Dr. Muhammad Muflih, MA. – Dosen Prodi Keuangan Syariah Politeknik Negeri Bandung
Inflasi di dunia ekonomi modern sangat memberatkan masyarakat. Hal ini dikarenakan inflasi dapat mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi investasi, kenaikan biaya modal, dan ketidakjelasan ongkos serta pendapatan di masa yang akan datang.
Inflasi juga dapat menimbulkan konflik horizontal antara Bank Islam dengan para nasabah deposan yang bertindak sebagai shâhib al-mâl karena nilai modal yang diterimanya di kemudian hari lebih kecil dari nilai yang sebenarnya. Konflik horizontal juga dapat terjadi antara Bank Islam dengan nasabah murâbahah karena kasus inflasi mengakibatkan ketidakmungkinan Bank Islam menaikan harga jual murâbahah, sehingga nasabah tidak membayar harga menurut kenaikan inflasi.
Permasalahan tersebut menimbulkan reaksi para ahli ekonomi Islam modern, seperti Ahmad Hasan, Hifzu Rab, dan ‘Umar Vadillo, yang menyerukan penerapan kembali mata uang dînâr dan dirham sebagai jalan keluar penyelesaian kasus-kasus transaksi inflasioner di dunia ekonomi modern. Mereka beralasan bahwa mata uang logam mulia dînâr dan dirham dapat menjamin keamanan transaksi karena keduanya memberikan keseimbangan nilai terhadap setiap komoditas yang ditransaksikan. Gagasan ini memberikan akses terwujudnya ekonomi makro yang kuat dengan dukungan penuh mata uang yang berbasis kekuatan riil materialnya.
Alur gagasan ketiga ahli di atas tidak berhenti pada bentuk penerapan saja. Mereka juga mengungkapkan bahwa sistem mata uang dînâr dan dirham sangat mempengaruhi kekuatan struktur akad-akad mu‘âmalah, karena dapat menghindarkan risiko-risiko penggerusan nilai yang diakibatkan oleh inflasi. Dengan demikian, alur gagasan tersebut berpendapat bahwa keadilan transaksi mu‘âmalah sangat tergantung pada jenis mata uang yang digunakan.
Jika transaksi mu‘âmalah ingin mencapai keadilan, maka transaksi tersebut dibasiskan pada mata uang dînâr dan dirham. Itulah sebabnya kehadiran mata uang dînâr dan dirham merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan keadilan transaksi di Bank Islam, termasuk pula di tempat-tempat transaksi lainnya.
Atas dasar alur gagasan tersebut maka munculah rencana tindakan revolusioner yang ingin mengganti kedudukan mata uang kertas dengan mata uang dînâr dan dirham.
Kendati menarik, sesungguhnya gagasan tersebut memiliki kelemahan. Ada tiga alasan yang mengungkapkan kelemahan gagasan penerapan kedua mata uang logam mulia tersebut.
Pertama, dilihat dari sisi sejarah, penerapan mata uang dînâr dan dirham tidak selalu mengalami jalan yang mulus. Mata uang dînâr dan dirham pernah mengalami goncangan yang luar biasa sehingga mengakibatkan masyarakat kesulitan bertransaksi. Goncangan tersebut diakibatkan oleh perilaku ekonomi manusia yang destruktif dan gejolak alam yang sangat besar.
Perilaku destruktif itu berbentuk penimbunan (ihtikâr) dan pemalsuan mata uang (al-ghasy). Dalam kasus penimbunan, para penimbun sengaja melakukan sabotase suplai bahan-bahan makanan pokok sehingga harga-harga komoditas tersebut melambung tinggi. Kejadian ini selalu diungkapkan berulang-ulang dalam kitab fiqh dan sejarah.
Di abad ke-14 Masehi, al-Maqrîzî pernah menceritakan bahwa akibat kasus penimbunan, harga gandum pernah melonjak dari 400 dirham menjadi 450 dirham per liter ardib dan harga biji gandum melonjak dari 180 dirham menjadi 300 dirham per liter ardib. Akibat kejadian ini, maka harga gandum naik 12,5% dan harga biji gandum naik 66,6%. Dari kasus ini dapat diungkapkan bahwa nilai mata uang logam mulia dapat direkayasa melalui praktik-praktik penimbunan.
Pencemaran terhadap mata uang dînâr dan dirham juga terjadi pada kasus-kasus pemalsuan. Dalam kasus-kasus pemalsuan, para pemalsu sengaja melelehkan zat emas dînâr dan perak dirham, mengambil emas dan peraknya lalu memasukkan zat logam lain seperti tembaga, sehingga terjadilah penumpukkan emas dan perak asli di tangan pemalsu.
