Ramadhan Kemarin Saya Marah-Marah

Foto: diamondsart.blogspot.com

Jika Anda tanya kepada saya mengenai pengalaman berkesan Ramadhan kemarin, maka saya akan cerita ini. Suatu hari pada Ramadhan 1431 Hijriah, dengan gegabahnya saya pasang status kontroversial di facebook. Isinya menyoal tentang ketidaksukaan saya terhadap aktivitas mengaji Alquran yang “kayak ngejar setoran”.

Kalau tidak salah isinya seperti ini, “Ngapain tadarusan Alquran sampai ngos-ngosan tapi nggak sambil baca artinya. Sia-sia.”

Wah, seperti marah-marah, bukan?

Kontan, banyak komentar, baik bernada positif maupun negatif ikut nongkrong membahas status saya itu. Ada yang berkomentar, “Kasihan dong orang yang ngaji banyak-banyak tapi malah kamu bilang sia-sia.” Lalu saya jawab, “Ya kalau orang yang ngaji banyak-banyak tapi baca artinya mah nggak sia-sia. Pahalanya plus-plus. Ini saya merujuk pada orang yang ngaji banyak-banyak tapi nggak baca artinya. Buat apa?”

Berlanjutlah balas-balasan komentar di status saya.  Partisipan komentator terdiri dari beberapa orang yang pro dan kontra. Seorang teman menganjurkan saya untuk menghapus saja status tersebut. Saya ogah. Biarkan saja orang melihat saya seperti ini. Saya memang terlampau pongah untuk membiarkan diri saya terlihat apa adanya. Dan pada saat “konfrontasi” memuncak, rasa-rasanya saya harus berkontemplasi.

Walhasil, terdapat sebanyak tiga kesalahan yang saya temukan dalam meluncurkan status ini. Pertama, saya menulis “tadarusan”. Tadarus berasal dari kata tadarrosa, yatadarrosu yang berarti mengkaji atau menelaah.  Jadi, jika tadarus Alquran, tentu saja plus sambil membaca artinya. Kan namanya juga mau ditelaah.

Kedua, saya menggelontorkan status tersebut ketika saya gemas mendengar celetukan kanan-kiri. Mereka saling bertanya, “Sudah sampai juz mana mereka baca Alqurannya?” Seakan yang paling banyak baca juznya, dialah yang paling mulia, saya menggerutu.

Bisa jadi, memang ya. Namun, bagi saya, yang memosisikan Alquran sebagai bashairu linnaasi (cara pandang), huda (petunjuk), dan rahmah (kasih sayang) selalu menimbulkan kekaguman tersendiri. Ini dapat dilihat di Surat Al-Jatsiyah ayat 20. Kalau banyak-banyak juz sudah dibaca, tapi tidak berusaha belajar menghidupkan Alquran secara benar, buat apa, pikir saya.

Nah, untuk mengetahui bagaimana Alquran dapat menjadi cara pandang, petunjuk, dan kasih sayang bagi umat manusia—tentu dibutuhkan penelaahan. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk membaca Alquran seraya menelaah isinya secara saksama. Namun ,lambat laun saya jadi sedikit stress. Ini merujuk pada teman-teman saya yang lain sudah jauh melesat ke juz berapa, sedangkan penghentian terakhir saya baru sampai Al-Baqarah. Pada akhirnya, dimulailah “pemberontakan” lewat status tersebut. Jadi, status tadi sebenarnya sangatlah bersifat reaktif. Seharusnya saya bikin status itu ketika saya sudah tenang. Bahasa yang digunakan pun dijamin tidak terlalu provokatif.

Ketiga, ini mengacu cara saya menuliskan status tersebut. Teman saya mengingatkan, bisa jadi terdapat suatu lingkungan yang hanya menekankan kepada warganya untuk membaca Alquran tanpa menelaah maknanya.  Cahaya penerang dan pembeda khas Alquran terhalangi oleh pihak-pihak lain, baik sengaja maupun tidak sengaja. Ini menyebabkan, para warga tertipu dan merasa “untuk masuk surga, cukup mengaji saja banyak-banyak dan sholat yang rajin” Thok.

Sedangkan jika merujuk kepada status di atas, saya meminggirkan kaum-kaum yang tidak mendapatkan “cahaya” dengan semestinya. Saya memikirkan teman-teman di sekeliling saya, yang ketika itu dibanjiri “cahaya” yang melimpah ruah untuk belajar menelaah Alquran. Berhubung facebook adalah arena umum yang secara luas orang bisa membacanya, seharusnya saya memperhatikan perasaan teman facebook yang “tidak terkena cahaya” ketika membaca status saya nantinya.

Masalah pemikiran di balik status ini sendiri, terus terang, saya tidak pernah menganggap membaca Alquran atau murottal adalah pekerjaan yang sia-sia. Tidak akan pernah. Namun, perlu kita tanyakan kepada diri sendiri, yang mana yang perlu kita prioritaskan, mengaji marathon berjuz-juz atau mengetahui bagaimana cara menjalani kehidupan lewat Manual Book yang satu ini? Apa sebenarnya kewajiban kita yang sesungguhnya? Mana kewajiban yang secara jelas bikin kita  tertampar jika kita menelaah Alquran secara saksama?

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.”
Al-Maidah: 48

“Dan sesungguhnya Alquran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.”
(Az-Zukhruf: 4

Nah, jika ada sahabat-sahabat yang belum tahu bagaimana mengapresiasi Alquran– agar sesuai dengan tujuan yang dikehendaki-Nya, sepatutnya kita perlu berusaha memahamkannya. Dengan bahasa yang tepat dan dapat ia mengerti, tentunya (QS. 14:4). Dan tentu bukan menulis status labil nan penuh amarah seperti yang pernah saya lakukan.

Bisa dimulai dari Ramadhan tahun ini. Belajar Alquran, kemudian menyampaikannya.***

  • raya

    begitulah Allah membedakan seorang a’abid dgn seorang a’alim….
    begitu pula orang yang membaca Al-quran menggunakan ilmu & dgn yg tdk menggunakan ilmu…. berlainan pula ganjaran pahala yang Allah berikan. dan ini patut dipahami & dimengerti…
    so.. semuanya terserah anda,,,,, :)

  • http://jundiurna92.wordpress.com Wildaini Shalihah

    Bismillah… Sepakat teh, seperti dalam ungkapan di atas, “perlu kita tanyakan kepada diri sendiri, yang mana yang perlu kita prioritaskan, mengaji marathon berjuz-juz atau mengetahui bagaimana cara menjalani kehidupan lewat Manual Book yang satu ini? Apa sebenarnya kewajiban kita yang sesungguhnya? Mana kewajiban yang secara jelas bikin kita tertampar jika kita menelaah Alquran secara saksama?”

    Seringkali di bulan Ramadhan ini banyak orang berlomba-lomba ingin khatam Qur’an namun mengabaikan esensi yang lebih inti yaitu aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari…

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.