Sebuah Mazhab Berjuluk Pragmatisme

Foto: Tristia Riskawati

Hei.

Telah terjadi kerumitan dalam kepala. Yang jadi biang keladi ialah sebuah mazhab filsafat berjuluk pragmatisme. Pragmatisme menegaskan bahwa segala sesuatunya bernilai benar, apabila membawa manfaat secara praktis bagi manusia.

Manfaat secara praktis bagi manusia? Manusia yang mana dulu? Bukannya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang serba subjektif. Masing-masing memiliki standar berbeda-beda dalam menentukan manfaat bagi dirinya sendiri.

Bagi masyarakat ultrakapitalis— manfaat didapat ketika sekumpulan orang tersebut mendapatkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Caranya?  Memperdayakan manusia dunia ketiga sebrutal-brutalnya. Coba deh sesekali Anda tonton film-film yang menceritakan geliat kaum kapitalis macam The New Rulers of The World.

Bagi kaum Zionis— manfaat didapat ketika mereka berhasil membebaskan tanah Jerussalem dan memberikannya kepada kaum Yahudi. Demi membebaskan tanah tersebut, Zionis melakukan apa saja— termasuk di dalamnya membantai warga Palestina. Kata kitab mereka tidaklah mengapa membantai orang— demi menciptakan tatanan yang telah diimpi-impikan. Coba Anda berpikir pakai sudut pandang ini. Niscaya, Anda akan paham.

Bagaimana dengan Anda? Mungkin sebuah manfaat akan didapat ketika Anda berhasil menikahi kecengan Anda saat ini. Atau mungkin ketika Anda menciptakan perpustakaan keliling bagi anak-anak tidak mampu. Atau ketika Anda ikutan gerakan cinta lingkungan macam Greenpeace.

Subjektif sekali bukan, standar manfaat milik kita? Sangat manusia.

Kerangka berpikir ini kemudian membuat saya— dalam fase mengantuk— mengacungkan tangan untuk bertanya kepada seorang dosen di kala mata kuliah filsafat.

“Pragmatisme menilai nilai benar atau salah sesuatu berdasarkan nilai manfaat yang dianut oleh siapa? Apakah nilai manfaat yang dianut oleh kaum mayoritas? Bagaimana jika kaum mayoritas tersebut menganut nilai-nilai kapitalisme yang kejinya luar biasa? Bagaimana dengan kaum minoritas? Apakah merekalah yang memiliki nilai manfaat yang ideal? Apakah kebenaran yang subjektif bagi masing-masing orang berpotensi untuk membuat kekacauan?”

Saya lupa jawabannya. Yang pasti, saya lupa karena jawabannya tidak memuaskan dan menggantung. Dapatkah Anda membantu menjawab pertanyaan yang secara usil ini muncul dalam benak?***

About author
Berusaha memberdaya, bukan diperdaya.
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.