Keadaan ini telah menghilangkan kepercayaan publik terhadap mata uang dînâr dan dirham saat itu. Uniknya, peristiwa seperti ini tidak terjadi sekali, tetapi telah terjadi berkali-kali selama periode kekuasaan Islam klasik. Bahkan kejadian seperti ini telah merepotkan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb, sehingga ia menggagas mata uang yang terbuat dari kulit unta.
Gagasan ini sangat menarik, karena Khalifah ‘Umar merancang suatu sistem moneter baru yang tidak berbasis pada mata uang emas dan perak. Andai bukan karena alasan punahnya unta, publik di dunia Islam sudah lama menyaksikan sejarah digunakannya mata uang yang terbuat dari kulit.
Permasalahan pemalsuan mata uang dînâr dan dirham tersebut menjadi sangat serius karena kemudahan para pemalsu memalsukan mata uang dan kesulitan para penguasa Islam saat itu dalam memberantaskan tuntas pelaku-pelaku kejahatan tersebut. Walaupun ada penguasa Islam yang pernah berhasil menjerat pemalsu di suatu waktu, tetapi kasus tersebut muncul kembali di waktu lainnya.
Kegoncangan mata uang dînâr dan dirham semakin diperparah oleh gejolak alam yang luar biasa, seperti surutnya air sungai Nil, kekeringan di Syam, dan di tempat-tempat Islam lainnya. Peristiwa ini mengakibatkan pangan menjadi langka dan konflik di antara masyarakat. Kitab-kitab sejarah Islam klasik sering menceritakan bahwa kasus-kasus seperti ini telah menimbulkan banyak korban jiwa dan sering memaksa publik berperilaku ekstrim, yakni memakan bangkai dan sisa-sisa makanan yang sudah tidak layak lagi.
Alasan kedua, di dunia ekonomi modern, mata uang berbasis emas telah gagal dalam mengimbangi perdagangan dunia. Pengalaman Bretton Woods yang membasiskan sistem pertukaran mata uang dengan emas telah membuktikan kegagalan sistem mata uang seperti ini. Dolar berbasis emas di era Bretton Woods tidak mampu memberikan jaminan stabilitas pertukaran yang baik dan memaksa Amerika Serikat melakukan pengubahan sistem mata uang dari standar emas menjadi standar kertas.
Kehancuran sistem Bretton Woods ini ditandai dengan adanya peristiwa “Nixon Shock” pada 1971. Ketika itu emas Dolar Amerika mengalami kemerosotan dari 55% menjadi 22%. Oleh karena peristiwa ini, semula satu ons emas sama dengan 35 Dolar Amerika, kemudian berubah menjadi 68 Dolar Amerika, yang berarti bahwa nilai Dolar terhadap emas tergerus hingga 94,2%. Ini berarti bahwa negara industri besar telah kekurangan emas dalam memenuhi kebutuhan industri dan perdagangannya.
Sedangkan alasan ketiga, perbankan Islam rupanya tidak terlalu mendukung upaya penerapan mata uang logam mulia ini. Walaupun mulut mereka menerima karena selalu terlibat dalam forum-forum dînâr dan dirham, tetapi hati mereka masih berat melakukannya.
Kenyataannya hingga sekarang usulan-usulan tersebut tidak pernah direalisasikan dalam tindakan nyata. Sebaliknya, walau mereka menggunakan mata uang kertas, mereka tetap leluasa dalam menciptakan prestasi-prestasi keuangannya, baik dari segi peningkatan aset, peningkatan DPK, peningkatan profitabilitas, dan lain-lain.
Perbaikan Perilaku
Dari uraian di atas, sesungguhnya stabilitas nilai mata uang tidak didasarkan kepada zat mata uang, sehingga berefek pada tindakan revolusioner yang mengubah seluruh zat mata uang dari kertas ke logam mulia emas dan perak, melainkan dengan perbaikan perilaku ekonomi manusia yang berada di sekitar mata uang tersebut.
Ciri kerusakan mata uang dînâr-dirham dan mata uang kertas adalah sama, yakni sama-sama diakibatkan oleh perilaku ekonomi yang destruktif. Mata uang dînâr-dirham pernah rusak karena penimbunan dan pemalsuan, sedangkan mata uang kertas pernah rusak karena pembungaan dan spekulasi. Krisis moneter di akhir tahun sembilan puluhan dan krisis global yang terjadi baru-baru ini, bersumber dari pembungaan dan spekulasi tersebut.
