Hermawan K Dipojono: “A big job”

Hermawan Kresno Dipojono (Foto: Yudha PS)

Hermawan Kresno Dipojono (Foto: Yudha PS)

Sosoknya mungil. Rambutnya telah mengelabu. Mungkin lagaknya tak jauh berbeda dengan kakek Anda, ataupun bapak penjual martabak di seberang rumah. Namun jangan ditanya, auranya begitu memancar kuat. Terbukti, sekumpulan anak muda di depannya seolah terkipasi pijaran api semangat yang dia kompori.

Never ever surrender!” ujarnya gempar. Jiwa pun bergelora menangkap suaranya.

Itulah Hermawan K. Dipojono, salah satu pembina YPM Salman ITB. Pria yang akrab dipanggil Mas Her ini, berkesempatan menjadi pengisi acara ifthar gabungan dua unit Masjid Salman ITB. Unit tersebut  adalah Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB, dan Aksara—unit penggiat literasi di lingkungan Masjid Salman ITB.

Lucunya, yang berperan sebagai pembawa acara ifthar gabungan tersebut ialah masing-masing ketua dari kedua unit tersebut. Rosikh Falah dari Karisma ITB dan Sunarko Dardjono dari Aksara membuka acara dengan santai dan luwes, hingga pada akhirnya mempersilakan Mas Her untuk membagi petuah-petuah magisnya.

Kendati tema yang diberikan panitia adalah membangkitkan semangat menjelang semester baru, tetapi Mas Her asyik menceritakan perjalanan hidupnya. Bagaimana dulu dia hanyalah berlabel anak desa, dapat kesempatan belajar di ITB, hingga akhirnya menginjakkan kaki di asrama Masjid Salman ITB. Semuanya dia paparkan dalam tutur kata yang memukau hati.

“Ketika di (Masjid) Salman, saya takjub sekali. Bayangkan, seorang doktor jadi khatib Shalat Jum’at! Kalau di kampung saya, (orang) yang pakai sarung saja yang jadi khatib,” ujar Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB ini.

Cerita Mas Her berlanjut tentang rupa asrama Masjid Salman ITB yang dulu hanya berupa bilik bambu. Dengan jenaka, Mas Her mengaku bahwa dia langsung masuk angin di hari-hari pertamanya menempati asrama tersebut. Kemudian, seiring berjalannya waktu, ia memantapkan mimpinya: berkuliah di Amerika Serikat.

“Bermimpi itu harus yang besar!” seru Mas Her.

Mas Her, yang akhirnya berkuliah dan tinggal di daerah Ohio, Amerika Serikat, benar-benar membuat aktivis Karisma ITB dan Aksara kesengsem. Kemudian, dia berkisah tentang kunjungan-kunjungannya ke kota-kota besar di seantero dunia.

“Saya pernah ke Paris, Frankfurt, Piramida, Niagara Falls, padang di Afrika. Dan kebanyakan ongkosnya gratis, karena saya bekerja sebagai peneliti.”

Ucapan ini lantas membuat para peserta Ifthar makin berbinar dan “terkipas-kipasi”.  Untuk meraih mimpi-mimpi besar, kuncinya, menurut Mas Her, hanyalah satu.

“Rajin-rajinlah baca sirah Nabi dan kisah-kisah orang sukses. Dan itu lho, seperti yang di novel Negeri 5 Menara itu. Man jadda wajada. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan sukses.”

Tambahan, sebagai khalifatullah di muka bumi, manusia seyogyanya memiliki tanggung jawab yang besar, simpul Mas Her.

That’s a big big job to be khalifah! Maka dari itu, rajin-rajinlah berolahraga, dan jagalah Alquran agar selalu di hati kita dengan menghapalkannya.” ***

About author
Berusaha memberdaya, bukan diperdaya.
1 comment on this postSubmit yours
  1. Wah, ceritanya menarik Pak Ustad, sebagaimana juga yang ditulis di buku bang Imad. UStad, jika berkenan saya pengin memiliki cerita penting tentang bagaiamana Bang Imad mengkader mahasiswa ITB dengan LMD-nya.
    Saya da’i Dewan Da’wah, dan mendapat tugas untuk meneliti tentang pemikiran dan gerakan da’wah bang Imad.
    Saya, pernah nelpon panjenengan tapi susah masuk yang dikasih pengurus Masjid Salman, maklum .
    Syukran
    A. Misbahul Anam (Email: tabahkan@gmail, hp. 081384467866

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.