Unit Literasi Aksara Salman ITB menyelenggarakan kajian Bincang Inspirasi Kamis Aksara (BIKA) dengan tema Budaya sebagai Mitigasi Bencana pada Kamis (24/03) di Selasar Hijau Masjid Salman ITB. Kajian BIKA kali ini merupakan bagian dari rangkaian acara Pekan Unjuk Literasi Salman (PULSA) dalam rangka memeriahkan milad Aksara ke-6. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama antara Aksara Salman ITB dengan Divisi Pengkajian dan Penerbitan (DPP) YPM Salman ITB, Divisi Pemberdayaan Masyarakat (DPM) YPM Salman ITB, dan Korps Relawan Salman (Korsa) ITB.
Kajian BIKA berjudul “Jepang Bisa, Kenapa Kita Tidak?” ini menghadirkan T. Bachtiar, dosen dan aktivis Kelompok Riset Cekungan Bandung, serta Widyaningtyas, Mahasiswa Tohoku University Jepang, selaku pembicara. Kajian ini berlangsung terkait bencana tsunami yang melanda Jepang dan kaitannya dengan budaya sebagai mitigasi bencana.
Berdasarkan pengalamannya, Widyaningtyas membenarkan adanya penanaman budaya di Jepang dalam mitigasi bencana. Hal tersebut terlihat dari adanya sosialisasi dan pelatihan kebencanaan yang dilakukan secara konsisten di setiap lembaga dan lapisan masyarakat setiap bulannya di Jepang.
Di lembaga yang Widya tempati di Jepang, pelatihan kebencanaan meliputi Earth Quake Drill, Fire Quake Drill, pelatihan tim medis, mobil simulator gempa, dan pelatihan budaya antri serta tidak panik dalam menghadapi bencana. “Di sana (Jepang) udah ada budayanya, jadi kita bisa lebih sensitif ketika ada bencana,” ungkap mahasiswa S3 Tohoko University ini.
Berbeda dengan Widya, T. Bachtiar mengungkapkan hal yang kontras terjadi di Indonesia. Beliau memaparkan ada beberapa alasan Indonesia belum memiliki dan menumbuhkan budaya dalam mitigasi bencana layaknya Jepang.
Alasan pertama, beliau mengungkapkan tentang tidak terlaksanya Standard Operation Procedure (SOP) yang berisi tanggap bencana. Padahal, SOP tersebut telah dirancang dan memakan waktu serta biaya yang cukup besar. Hal ini terjadi karena pemerintah merasa bencana tidak terjadi.
Kedua, kurangnya sosialisasi. Sosialisasi masih dianggap hal yang menakut-nakuti. Beliau menegaskan, sosialisasi adalah bentuk refleks terhadap bencana. Beliau mencontohkan dengan keadaan Gunung Guntur yang sampai saat ini belum tahu bagaimana kondisinya.
“(Sosialisasi bencana) di Indonesia masih malu-malu. Sosialisasi masih kurang dan dilakukan hanya ketika bencana sedang marak terjadi. Seharusnya, kapan pun dan di mana pun, kita refleks terhadap bencana,” tegas beliau.
Dalam acara yang berakhir menjelang maghrib ini, Bachtiar memberikan tips-tips untuk menumbuhkan budaya dalam mitigasi. Misalnya dengan kursus, latihan, dan pendidikan. Dalam hal pendidikan, beliau menegaskan bahwa sekolah adalah tempat yang paling bagus untuk menanamkan budaya. Misalnya, mulai dengan diadakannya pelatihan khusus bagi guru-guru serta memasukkan nilai-nilai dan tata cara mitigasi dalam mata pelajaran.
“Masukkan nilai-nilai mitigasi dalam mata pelajaran, tidak perlu membuat mata pelajaran baru, tetapi tambahkan saja jam mata pelajaran Geografi. Dengan begitu, kita telah mulai menumbuhkan budaya mitigasi di Indonesia,” tutup Bachtiar.


















