Pantaskah Kita? Renungan Mahalnya Biaya di Perguruan Tinggi Negeri

Oleh: Irfan Ramdani, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Foto: alankrenzzz.wordpress.com

Senin, 18 juli 2011, tidak pernah di duga akan ada kejadian seperti ini di depan mata sendiri. Saya diminta menjadi wali salah seorang calon mahasiswa untuk mengajukan pembebasan biaya karena dia tidak didampingi oleh orangtuanya. Pembebasan biaya tersebut karena ketidaksanggupannya untuk membayar uang masuk Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebesar 10.8 juta Rupiah. Angka yang sangat besar untuk golongan kita.

Ada hal yang membuat saya sangat kaget. Ketika datang ke tempat penangguhan salah satu fakultas, sudah banyak orangtua beserta anaknya yang diterima melalui SNMPTN tulis datang mengajukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan.

Jawabannya nihil alias tidak ada pembebasan biaya. Yang ada hanya penangguhan saja. Artinya anak tersebut tetap wajib membayar 10,8 juta rupiah paling akhir November 2011 dengan syarat harus membayar uang muka 2,7 juta rupiah. Anak tersebut mulai berkecil hati karena merasa tidak memiliki kesempatan untuk orang tidak punya seperti dia untuk kuliah.

Lalu saya dan anak tersebut disuruh advokasi ke BEM REMA. Kekagetan yang sama pun berulang kembali. Yang mengajukan advokasi ke REMA di gedung PKM juga membludak. Bukan hanya dari fakultas saja, tapi dari semua jurusan lari dan mengadu ke sini.

Namun di sana pun tak kunjung ada kepastian juga. Hingga pada akhirnya satu persatu mundur. Salah seorang ibu berkata pada anaknya, “Ayo nak, kita pulang saja. Tidak ada harapan untuk kita kuliah.” Ibu tersebut pulang sambil mengantar anaknya  yang menangis. Saya tak kuasa menahan amarah, kenapa ini bisa terjadi di negeri ini.

Tidak lama tepat di samping saya, seorang ibu jatuh pingsan dan tak berdaya karena dia hanya punya uang 5 juta rupiah sedangkan anaknya diharuskan membayar 5,432 juta Rupiah atau 50% dari biaya masuk sebagai uang muka. Hanya kurang 432 ribu Rupiah namun pihak universitas menolaknya. Padahal ibunya sepertinya telah berharap anaknya diterima di jurusan Pendidikan Kimia, jurusan yang cukup mempunyai nama dan berkelas di UPI.

Ini sungguh tidak adil. Saya yakin di antara mereka terdapat calon generasi penerus bangsa yang lebih hebat dibanding orang-orang kaya yang mampu membayar berapa saja untuk masuk kuliah. Sampai kapan pendidikan kita hanya untuk orang-orang yang punya duit saja? Sampai kapan kita berdiam diri dengan kenyataan yang ada? Busuk kalau kita nyaman berkuliah, sedang kita menutup mata dari yang terjadi di sekitar kita.

Mari buka mata kita, buka hati kita, masih banyak orang-orang yang tak mampu di luar sana. Buat yang sedang kuliah dengan nyaman di universitas, apakah kita sudah merasa bahwa kita telah belajar dengan sempurna? Sudahkah belajar dengan sungguh-sungguh? Oh mengapa kesempatan kuliah itu diberikan kepada kalian yang kerjanya hanya foya-foya saja.

Ayolah kawan bangun pendidikan bangsa dengan generasi yang memiliki loyalitas dan komitmen untuk membangun bangsa. Siapakah yang memilikinya? Ya, kita wahai para pemuda. Berjuanglah. Perjuangan itu memang pahit, karena surga itu sangatlah manis.

“Untuk adik-adik ku berjuanglah terus jangan pantang menyerah, perjuangkan hak kalian untuk tetap bisa kuliah, jikalau tidak, yakinlah Allah tahu apa yang terbaik untuk kita”

Peringatan dan cibiran untukku, agar selalu mensyukuri segala nikmatnya.