Di sisi lain, pandangan Islam yang asli pun mengungkapkan bahwa penggunaan mata uang dînâr dan dirham bukanlah perintah agama, melainkan produk tradisi. Jika suatu tradisi manusia menghendaki penggunaan mata uang dînâr emas dan dirham perak, maka mata uang itulah yang wajib digunakan. Jika suatu tradisi menghendaki mata uang yang berbeda, maka mata uang yang berbeda itulah yang digunakan. Dengan demikian pandangan Islam seperti ini sangat fleksibel dengan perkembangan pemikiran dan tradisi yang berlaku di zamannya.
Dukungan Para Ekonom
Sebagai catatan penting, sikap kritis terhadap penerapan mata uang dînâr dan dirham ternyata telah ditunjukkan pula oleh tokoh ekonomi lain, baik di dalam maupun di luar negeri. Tokoh-tokoh tersebut seperti Sri-Edi Swasono dalam buku berjudul Menolak Neoliberalisme dan Membangun Ekonomi Nasional dan Zubair Hasan dalam artikel ilmiah berjudul Ensuring Exchange Rate Stability: Is return to Gold (Dinar) Possible?
Mereka mengungkapkan bahwa penerapan kembali mata uang dînâr dan dirham adalah imajiner, mengandung kedangkalan, dan tidak didukung oleh fakta ilmiah yang kuat. Dengan demikian, penolakan terhadap konsep penerapan kembali mata uang dînâr dan dirham telah menjadi isu penting yang dapat mereposisi kedudukan mata uang dalam dinamika sistem keuangan di dunia Islam.


![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)


maradeso
Friday, 30 March 2012
bikin saja satu mata uang du dunia ni
Rennov
Wednesday, 29 February 2012
Asumsi dasar yang digunakan pada argumen penggunaan emas sebagai alat tukar adalah emas lebih stabil daripada uang kertas yang bisa diproduksi sebanyak-banyaknya…
Pertanyaannya, apa iya…???
Berdasarkan data yang saya dapat, ketika Amerika sedang dilanda krisis, setidaknya 700 milyar dollar digelontorkan kepada perusahaan yang akan bankrut untuk dijadikan modal tambahan.
Jika asumsi di atas benar, maka di Amerika akan terjadi inflasi abnormal ya? Toh kenyataannya tidak. Justru apabila Amerika menggunakan emas sebagai dasar produksi uang, perusahaannya tuh akan bangkrut menyebabkan resesi yang lebih besar lagi… (Manfaat Fiat Money justru terlihat di sini)
Bagaimana menurut anda
Erlang Baha
Sunday, 8 January 2012
Saya telah membaca ulasan sejarah, ternyata bukan dinar dan dirham uang yang diinginkan atau menjadi tujuan Islam, keaadaan itu merupakan current state (keadaan jaman itu) tetapi bukan goal state (tujuan).
Bagaimanapun sejarah membuktikan fiat adalah uang terbaik sehingga keaadaan terciptanya itu bukan hanya atas kehendak golongan tertentu tetapi ketiadaan kemampuan dinar dan dirham mencukupi kebutuhan transaksi ekonomi.
Tapi fiat pun bukanlah goal state, diapun hanyalah current state (keadaan sementara di tiap termin jaman). Tujuannya sudah dicontohkan kehidupan nabi dan keluarganya yg bahkan masih kelaparan demi orang lain. Saya pikir tujuan islam adalah apa yang disebut economic based resources, seperti gambaran hari akhir dimana tidak ada orang yang mau menerima zakat karena kepemilikan berubah menjadi access.
Menurut buku yang saya baca, pengertian dinar dan dirham yg didengungkan Dr Mahatir Muhammad adalah penggunaan standar indeks harga barang pokok (coupple basket) untuk menghindari menggantungkan nilai pada satu komoditas tertentu (misalkan emas, perak, kopi, gandum dll) tetapi diindekskan seperti indeks kebutuhan pokok untuk menghindari permainan atas komoditas tertentu itu.
wahyu
Sunday, 15 January 2012
I like your comment
Beny
Tuesday, 3 January 2012
Setuju dengan abu Furan, kajian lebih lanjut agar penerapan dinar dirham lebih meluas dan keadilan terwujud, begitu bukan?
Kalau saja penulis cermat membaca tulisan-nya, sangat banyak celah dari tulisannya yang cenderung melihat dinar diham disandigkan dengan uang kertas.
