Hermawan K. Dipojono: Ramadhan di Salman ITB Tidak Perlu Gegap Gempita

Hermawan K. Dipojono, mengenal masjid Salman sejak 1974. (Foto: Yudha PS)

Sejak berdiri pada dekade ’70-an, masjid Salman selalu ramai saat Ramadhan. Walaupun dari waktu ke waktu, selalu ada yang berbeda dalam penyelenggaraan kegiatan Ramadhan di Salman ITB. Tantangannya juga berbeda.  Begitulah yang dituturkan Hermawan K. Dipojono, atau yang akrab disapa Mas Her, Anggota YPM Salman ITB.

“Jika dibandingkan dulu (era 70an) dengan sekarang tentu banyak perbedaannya,” kenangnya. Ia menjelaskan, pada tahun pertamanya di ITB (1974), jumlah masjid belumlah sebanyak sekarang. Apalagi masjid kampus, mungkin baru ITB yang saat itu sudah ada. Maka, ramadhan di Salman ITB menjadi gegap gempita.

Ia mengingat, saat itu di Jl. Ir H. Djuanda (Dago) saat subuh dipenuhi oleh orang-orang berkalung sajadah. Tujuannya jelas, shalat subuh berjamaah di masjid Salman ITB. Masjid Salman ITB pun disesaki jamaah yang menunaikan ibadah shalat subuh.

Minimnya akses ceramah, baik dari televisi maupun radio, mau tak mau membuat orang harus datang ke masjid untuk mendengarkan ceramah. Maka tak heran jika akhirnya Masjid Salman ITB juga dipenuhi oleh jamaah.

Prosesnya tentu tak semudah itu, dulu orang masih malu mengakui dan menunjukan dirinya memiliki identitas muslim. “Yang make kerudung juga belum ada, masih jarang”, jelas bapak tiga anak ini. “Karena kita bekas jajahan belanda, masih malu-malu. Simbol-simbol islam itu (oleh masyarakat) dianggap tidak modern”, tambahnya.

Sepinya Masjid Salman ITB membuat mahasiswa-mahasiswa yang dahulu menjadi panitia penyelenggaraan Ramadhan memikirkan terobosan baru. Di antaranya mendatangkan penyanyi yang saat itu sedang benar-benar tenar, Bimbo. Saat itu, konser musik merupakan hal yang spektakuler. Sejak saat itu, jamaah mulai ramai mendatangi Masjid Salman ITB.

Saat ini kondisinya sudah jauh berbeda. Mendengarkan ceramah sudah bisa dari berbagai media. Masjid sudah ada di mana-mana, termasuk di kampus, sekolah, dan perumahan warga. Jamaah pun menurun drastis, walaupun Masjid Salman ITB pada dasarnya tetap terisi.

Kendati demikian, ayah tiga orang anak ini menilai bahwa dakwah secara umum semakin bagus. Masjid-masjid yang lain pun terisi, tidak terkonsentrasi di Salman ITB.  Oleh karena itu, Salman ITB harus mempelopori untuk mengubah sesuatu yang lebih besar. Saat ini, dakwah di Salman ITB lebih ke arah pendalaman, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan. Jadi, dakwah bukan sekedar bertujuan memanggil orang ke masjid saja.

Menurutnya gegap gempita itu sudah tidak perlu. Sekarang lebih kependalaman, keseriusan, dan komitmen tinggi dalam mempelajari Islam. Sehingga Indonesia hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin.

Beliau berharap P3R (Panitia Penyelenggara Program Ramadhan) Salman ITB tahun ini bisa memberikan kesadaran pada publik. Bahwa dengan momentum ramadhan, kita memiliki tanggung jawab besar untuk membuat Indonesia esok yang lebih baik lagi, jadi cermin bagi bangsa lain.

” Punya tanggung jawab besar, sekaligus harus punya mimpi yang besar”, tutupnya.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.