Ketika NII dan Salafy Jihadisme Bertaut Menjadi Jamaah Islamiyah

Ilustrasi: Solahudin

Ketika mendengar kata terorisme, apa yang sebenarnya Anda pikirkan? Jujur, jika pertanyaan tersebut Anda balikkan kepada saya,  saya memikirkan segerombolan militan bersurban yang beraksi sadis. Kemudian, tak jarang di mulut mereka keluar ucapan “Allahuakbar!”.

Ya, apa lagi yang saya bisa pikirkan tentang terorisme? Ini karena media, serta merta pemberitaan-pemberitaan terorisme yang mereka bombardirkan seolah telah membentuk paradigma tersendiri. Sialnya, paradigma tersebut dikuatkan oleh kasus-kasus terorisme yang silih datang lalu berganti di tiap tahunnya.

Joseph Goebbels, Menteri Propaganda kepercayaan Adolf Hitler pernah berkata, “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.”

Saya tidak mengatakan berita terorisme merupakan suatu kebohongan. Namun, terlalu sering ditampilkannya berita serupa membuat otak kita, baik sengaja maupun disengaja, membentuk persepsi tertentu. Orang yang berkehendak menegakkan hukum Islam di muka bumi adalah seorang teroris militan!

Memang, persepsi ini dikuatkan ketika pihak penyelidik menemukan bahwa pelaku serangkaian peledakan bom adalah jaringan Jamaah Islamiyah. Sejak 2002, beberapa “target negara Barat” telah diserang. Korban yang jatuh adalah turis Barat dan juga penduduk Indonesia. Terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002.

Solahudin, pada Jumat (19/8),  membahas buku karangannya, NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia di Ruang Utama Masjid ITB.  Selain membahas sejarah gerakan Jamaah Islamiyah (JI), Solahudin juga membahas pertalian antara NII-nya Kartosoewirjo serta pertaliannya dengan JI.

Solahudin memaparkan, menurut Muchlas alias Ali Ghufron duo pelaku Bom Bali, dirinya bersama Imam Samudera menganut faham Jamaah Jihad As Salafiyah alias Salafy Jihadisme. Salafy Jihadisme adalah satu aliran keagamaan dalam Islam yang mengaku menjadikan kaum Salafus Shaleh sebagai sumber rujukan utama.

Paham ini mirip paham Salafy, tapi punya perbedaan dalam pandangan soal jihad. Di antaranya Salafy Jihadisme memandang jihad menjadi ibadah yang utama setelah tauhid kepada Allah. Bahkan, jihad dilihat sebagai ibadah yang lebih utama dari puasa, zakat, haji dan lain-lain.

Abdullah Azzam, figur utama dalam perkembangan pergerakan jihad, berkata, “Orang yang membatalkan puasa pada bulan Ramadhan dengan sengaja, tanpa halangan dan dalam keadaan sehat itu lebih kecil dosanya daripada orang yang meninggalkan jihad, karena orang yang membatalkan puasa itu merugikan dirinya sendiri, sedangkan orang yang meninggalkan jihad adalah merugikan seluruh umat!”

Apakah makna jihad bagi mereka, kaum Salafy Jihadisme? Bagi mereka, makna syar’i jihad hanya Qital alias perang. Tak ada makna lain.  Hadits yang mengatakan jihad akbar adalah melawan hawa nafsu dianggap sebagai hadits palsu. Ayat-ayat jihad dalam Alquran yang maknanya bukan perang sudah dihapus oleh yaitu surat At Taubah 5 dan 36.

Bahkan, mereka menganggap teror-meneror adalah salah satu bagian dari jihad, merujuk pada QS Al Anfal 60, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan (turhibuna bihii) musuh Allah…” Kata Turhibuna bihii adalah perintah untuk melakukan teror terhadap musuh Islam.

Setiap orang yang menolak terorisme, termasuk Muslim, menurut kaum Salafy Jihadis adalah kafir. Karena irhab (membuat gentar) musuh-musuh kafir wajib hukumnya menurut syar’i berdasarkan ayat di atas. Dan barangsiapa mengingkari, berarti telah kafir.

Salafy Jihadis pun mengkategorisasikan kafir ke dalam dua bagian, yaitu kafir harby alias Far Enemy (Musuh Yang Jauh) yaitu Amerika dan sekutunya termasuk warga sipilnya. Mereka dianggap telah menduduki negeri-negeri Muslim seperti di Irak dan Afghanistan.

Kedua adalah kafir Ajnaby alias Near Enemy (Musuh Yang Dekat) yaitu pemerintah Indonesia beserta aparat-aparatnya yang dianggap kafir karena tidak menerapkan syariat Islam.

Di antara kondisi yang memperbolehkan membunuh orang-orang yang dilindungi darahnya secara sengaja adalah ketika kaum muslimin hendak membalas dendam kepada kaum kafir. Mereka memperlakukan kaum muslimin dalam memberi hukuman. Apabila kaum kafir menjadikan wanita dan anak-anak serta orang-orang tua kaum muslimin sebagai sasaran pembunuhan, maka dalam keadaan seperti itu diperbolehkan melakukan tindakan yang sama: menjadikan wanita dan anak-anak serta orang-orang tua kaum kafirin sebagai sasaran pembunuhan.