Pemalsuan dinar dirham memang terjadi, dan lebih parah lagi dengan pemalsuan uang kertas. Kalau saja kita bisa berfikir lebih jernih, apakah mau kita menjual seekor kambing dengan hanya beberapa lembar kertas yg di atasnya di cetak angka2 dan dipaksakan nilainya? yg uang tersebut memiliki masa berlaku layaknya makan yg ada kadaluarsa-nya.
seandainya uang kertas itu solusi, pertanyaan saya yg sampai saat ini belum pernah terjawab adalah, kenapa nilai uang kertas berbeda2 di setiap negara?, sedangkan jika kita membandingkan harga garam dengan kualitas yg sama di indonesia dengan di india toh sama, 1 kg garam pastinya sama dengan 1 kg gam di india. ini lah sebuah keadilan, bukan Rp. 9000 = $1, ini gak masuk logika matematika. toh bahannya sama2 kerta kan?
Coba di renungkan analisa sederhana tersebut
Lukluk
Friday, 1 July 2011
Pak Abdullah,
Sumbang dukungan Pak…
saya pernah membaca olokan seseorang di forum detik yg berkata (google-key: Dinar vs Uang Kertas):
“Pernah dengar ekonom kaliber nobel bicara ttg kembali ke mata uang emas atau uang kertas yg di back-up emas? Mungkin jawabnya seperti iklan itu: hampir tak terdengar wuss….”
Jawaban olokan itu sudah ada di http://www.geraidinar.com, (google-key: Denasionalisasi Mata Uang Versi Pemenang Nobel Ekonomi…), sebuah buku berjudul: “Denationalisation of Money : The Argument Refined, An Analysis of the Theory and Practice of Concurrent Currencies”. (The Royal Swedish Academy of Science menganugerahkan hadiah Nobel dibidang ilmu ekonomi kepada seorang ekonom tua (75 th) Frederich August Von Hayek (1899-1992) untuk karya-karya dan pemikirannya – yang dipandang sangat relevan untuk saat itu.)
Bahkan info dari gerai dinar, Utah, negara bagian Amerika, telah menerapkan emas sbg alat tukar, disamping Klantan yg di Malaysia…
Jadi…
Masih layakkah pesimis, minder, apalagi apriori terhadap Dinar/Dirham (baca: sistem fixed-rate islam, mu’amalah)?
abdullah
Wednesday, 13 July 2011
alhamdulillah, muslim dan non muslim mulai memahami betapa kita sudah ditipu oleh segelintir elit super kaya dg sistem uang kertas mereka.
Kelantan adalah yg pertama. Apa yg dicapai oleh Kelantan satu langkah lebih maju karena dilindungi oleh UU. Negara bagian Perak kemudian menyusul.
Rakyat Amerika pun menyadarinya, Utah sudah mengeluarkan UU untuk mata uang emas dan perak. Setidaknya ada dua negara bagian lagi yg sudah mengajukan draf UU mata uang emas dan perak di Amerika.
Baru-baru ini DPR Swiss juga sedang membahas kemungkinan untuk menggunakan mata uang emas. Swiss adalah salah satu negara dg cadangan emas terbesar. Ini terkait dg krisis ekonomi yg di Eropa, dimulai dari Yunani dan sekarang merembet ke Italia. Anehnya demonstrasi besar-besaran yg terjadi di Yunani tidak mendapat tempat di media. Padahal jumlahnya sangat besar sekali. Ini adalah bukti, bahwa ada elit-elit dibalik layar yg menentukan apa yg harus diketahui oleh kita.
Bukan cuma muslim yg menderita oleh sistem ini, semua manusia apapun agama mereka menderita. Perlu diingat, bahwa riba juga dilarang oleh agama lain seperti Kristen dan Yahudi. Dalam Magna Carta disebutkan, bahwa mengenakan dan mengumpulkan bunga (riba) atas pinjaman akan dikenakan hukuman mati.
Reza Ageung
Thursday, 17 March 2011
Assalamu’alaikum
Please buka sanggahan terhadap artikel ini :
http://www.facebook.com/notes/reza-ageung/sanggahan-terhadap-ketidakmungkinan-penerapan-dinar-dirham/10150107519925914
syauqi
Tuesday, 15 March 2011
sepertinya yg bisa jadi argumentasi ketidakmungkinan cuman alasan kedua ajah..
alasan pertama hanya menjelaskan kenyataan yg sama antara mata uang emas dan fiat money.. tentu saja, emas cuman alat tukar.. ekonomi bergantung pada penawaran permintaan.. sehingga tabiat manusia dalam konteks inilah yg paling berpengaruh terhadap kondisi ekonomi.. emas pun tidak bisa lepas dari inflasi.. kasus sejarah yg cukup populer seperti musa dari timbuktu yg pergi haji bawa2 kekayaan emas besar dan kafilahnya berjumlah 18.000 orang.. niatnya pergi haji itu malah bikin superinflasi di mesir, makkah, dan madinah..
