Ancaman Pembunuhan Membawa Samsoe Basaroedin ke Jalan yang Benar

Samsoe Basaroedin berasal dari latar belakang kejawen dan pernah hampir masuk agama nasrani. Kini beliau aktif berdakwah di jalan Islam (Foto: Tristia R)

“Hidup ini tidak lain adalah iman dan jihad.” Itulah moto hidup yang selalu dibawa oleh aktivis Salman yang satu ini. Agak mengherankan memang mendengar moto hidupnya itu jika mengingat masa lalunya. Tapi setelah menelusuri kisah hidupnya, hal tersebut tidak lagi jadi persoalan.

Ketika ditemui di ruang Divisi Pengkajian dan Penerbitan  (DPP) Salman ITB, Samsoe Basaroedin dengan begitu terbuka bercerita tentang pengalaman hidupnya. Pengalaman hidupnya dari seorang ‘muslim KTP’ sampai menjadi seorang muslim yang taat.

Samsoe Basaroedin dilahirkan di Sidoarjo 15 April 1956, dari keluarga muslim sinkretik berlatar kejawen dan kebatinan Jawa.  Tetapi beliau tidak pernah benar-benar meyakini kepercayaannya. Secara naluri, keragu-raguan akan keyakinannya sudah muncul bahkan sejak ia duduk di bangku SD.

Pada saat itu, ia pernah hampir menjadi penganut nasrani. “Kecenderungan mencari kebenaran itu berarti kan memang pada dasarnya ada pada diri setiap orang,” terangnya.

Pengalaman hampir menjadi penganut nasrani karena pengaruh dari kakeknya (adik neneknya) yang merupakan seorang pendeta. Pada saat itu, ketika kakeknya berkunjung, kakeknya selalu membawakan cerita-cerita anak terutama tentang Yesus. Di matanya, saat itu Yesus merupakan sosok yang sangat manusiawi, ramah, peduli dan simpatik.

Kepribadian Yesus tersebut alhasil mampu memikat naluri berpikir masa kanak-kanaknya. Dari sanalah awal ketertarikannya terhadap agama itu. Namun, sang kakak yang berjarak enam tahun dengannya mati-matian mencegah niatnya. Ia pun akhirnya tidak sempat dibaptis.

“Seperti orientalis”

Memasuki SMP dan SMA ia tetap menjalani kesehariannya sebagai seorang muslim penganut aliran kepercayaan. Tidak shalat, tidak melakukan ibadah ritual lainnya. Namun ternyata lulusan Teknik Elektro ITB ini sangat kompeten pada mata pelajaran agama. Ia kerap mendapat nilai delapan atau sembilan pada pelajaran itu. “Tapi sayangnya, entah bagaimana, pelajaran agama pun menurut saya kering,” ujarnya.

Menurutnya, pelajaran agama sama sekali tidak menyentuh hatinya. Ia memperlakukan agama sama seperti mata pelajaran lainnya, hanya sekadar kajian di ranah kognitif. Sehingga tidak terbentuk tsiqoh, komitmen dan ketaatan. “Seperti orientalis,” tegasnya.

Jadi Target Pembunuhan

Setelah melanjutkan studinya di Teknik Elektro ITB, aktivis Salman ini masih menjadi penganut aliran kebatinan. Bahkan ia berkelakar bahwa ketika itu teman-temannya di Himpunan maupun Dewan Mahasiswa tahu ia tidak pernah pergi shalat. Namun sebuah kejadian perlahan-lahan membawanya pada jalan Allah. Kejadian itu terjadi saat ia menjabat sebagai Ketua 1 di himpunan.

Seorang teman satu SMA yang juga kuliah di ITB marah besar hanya karena menganggap ia terlalu mencampuri urusannya. Bukan hanya marah, tapi juga mengancam membunuh. Temannya yang marah dan mengancam itu beragama kristen. Tapi lucunya, selama dalam masa pelarian, ia justru ditampung di rumah ketua umum himpunan yang juga beragama kristen. Hampir dua bulan ia ‘bersembunyi’ di rumah kakak tingkatnya itu.

