Lewat Foto Dede Yusuf, Anda Dapat Menghadirkan Sosoknya!

Foto: awdsgn.com

Anda mungkin tidak dapat menghadirkan Dede Yusuf secara fisik, sekarang, di hadapan saya. Namun, Anda dapat mewakili keberadaan Dede Yusuf melalui media lain. Perdengarkan saja rekaman pidatonya. Bahkan foto sosok Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut cukup dapat dijadikan representasi. Media-media tersebut disebut sebagai subtitusi (pengganti) dalam ilmu semiotika.

“Ilmu semiotika sendiri dapat disimpulkan sebagai ilmu yang mempelajari penggunaan tanda dalam masyarakat,” papar Yasraf Amir Piliang dalam Kuliah Umum “Memahami Bahasa Agama” pada Jumat, (12/8), pekan lalu.

Dalam kuliah tersebut, pendiri Yasraf Amir Piliang (YAP) Institute tersebut memahamkan peserta bahwa sebuah tanda harus memiliki makna. Sebuah tanda yang memiliki makna tersebut dapat digunakan sebagai subtitusi sesuatu yang lainnya.

Kemudian, Yasraf menampilkan gambar bunga mawar dalam slide presentasi yang dibawanya. Lantas, ia pun bertanya kepada peserta, “Ada yang bisa menyebutkan, gambar ini merupakan substitusi dari apa?”

Melihat peserta yang kebingungan, Yasraf akhirnya berinisiatif untuk ngebut melontarkan jawaban. “Ya tentu saja ini subtitusi dari bunga mawar yang sebenarnya,” ujarnya sembari disambut gelak tawa audiens. Lebih lanjut, Yasraf mengatakan bunga mawar acapkali dipandang sebagai subtitusi ucapan cinta kepada seseorang.

“Orang timur kerapkali lebih implisit dalam menyatakan cinta, sehingga cintanya di subtitusi dengan pemberian benda seperti membeli mobil mewah dan lain sebagainya,” papar pria kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 54 tahun silam.

Tanda, papar Yasraf, memiliki struktur. Tanda terdiri dari signifier (pemberi tanda) dan signified (pesan yang terkandung). Tentu, signifier dan signified merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Yasraf memberi perumpamaan seperti dirinya yang ingin memotong kertas tipis menjadi dua bagian. Tetapi setelah dipotong, tetap saja kertas tersebut memiliki dua sisi.

“Lagipula, tidak mungkin jika seseorang ingin menyatakan cinta dengan memberi bunga kepada calon mertua bilang, ‘Bu, saya ingin menyatakan cinta sekarang. Bunganya besok!’” canda Yasraf.

Semiotika dalam Penafsiran Ayat Quran

Dalam kuliah yang diadakan di GSS tersebut, Yasraf mengklaim dirinya masih dalam tahap awal menggunakan semiotika sebagai cara penafsirkan Al-Quran. Representasi Tuhan, papar Yasraf, bisa saja ditelaah lewat Al-Quran.

“Pertanyaannya, apakah Qur’an bermakna? Huruf-huruf yang terdapat di dalamnya pasti mengandung makna kan? Pernahkan Anda berpikir mengapa Allah, dalam firmanNya, menggunakan pemilihan kata yang berbeda antara ‘umat mereka’, ‘umatku’, dan ‘umat manusia’?” tanya Yasraf.

Yasraf kemudian menjelaskan bahwa pemilihan kata (diksi) dalam Al-Qur’an pasti dimaksudkan untuk merepresentasikan dengan tepat suatu konsep. Lebih jauh lagi, sebuah kata akan bermakna jika dikombinasikan dengan kata yang lain.

Kemudian, Yasraf mencoba menafsirkan Surat Al-Humazah ayat 4-6 melalui pendekatan semiotika. Misal, pada ayat 4 (Tidak sekali-kali tidak, sesungguhnya dia akan dilemparkan ke dalam neraka Hutama), kata ‘dilemparkan’ dapat berupa penandaan akan orientasi atau arah tujuan. Sedangkan kata ‘neraka’ dapat berupa sesuatu yang ‘rendah’, ‘hina’, dan berorientasi ke bawah.

Dalam menerjemahkan ayat Qur’an, Yasraf berpendapat tidaklah sekedar kata-kata yang diterjemahkan. Namun, diperlukan juga pemindahan makna sesuai kultur masyarakat yang menerjemahkannya. Seperti terdapat beberapa kata dalam Al-Qur’an yang memiliki arti yang sama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, yaitu “baik”.***

*

*

Top