Darul Islam (DI), atau sekarang lebih sering disebut Negara Islam Indonesia (NII) memiliki ajaran yang seolah tampak serupa dengan Salafy Jihadisme. Misalnya, DI mengkafirkan pemerintah RI yang tidak mau menerapkan syariat Islam. Tak hanya itu, mereka juga memerangi umat Islam yang tidak mau bergabung dengan DI.

Dalam soal tata peribadatan, DI berbeda dengan Salafy. Kartosuwirjo dan orang-orang DI sendiri adalah penganut  Islam tradisionalis yang justru di mata kaum Salafy  sering dianggap sesat.  Kartosuwirjo sering menugaskan 40 ulama untuk berzikir guna menangkap isyarat-isyarat kemenangan dari langit.

Sepanjang 1971-1985-an, paham ajaran DI/TII mengalami proses pengoplosan dari ajaran-ajaran Islam yang datang dari Timur Tengah, khususnya Pakistan seperti Jamiat Al Islamy, Ikhwanul Muslimin (IM), dan Salafy. Hal ini terjadi karena banyaknya literatur buku-buku, JI, IM, dan Salafy yang masuk pada periode tersebut. Contohnya doktrin tauhid RMU (Rububiyah, Mulkiyah, dan Uluhiyah) versi DI yang banyak merujuk pada buku Maalim Fi Thariq karya Sayid Qutb dan Al Musthalahaat Al Arbaah.

Selain itu, pengoplosan paham DI juga disebabkan banyak kader baru DI/TII yang datang dari kalangan kaum modernis. Contohnya Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir, keduanya aktivis Al Irsyad dan DDII, yang bergabung dengan DI pada 1976.

Dari 1985 hingga awal 1990-an, sekitar 200-an orang-orang DI diberangkatkan ke Afghanistan untuk mengikuti idad askary di Harby Pohantum milik Syaikh Rasul Sayyaf. Tujuannya belajar ilmu kemiliteran untuk kemudian dipergunakan berjihad melawan pemerintah Orde Baru. Tak hanya idad askary, di Afghanistan juga orang-orang DI belajar paham baru, yaitu Salafy Jihadisme.

Adopsi paham Salafy Jihadisme oleh orang-orang DI di Afghanistan menimbulkan masalah di kalangan internal DI. Terjadi pengerasan ideologi di kalangan orang-orang DI, terutama alumni Afghanistan. Mereka menyerang pemahaman keagamaan orang-orang tua DI yang masih terpengaruh pemahaman Islam tradisional. Termasuk mereka mengkritik Ajengan Masduki, imam DI saat itu yang aqidahnya dianggap menyimpang karena menganut faham Thoriqot.

Akhirnya, muncul perpecahan di antara orang-orang DI yang menganut faham Salafy Kihadisme yang dipimpin oleh Abdullah Sungkar dengan orang-orang DI yang setia dengan Ajengan Masduki. Pada 1 Januari 1993, Abdullah Sungkar dan para pengikutnya memutuskan keluar dari DI dan membentuk Jamaah Islamiyah. Inilah gerakan Islam pertama di Indonesia yang secara terang-terangan menganut faham Salafy Jihadisme. Belakangan para aktivisnya banyak yang terlibat berbagai kasus terorisme di Indonesia. ***

 


1 comment on this postSubmit yours
  1. Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

    Ternyata ini yang menyebabkan mengapa salafy disebut sebagai aliran yang berbahaya. Namun sebenarnya ada 2 aliran Salafy, yaitu yang sudah disebutkan, Salafy Jihadisme, dan satu lagi adalah Salafy yang mengutamakan ibadah. Apa yang diajarkan oleh Salafy yang saya sebutkan terakhir ini tidak se-ekstrim Salafy Jihadisme, karena mereka menolak unsur terorisme tersebut. Sepertinya sering muncul kesalahpahaman ketika seseorang menyebutkan nama salafy. Padahal ajaran Salafy yang bukan jihadisme itu sangat indah, tidak se-ekstrim Salafy Jihadisme yang mengutamakan jihad dibanding ibadah lainnya. Saya sendiri belajar dari seorang yang menganut faham salafy, namun bukan salafy jihadisme. Namun ada yang membuat saya bingung, saya diceritakan oleh ketua DKM di masjid perumahan saya, bahwa memang ada 2 aliran salafy, jihadisme dan bukan, beliau juga berkata bahwa salah satu imam masjid perumahan saya tersebut menganut faham salafy yang bukan jihadis, akan tetapi dari yang saya perhatikan, apa yang imam masjid tersebut lakukan pada saat shalat dan apa yang diajarkan kepada saya oleh suami dari ibu saya itu berbeda. Saya sendiri bingung, padahal saya diceritakan beliau menganut faham salafy, dan memang mirip sekali ajarannya dengan yang diajarkan kepada saya, namun ada beberapa cara yang berbeda.

    Mungkin cukup sekian, saya tidak tahu mau menulis apa lagi, saya hanya bisa berharap bahwa orang-orang tidak mengganggap aliran salafy itu semuanya teroris. Semoga saja dengan tulisan ini bisa membuka wawasan tentang apa dan siapa itu salafy kepada orang-orang yang membacanya.

    Jazakumullah khoirun katsira

    Wassalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.