Menu Akademis Tahunan Itu Bernama “Curang”

Foto: the15project.wordpress.com

Orang-orang menganggap, sistem pendidikan kita bobrok. Tak dapat dinafikan, sistem pendidikan kita memudahkan kapitalisme terus bergulir. Soal bocoran yang diperjualbelikan, biaya kuliah yang makin meninggi, sogok-menyogok untuk masuk sekolah favorit, seakan menjadi menu yang senantiasa eksis di tiap tahunnya.

Karena bobrok, terkadang orang  menjadikan kebobrokan tersebut sebagai pembelaan untuk berbuat curang. Saya pun tidak lantas dapat menilai bahwa para guru curang yang berada di sekolah kualitas bawah adalah pendosa. Kita berada di sistem yang orang berbuat tak kotor pun kepalang kotor.

Bagi yang tak berbuat curang, kita perlu mengapresiasi. Mereka adalah kaum non-konformis yang tak peduli dengan pengagungan berlebih terhadap nilai. Mereka belajar karena ingin memahami pelajaran itu sendiri, bukan untuk meraih nilai brilian dalam ulangan. Mereka siap menghadapi kemungkinan terburuk: mendapatkan nilai paling jelek di kelas ketika teman-teman sekelasnya semua berbuat curang.

Tragis.  Seakan kita telah mengalami pembiasaan akan fenomena ini pada pertengahan tahun.  Timbul pertanyaan. Apakah nilai itu penting? Seberapa penting?

Sebelum saya menamati tulisan sangat singkat yang  disusun, sebelum Anda menjawab pertanyaan saya di atas, simak cuplikan pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High School di New York baru-baru ini. Disampaikan oleh wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun ini, Erica Goldson.

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya.

Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja.

Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.

Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar.

Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan.”

 

Sebagai insan Allah SWT, apakah nilai “straight A” dalam rapot menaikkan derajatmu? Hmm. Yang saya tahu, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat : 13).

 

About author
Berusaha memberdaya, bukan diperdaya.
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.