Akhmaloka dan Masjid Salman ITB

Akhmaloka ketika membuka rangkaian acara Ramadhan 1432H di Masjid Salman ITB. (Foto: Yudha PS)

Akhmaloka ketika membuka rangkaian acara Ramadhan 1432H di Masjid Salman ITB. (Foto: Yudha PS)

Beberapa malam tarawih di Masjid Salman ITB, sosok berambut putih dan berbadan gemuk ini kerap hadir di Salman ITB. Keberadaannya tidak mencolok memang karena berbaur di barisan padat jamaah lainnya. Namun, mahasiswa ITB yang melihatnya pasti kenal siapa dia.

Adalah Prof. Akhmaloka, rektor ITB saat ini. Lulusan Kimia ITB tahun 1985 ini, memang punya kenangan yang cukup dekat dengan Masjid Salman ITB.

Ketika berkuliah di ITB dulu, dirinya kerap merasa bosan. Hal inilah yang mendorongnya untuk mempunyai aktivitas di luar kampus, dan Masjid Salman ITB merupakan pilihannya guna menghilangkan kebosanannya itu.

Di Masjid Salman ITB, Akhmaloka aktif di Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (Karisma) ITB. Di unit tertua di Salman ITB tersebut, Akhmaloka banyak berperan sebagai mentor dan pengajar bimbingan belajar, khususnya pelajaran Kimia.

Di Masjid Salman ITB, Akhmaloka sering diamanahi untuk menjemput penceramah shalat Jumat dan kuliah Dhuha. Hal ini membuatnya tahu alamat beberapa penceramah kondang saat itu, seperti Miftah Faridl, Jalaludin Rahmat, Amien Rais, dan Athian Ali.

Aktif di Masjid Salman ITB juga membuatnya memiliki banyak koneksi. Bukan hanya teman dari ITB saja, tetapi juga dari UNPAD dan UPI.

Menjelang Ramadhan, Akhmaloka juga memilih untuk berkecimpung dalam Panitia Pesiapan Program Ramadhan (P3R) Masjid Salman ITB pada 1981. Akhmaloka masih ingat betul bagaimana setiap akhir pekan Ramadan, dirinya dan teman-teman sesama panitia kerap tidur di balkon Masjid Salman ITB. “Paginya langsung kembung karena masuk angin,” kenangnya.

Salah satu hal yang dikenang Akhmaloka ketika aktif di Masjid Salman ITB adalah urusan makan. Meskipun dirinya bukan penghuni asrama Salman ITB, tapi dia kerap menumpang makan. Saat itu, makan di asrama Salman ITB sangat murah meriah. Dia hanya perlu iuran 12.500 Rupiah untuk makan 3 kali sehari.

Usai lulus dari ITB pada 1986, Akhmaloka melanjutkan kuliah ke Inggris sampai 1992. Setelah menjadi dosen di ITB, beliau membantu Salman ITB kembali dengan menjadi pengurus selama 2 tahun lamanya. Karena kesibukannya di ITB pada 1995, akhirnya Akhmaloka memilih fokus di ITB.

1 comment on this postSubmit yours
  1. besar iuran makan tahun 80-an:

    Rp. 12.500,00 itu untuk makan sebulan dan tiga kali sehari…
    Rp. 10.000,00 untuk dua kali makan/hari selama sebulan.
    Rp. 5 .000,00 untuk sekali makan/hari selama sebulan.

    ( untuk gambaran: kiriman rata-rata perbulan untuk mahasiswa pas-pasan Rp. 25.000 – 30.000,00 perbulan-, untuk “calon rektor” waktu itu ya sekitar Rp. 75.000,00, spp per semester Rp. 21.000,00)

    Teman makannya antara lain mas Hilal Hamdi, mas Chobir, mas Her dll….

    Kalau hari Jum’at masakan Bibik di dapur asrama agak istimewa…yaitu opor ayam…

    Senang juga ikut ‘makol’-makan kolektif di dapur asrama…bisa silaturahmi lebih akrab dengan sesama aktivis…..

    salam

    BW

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.