Shaum sebagai Ajang Character Building

Prof. Dr. Miftah Faridl (Foto: Blogspot.com)

Prof. Dr. Miftah Faridl (Foto: Blogspot.com)

Shaum secara bahasa berarti al-imsak atau menahan diri. Dalam arti ritual, shaum bermakna berhenti makan-minum, berhubungan seks, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak subuh hingga magrib. Namun shaum dalam tuntunan Islam tidak hanya berupa penghentian hal-hal tersebut belaka, akan tapi juga berhenti dari kebiasaan-kebiasaan dosa, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Inilah shaum dalam arti yang sebenarnya.

Pada Ramadhan kali ini kembali kita merayakan proklamasi kemerdekaan. Mudah-mudahan makna yang kita raih sama dengan Ramadhan 66 tahun lalu. Pada 1945 Ramadhan membawa keberkahan bagi bangsa Indonesia berupa kemerdekaan. Karena itu, Ramadhan kali ini harus menjadi momen perbaikan kondisi bangsa. Perbaikan ini terutama pada bidang karakter dan moral bangsa.

Sebagai upaya perbaikan karakter dan moral bangsa, shaum memiliki andil yang besar. Shaum pada dasarnya merupakan latihan. Ada banyak latihan bagi seseorang yang sedang shaum, seperti latihan berakhlak mulia, tidak boleh bohong, tidak boleh ini dan itu. Selain itu, ketika shaum kita didorong untuk lebih dekat kepada Allah, dan lebih baik kepada manusia. Inilah karakter-karakter yang sekarang dibutuhkan. Jadi, kita harus menggunakan Ramadhan kali ini untuk mendidik diri kita masing-masing untuk membangun karakter (character building).

Tidak mudah membangun karakter di saat tantangan begitu banyak. Berbeda dengan zaman dulu. Untuk meraih kemerdekaan, tantangannya berupa serangan dari Belanda, Jepang dll. Namun saat ini, kita dihadapkan dengan tantangan berupa globalisasi dan revolusi informasi. Belum lagi kebebasan yang seakan tanpa batas, setelah digulirkannya reformasi. Tantangan inilah yang seringkali menggerus akhlak bangsa.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut kita membutuhkan kekuatan ruhiyah (spiritual). Putra-putra bangsa perlu memiliki kualitas spiritual yang tinggi agar mampu menyaring dampak globalisasi, paham materialisme, dan budaya yang tidak sesuai dengan norma bangsa. Norma bangsa ini dalam kacamata umat Islam tentunya adalah akhlak Islam.

Shaum sebenarnya mampu mengatasi tantangan-tantangan tersebut karena memiliki dua karakteristik:

Pertama, shaum merupakan latihan menahan diri. Ketika shaum kita menahan diri dari hal-hal yang halal karena menjadi haram. Apalagi dari yang haram, tentu harus semakin dijauhi lagi.

Kedua, shaum merupakan latihan menghargai orang lain. Shaum mempersempit peluang berbuat dosa. Ketika Ramadhan ada banyak ibadah yang mesti dikerjakan seperti shalat tarawih, tadarus, dsb. Karena itu, peluang untuk dosa dan bertengkar mudah-mudahkan menjadi lebih sempit. Ringkasnya, banyak kesalahan terjadi karena ada niat dan peluang. Niatnya ditutup dengan spirit shaum, sedangkan peluangnya ditutup dengan banyaknya amalan-amalan ibadah.

[irfan—disarikan dari wawancara dengan Dr.K.H. Miftah Faridl]

*

*

Top