Oleh: Wildaini Shalihah, mahasiswi Jurnalistik UIN SGD Bandung
Seorang mahasiswa biasanya masih dianggap sebagai mahasiswa baru kalau belum genap satu tahun berkuliah. Definisi sederhana ini tentu yang terbuka untuk direvisi. Yang sulit justru mendefinisikan kata itu kalau dibalik menjadi : Ini Baru Mahasiswa.
Mahasiswa baru biasanya mempunyai harapan yang masih murni, langkah yang masih tulus dan lurus, semangat yang masih menggebu-gebu dan berapi-api, masih idealis. Perhatian mereka belum dialihkan kegiatan dan aktivitas yang sering kali membawa mereka keluar dari tujuan yang sebenarnya. Pikiran mereka pun belum dikotori isme-isme liar kelompok-kelompok jalang yang sering masuk keluar kampus tanpa melalui pintu. Pintu gerbang yang selalu dijaga simbol-simbol manis dan Islami, yang biasa tercermin pada logo masing-masing kampus.
Mahasiswa baru tak jarang identik dengan kultur sosial ketika sekolahnya dulu. Mereka terkadang masih harus menyesuaikan diri dengan kultur sosial di dunianya yang baru: Kampus. “Hari ini pelajaran apa aja, gurunya ada gak?”, ujar seorang mahasiswa baru yang keceplosan kebiasaan SMA-nya dulu. Kontan saja seorang mahasiswa “lama” menertawakannya dengan renyah, “Yang bener aja, ini dunia kampus cuy, bukan SMA lagi!”
Semuanya begitu berbeda. Kalau dulu ketika sekolah, guru selalu stand by memperhatikan perilaku siswanya satu per satu. Sekarang tidak lagi, bagi dosen, tak ada istilah stand by mengamati tingkah laku mahasiswa terkecuali hanya ketika berada di kelas saja. Sekarang begitu bebas. Mau bolos kuliah, tak ada yang larang. Hanya saja absen pasti dicek satu persatu ketika jelang UAS tiba. Toh ngapain juga harus selalu dimonitoring dosen, yang namanya mahasiswa kan sudah cukup dewasa menyikapi apa yang ia jalani.
Ketika baru semester pertama, mahasiswa baru biasanya masih menyesuaikan atmosfernya dulu ketika sekolah dengan atmosfir kampus yang baru dihadapi. Sistem pendidikan dengan SKS (Sistem Kredit Semester) merupakan sesuatu yang baru bagi mereka. Mereka biasanya baru mampu mencerna prosedur akademik saat akhir UAS semester pertama lalu merasakan jerih payah kuliahnya dengan hasil IP (indeks prestasi) perdananya. Jika IP nya bagus, ia bisa berbangga hati dan mudah-mudahan ia memiliki tekad agar semester selanjutnya mendapat IP yang lebih bagus. Namun, jika sebaliknya, ia mungkin akan cuek atau bersedih hati. Atau bahkan memutuskan pindah jurusan, karena merasa tidak betah dan merasa jurusan yang diambil adalah pilihan “sisa” yang membuatnya terdampar.
Mahasiswa baru ketika masuk dunia kampus mungkin akan terheran-heran dengan dunia yang begitu asing baginya. Seabreg kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dunia kampus bisa membuatnya bisa tertarik untuk bergabung atau menjaga jarak jika mulai timbul rasa curiga. Mahasiswa baru biasanya masih idealis, bahkan karena terlalu tulus dengan idealismenya, tak jarang terjebak dalam isme-isme liar yang menggerogoti idealismenya. Ada yang bertahan sampai setengah perjalanan lalu bersungguh-sungguh menuntaskan prosedur kelulusan dengan skripsi, KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa), praktek kerja, dan sebagainya. Ada pula yang tumbang di awal perjalanan karena tak sanggup bertahan dengan gelombang dinamika kampus.
Mahasiswa yang bertahan hingga setengah perjalanan pun masih saja ada yang merasa dirinya memang salah masuk jurusan, namun terlambat jika harus mengulang episode mahasiswanya dari awal. Sudah tanggung, tinggal menghadapi setengah perjalanan lagi menuju sarjana dengan penuh bimbang dan setengah hati. Mengapa begini?
Semuanya berawal dari proses seseorang menjadi mahasiswa. Mahasiswa baru bagaimanapun merupakan mereka yang mencoba meraih intelektualitas yang lebih di atas siswa biasa, makanya namanya pun “Mahasiswa”. Siswa yang maha, punya esensi lebih. Mahasiswa baru memang rentan terbawa arus deras yang menyeretnya pada jurang ideologi yang kelam.
Jadi bisakah kalimat “Ini Mahasiswa Baru” diubah menjadi kalimat : “Ini Baru Mahasiswa”? Jawabannya ada pada diri masing-masing. Merasakan masa-masa menjadi mahasiswa baru meninggalkan kesan yang berbeda. Tapi, jalanilah apa yang ada di depan mata dengan tetap memegang prinsip dan komitmen agar tak terombang-ambing dalam gelombang dinamika kampus.



![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)


Lettice
Saturday, 27 August 2011
It’s much easier to unrdesntad when you put it that way!