 

About author
Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.
12 total comments on this postSubmit yours
  1. Jaman ane kuliah di sebelah kebon binatang dulu spp 1,7 jt, habis itu dapet beasiswa. Maklum ortu sopir. jadi ya ga sanggup biayain. tapi susah dpt beasiswa di itb. cuma dapet supersemar sama alumni yang jumlahnya pas buat byar spp. kerja keliling bandung buat biaya kuliah.

    akhirnya lulus, dan Alhamdulillah lancar. kul di itb memang saat terberat dlm hidup ane tapi sekarang sudah bisa mulai ngrasain hasilnya. skrg udah dapet kerjaan dengan gaji yang lumayan

    Alangkah senangnya klo adek2 yang berbakat di bidang science tapi kurang mampu bisa kuliah di ITB seperti ane. Klo sekarang mungkin hanya bisa berdoa aja supaya Allah memberi keajaiban di negeri ini.

  2. Kalau Mentri pendidikan kita tidak merasa bersalah lebih baik tidak punya mentri pendidikan atau tidak punya presiden

  3. Kapan ya kita mempunyai pemimpin yang seperti Rasulullah,, meskipun itu hanya sedikit…. mari kita berjuang untuk kelangsungan hidup orang2 di bawah kita..

  4. nangis saya..
    astagfirullah..

  5. nangis… gw…..negara ini harus direformasi disemua lini bidang…… tapi ,”siapa yang akan melakukan itu” hanya allah swt yang tahu……

  6. Alokasi anggaran pendidikan yang mulai mencapai 20% ternyata berimbas pada naik nya biaya pendidikan …? sebuah kondisi yang kontradiksi …. padahal dalam UU negara ini menjamin pendidikan bagi warga negara nya … sebenarya dimana logika para pengambil kebijakan UPI yang konon katanya pendidikan ini dimaksudkna untuk membentuk manusia menjadi humanis … sebegitu rigid kah peraturan yang mereka buat ..? sebenarnya biaya mauk UPI 10 juta itu terbilang murah, karena di jalur UM nya, mesti membayar minimal 25 juta…. sungguh terlalu. Banyak sekali orang pintar sekarang yang pada akhirnya “terpenjara” oleh sistem pendidikan …. pada saat nya nanti mungkin kita hanya akan menungggu revolusi saja.

  7. Hanya orang2 yg punya niat dan smangat sekokoh baja yg bs melewati smua ini.sy yakin!!
    di UPI prnh trjadi 20 org hampir tdk jd kuliah, tp dg tekad tim advokasi yg kuat alhamdulillah bs diusahakan. jgn hanya menggunjing, tp bantu BEM, HMJ, smangati mahasiswanya, dan koordinasikan dg smua elemen yg bs mendukung. termasuk PERS!

  8. kuliah itu ga perlu biaya…cukup tiru aja cara salman khan dlm 3 Idiot…pd hakekatnya fitrah manusia itu cerdas, tanpa kuliah pun msh bisa menghidupi diri sendiri…

  9. Mahasiswa yang senior banyak yang omong doang. Mereka protes2 tentang masalah mahalnya biaya tapi mereka sendiri tetap memungut uang lagi untuk biaya orientasi sebesar 100-150rb an. Padahal bagi yang tak mampu kan tetap saja itu besar, terlebih lagi dengan yang belum bisa melunasi bpm. Ini fakta.

  10. sy salah stu yg minta pnangguhan jga.
    wktu itu pas d auditorium untk pngarahan, d sblah sya ada seorang ibu dan anak dr cilacap. si ibu sampai bilang, “ibu mah cuma punya 2jt. g ada lg. kalo g dtrima mah, g usah kuliah.”

  11. kemana nih warga UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA ?

  12. Miris… hampir nangis ini bacanya. Jadi sekarang kalo ditanya pendidikan itu untuk siapa? makanya jawabannya adalah “untuk semua orang Yang Punya Uang buat bayarnya”… yang gak punya uang cukup sekolah dasar saja … sampai SMP, bisa SMA brarti sudah untung. Gimana negeri ini mau punya penerus dan generasi yang berkualitas kalau mau pendidikannya mahal gini.

1 pingback on this post
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.