Bank syariah lebih objektif dalam memperlakukan karyawan dan nasabah. Selain itu, bank jenis ini cenderung transparan dalam laporan keuangan. Fleksible dalam pelayanan juga menjadi nilai plus dari bank syariah. Hal ini Edi Rosman sampaikan dalam Inspirasi Ramadhan (Irama) pada Kamis (11/8), lalu.
Irama yang mengusung tema “Perkembangan Bank Syariah Untuk Mendukung Indonesia Yang Lebih Sejahtera” menghadirkan dua praktisi Perbankan Syariah. Mereka adalah Cecep Maskhanul Hakim dari Bank Indonesia dan Edi Rosman, pimpinan Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung.
Pak Edi menjelaskan, ekonomi syariah di Indonesia sudah mulai berkembang pada awal tahun 90-an. Bank syariah yang pertama berdiri adalah Bank Muamalat. Sayangnya keberadaan bank syariah belum familiar di masyarakat. Perkembangannya pada masa itu belum terlalu pesat. Kemudian pada 1999 berdiri Bank Syariah Mandiri dan diikuti oleh bank-bank lain.
Hambatan perkembangan bank syariah adalah kurangnya sosialisasi pemerintah. Akibatnya, masyarakat luas belum mengetahui manfaat berinvestasi di bank syariah. Bank syariah pun terhambat dengan pengalaman yang lebih minim dibanding bank konvensional. “Untuk itu, dibutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat dan pemerintah untuk mendukung keberhasilan program perbankan syariah ini,” tutur Cecep.
Adapun bank syariah dengan bank konvensional, menurut pak Edi, secara umum hampir sama. Hanya saja, produk bank syariah harus memiliki “akad” yang jelas. Setiap akad harus dimulai ucapan “basmallah” serta penerapan konsep islami lain.***



















