Pustena: Meniti Asa, Mengaburkan Ketidakjelasan Identitas

Cengkrama anak-anak Pustena (Foto: Tristia R.)

Aksara, salah satu unit literasi yang telah lama wara-wiri di Salman ITB, akhirnya mendapatkan “kawan sekamar”. Terhitung sekitar Nopember 2010 lalu, unit Pusat Teknologi Tepat Guna (Pustena) akhirnya ikut menempati sekretariat Aksara yang terletak di lantai 2 Gedung Kayu.

Kendati belum lama bersekre, Pustena bukanlah unit baru yang sedang mengais eksistensi di Salman ITB. Unit yang berkecimpung dalam bidang pemanfaatan teknologi sebagai media dakwah, bisnis, dan pengembangan budaya ini dirintis sejak era 1980-an.

“Dahulu, Pustena sempat berjaya. Pustena pernah menang dalam kompetisi robot tahun 1980-an. Lihat saja trophy di belakang,” tutur Muhammad Iqbal, Ketua Divisi Eksternal Pustena seraya menunjuk trophy setinggi perut yang terletak di sekre.

Mahasiswa Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informasi (STEI) ITB 2008 ini, pun mengklaim bahwa salah seorang alumni Pustena jugalah yang berjasa dalam mendirikan ComLabs di ITB. Namun Iqbal mengakui bahwa kiprah Pustena akhir-akhir ini tidak terlalu terlihat. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh program-program kerja Pustena yang semakin tidak jelas.

“Oleh karena itu, untuk saat ini, kami lebih berfokus pada stabilisasi struktur internal Pustena agar jangan sampai vakum,” ujar pria yang gemar bermain sepak bola ini.

Pustena memang sempat vakum selama beberapa tahun. Hal ini diakibatkan oleh ketidakjelasan program kerja yang Pustena usung. Mujurnya, Pustena saat ini sedang kedapatan beberapa proyek, baik proyek yang diciptakan mereka sendiri maupun proyek pesanan dari luar.

“Saat ini kami mendapat proyek membuat buku panduan membuat robot land-follower untuk pemula. Sedangkan proyek kami sendiri adalah membuat roket propelan dengan bahan bakar padat,” ujar Iqbal mantap.

“Jawalah, Pustenaku!”

Namanya juga anak muda, pasti inginnya tidak serius melulu. Begitu juga dengan anak Pustena yang seluruhnya mahasiswa. Berbagai bentuk canda dan tawa pun kerap kali mewarnai kekeluargaan di antara mereka.

“Biasanya yang bikin rame itu kalau kami sudah saling menjahili dan main ceng-cengan,” celetuk Iqbal sembari tersenyum geli.

Karena didominasi oleh kaum pria, maka kebersamaan yang dibangun pun dapat dibilang sangat erat. Selepas berkuliah, anak-anak Pustena kerap kali mengunjungi sekre sembari bermain internet atau mengerjakan proyek-proyek mereka. Faktor lain yang mungkin terdengar rasis adalah mayoritas anggota Pustena yang berasal dari tanah Jawa.

“Jadi ketika rapat sedang berlangsung, sering terdengar ucapan-ucapan dalam Bahasa Jawa. Ini memusingkan anak non Jawa yang mendengarnya, termasuk saya,” ujar alumni SMA Negeri 3 Bandung ini seraya tertawa.

Bahkan ketika ditanya apa harapan Iqbal untuk ke depannya, dengan kocak dia menjawab: “Jawalah Pustenaku!”

About author
Berusaha memberdaya, bukan diperdaya.
1 comment on this postSubmit yours
  1. Mudah-mudahan Pustena bisa kembali eksis. Rasanya aneh bila Masjid Salman ITB mengklaim sebagai masjidnya sekolah teknik, tetapi unit yang terkait teknik tidak ada di masjid ini. Kecuali, kita berpikir umat islam tidak perlu soal teknologi.

    Salam

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.