Rupanya terancam mati menjadi salah satu penyebab pencarian kebenaran secara serius. Ketika itu yang menjadi perenungan dalam kondisi keyakinan dan agama yang tidak jelas adalah bagaimana nasibnya setelah mati. Menurutnya, ia tidak yakin ia akan masuk surga setelah mati. “Ya, terbayang kalau saya mati dibunuh ini, bagaimana nasib saya nanti?” selorohnya seraya terkekeh.

Berubah Haluan

Pasti ada proses dalam sebuah perubahan. Setelah kejadian itu pun tidak serta merta ia berubah menjadi taat seutuhnya. Butuh waktu berbulan-bulan. Dimulai dari hidayah yang datang, lalu mulai shalat lima waktu, sampai akhirnya mengikuti LMD (Latihan Mujahid Dakwah) pada bulan Oktober 1979 angkatan ke-40. Sejak mengikuti training tersebut, hidupnya berubah haluan. Ia mulai menjajaki kehidupannya sebagai aktifis dakwah.

Padahal, ia adalah anggota dari kubu Student Center ITB yang pada era itu berbau nasionalis atau kedaerahan atau sekuler. Bahkan kubu tersebut menjadi lawan kubu keislaman yang diwakili oleh aktifis Masjid Salman. Namun karena kehendak Allah, ia pun mengundurkan diri dari Student Centerdah beralih menjadi pejuang panji-panji Allah.

Setelah mengikuti LMD, ia memimpin beberapa usrah, antara lain usrah Khilafah Tauhid di Masjid Salman ITB, yang anggotanya adalah alumni LMD angkatan ke-40. Juga usrah Al-Ukhuwwah di Masjid Al-Ukhuwwah di lingkungan Sekeloa, Bandung. Bahkan sebelum aktif di Lembaga Pengkajian Islam (LPI) Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB di awal tahun 1990-an, ia aktif sebagai mediator pemersatu semua masjid-masjid di lingkungan Sekeloa, Kubang Selatan, dan Tubagus Ismail, Bandung.

Betah di Salman Karena Bebas Rokok

Sejak memilih kehidupannya yang baru, yaitu menjadi aktivis dakwah, ia tidak pernah berhenti sampai saat ini. Tidak heran. Sebab itu tercermin dari motto hidupnya. Sampai sekarang ia pun masih aktif di Salman. Bahkan ia punya ruangan khusus di ruangan utama masjid Salman, di bawah studio  Salmanradio.

“Apa yang membuat bapak sampai sekarang masih betah ada di Salman?”

Saya menyempatkan diri bertanya di sela-sela wawancara. “Kalau soal ini ya banyak. Yang paling pokok daerah Salman itu wilayah bebas rokok!”

Saya tergelak mendengar jawabannya. “Itu, iya!” tandasnya seraya meyakinkan saya. “Saya paling enjoy itu di Salman karena bisa mengingatkan orang tidak merokok.”

“Hmm…” saya pun hanya manggut-manggut.

  • http://soetarmom@gmail.com Soetarmo -

    Saya masih ingat ketika itu tahun 1979, di rumah Jl. Kubang Selatan 1suasananya mencekam. Karena sahabat terpandai diantara teman serumah diancam dibunuh oleh salah satu rekan serumah. Sehingga ustadz kita ini diungsikan ke rumah salah seorang jurusan Elektro. Terbayang ketika itu sang ustadz berjalan nggak tenang, takut disergap dari belakang. Bahkan ketika nonton film di Asia Afrika hati cemas. Akhirnya ada solusi ketika itu sang teman serumah minta ganti biaya untuk mencari kontrakan di luar. Ketika itu dibutuhkan biaya kontrak Rp. 20.000. Setelah teman-teman serumah bergerak cari pinjaman ke teman-teman yang lain. Akhirnya terkumpul Rp. 24.000, langsung kita bayarkan. Selesai sudah. Keesokan harinya sang teman ini pindah rumah. Sang ustadzpun pulang ke rumah Kubang Selatan

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.