alasan ketiga.. tentu saja penerapan seperti ini butuh political will yg kuat.. tentunya harus dari pemerintah.. tapi itu bukan excuse atas ketidakmungkinan penerapannya..
alasan kedua yg saya pikir bisa jadi bahan kajian untuk pendukung mata uang emas.. bagaimana emas dapat mendukung kemampuan pembangunan2 ekonomi yg besar.. tapi tangapan sederhana dari saya, daripada mengatakannya sebagai kegagalan emas memenuhi kebutuhan perindustrian negara besar, bukankah sebenarnya pembangunan2 yg “besar tersebut” didasari oleh seignorage atau perbedaan nilai intrinsik.. apakah perekonomian yg seperti ini layak dipertahankan?
abdullah
Thursday, 24 March 2011
Justru alasan kedua malah mematahkan judul tulisan ini “Ketidakmungkinan Penerapan Mata Uang Dinar dan Dirham pada Ekonomi Modern”.
Mereka menerbitkan lebih banyak dolar kertas ketimbang cadangan emas yang dimiliki. Jadi yang bermasalah adalah uang kertas yang sirkulasinya melebihi cadangan emas. Bukan emas itu sendiri.
Tentu saja mereka tidak sanggup mematok dengan emas lagi. Karena tidak ada cukup emas di dunia untuk menalangi bunga/riba(Bank “Syariah” menyebutnya bagi hasil, tapi pada kenyataannya itu sama saja. Uang beranak uang. Berbeda dengan bagi hasil dalam Islam) dalam sistem yang mereka buat ini.
“Nixon Shock” terjadi karena Amerika secara sepihak melepas dolar dari patokan emas dengan begitu berakhir pula sistem bretton woods. Sehingga dolar menjadi fiat currency total. Jadi ini juga akibat dari uang kertas. Bukan emas itu sendiri.
faktanya semua argumen penulis sebenarnya adalah atribut uang kertas. Namun dengan permainan kata yang terampil dia membuat seakan-akan itu adalah atribut dari emas.
Bretton woods seharusnya membuka mata kita semua. Sistem ini didesain oleh segilintir bankir super kaya. Sampai sekarang pun, sistem dolar masih belum berubah. Sedikit modifikasi saja karena dolar tidak lagi dipatok ke emas. Siapa yang mengontrol suplai uang dialah yang mengontrol suatu negara. Para pemimpin negara dunia punya dua pilihan. Ikut mereka atau menentang mereka. Tentu saja hampir tidak mungkin seorang pemimpin negara dapat menentang mereka tanpa resiko kehilangan tahta akibat kekacauan artifisial yang dibuat oleh para bankir.
Abu Furqan
Tuesday, 15 March 2011
afwan, maksudnya komentar di bawah saya. (NB: Ternyata komentar terbaru malah di posisi atas
)
Abu Furqan
Tuesday, 15 March 2011
Komentar pak Abdullah (di atas saya) rasanya terlalu tendensius dan tidak argumentatif. Beberapa alasan yang diajukan Dr. Muflih harusnya dijadikan bahan kajian lanjut bagi pegiat dinar-dirham, bukan malah dicemooh.
abdullah
Sunday, 27 February 2011
pada saat anda menulis ini, dinar dan dirham sudah populer kembali. bahkan di Malaysia, sudah didukung oleh UU dari salah satu negara bagiannya: Kelantan. Semakin banyak jaringan distribusi dinar dirham baru setiap bulannya diseluruh dunia.
anda hanya tidak bisa menerima kenyataan ini. ratusan kata anda tulis, tapi tidak satupun yang menyampaikan fakta dari judul blog post ini: “Ketidakmungkinan Penerapan Mata Uang Dinar dan Dirham pada Ekonomi Modern”. berputar-putar dengan retorika dan permainan kata, sementara kami Umat Islam dan non Islam sudah pada tahap implementasi. Kelantan adalah negara bagian pertama di dunia yang menggunakan dinar dirham semenjak terakhir kali Khilafah berdiri pada tahun 1924. Jika anda tidak menutup mata dan telinga, ini akan menjadi jelas.
Semoga Allah menolong Umat Manusia dan Umat Islam dan semoga Allah menimpakan celaka kepada anda dan siapa saja yang mencoba mencari jalan selain dari jalan Allah.