pada memperhatikan isi ceramah, yang dilihat lebih “keta’juban” anak kecil yang bisa pidato

  2. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekuranganya masing2… sebagai orangtua yg baik yg kenal sama anaknya, tentu mengetahui kekurangan dan kelebihan anak2nya, adalah sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk mengoptimalkan kelebihan sang anak sekaligus mengisi kekurangannya….. tdk sedikit dai yg tdk memiliki anak seorang dacil…. karena hal ini suatu kelebihan yg tentunya tdk bisa dipaksakan….^_^…

  3. terlalu memaksakan anak dewasa sblm waktunya.

  4. Jangan mengarbit anak. Biarkan anak itu tumbuh bermain dan berkembang…jangan dipaksa memainkan tugas orang dewasa…

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.