Muhammad dan Peletakan Hajar Aswad

Foto: ivarfjeld.wordpress.com

Foto: ivarfjeld.wordpress.com

Hadits Israiliyat adalah kisah-kisah yang berasal dari kaum Nasrani atau Yahudi. Dalam hadits ini diceritakan pembangunan Ka’bah untuk pertama kalinya. Menurut riwayat tersebut, nabi yang pertama kali membangun Ka’bah adalah nabi Adam dan diteruskan oleh nabi Syit. Selain bentuknya yang tidak seperti saat ini, Ka’bah hilang karena banjir bandang pada masa nabi Nuh, meski Hajar Aswadnya masih tetap berada di tempat.

Menurut riwayat yang shahih, Ka’bah pertama kali dibangun oleh nabi Ibrahim yang dibantu nabi Ismail atas wahyu Allah. Bukti yang paling jelas adalah adanya maqam Ibrahim. Maqam ini bukan berarti kuburan, tetapi tempat berdirinya nabi Ibrahim. Ketika memulai pembangunan, Ismail diminta mencari batu untuk Ka’bah. Ketika kembali dengan membawa batu, ternyata bersama Ibrahim sudah ada batu yang diantarkan malaikat Jibril.

Robohnya Ka’bah dan Peletakan Kembali Hajar Aswad

Setelah didirikan nabi Ibrahim, Ka’bah roboh beberapa kali. Ketika Ka’bah roboh untuk pertama kalinya karena banjir, kabilah Amaliqah membangunnya kembali. Tatkala roboh untuk yang kedua kalinya, kabilah Jurhum membangunnya kembali. Pada roboh yang ketiga kalinya, kaum Quraisy yang membangunnya. Pada saat itu, Muhammad sudah menjadi pemuda dewasa. Menurut riwayat Abdur Razaq dan Ibnu Ishaq, usia Beliau saat itu 35 tahun.

Di masa Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengelola Ka’bah selepas nabi Ibrahim. Di masa Qusai ini, Ka’bah ditinggikan menjadi 25 hasta dan diberi atap. Setelah Hajar Aswad ditemukan, Qusai meletakkannya kembali.

Ketika roboh untuk yang ketiga kali, kabilah-kabilah yang ada bergotong royong memperbaiki Ka’bah. Namun tidak ada yang berani menyentuh Hajar Aswad. Ketika semuanya selesai, mulailah percekcokan mengenai siapa yang berhak memindahkan Hajar Aswad. Suasana semakin memanas setelah Bani Abdud Durar dan Syam membawa baskom berisi darah. Baskom  darah merupakan simbol bahwa mereka akan mengerjakan sesuatu hingga titik darah penghabisan. Suasana genting tersebut berlangsung selama kurang lebih 5 hari.

Imam Ahmad dan beberapa ahli sejarah menuturkan pada saat kaum Quraisy berselisih pendapat tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat semua, segologan dari mereka berpendapat untuk mencari seorang penengah. Kemudian mereka sepakat bahwa yang berhak menjadi penengah adalah orang yang pertama kali keluar dari salah satu jalan di kota Makkah. Sesaat kemudian, tiba-tiba yang muncul pertama kali adalah Muhammad. Mereka pun lalu berkata, “Lihatlah, kita telah kedatangan orang yang sangat bisa dipercaya (Al-Amin)”.

Mereka menyampaikan kesepakatan yang telah mereka buat kepada Muhammad. Muhammad tidak egois meletakkan hajar aswad sendirian, meskipun beliau berhak dengan kesepakatan yang telah dibuat. Beliau memilih untuk menyatukan kabilah-kabilah yang hampir terpecah tersebut.

Muhammad bangkit dan meletakkan Hajar Aswad di atas sebuah kain panjang. Setelah itu, Beliau memanggil seluruh kepala kabilah untuk bersama-sama mengangkat Hajar Aswad ke tempat semula. Terlihat para kepala kabilah memegang tepi kain tersebut. Kemudian mereka berjalan menuju ke dekat Ka’bah, lalu mereka berhenti. Muhammad kemudian mengambil Hajar Aswad dengan kedua tangannya serta meletakkannya kembali ke tempatnya.

Dari cerita ini, setidakny ada 2 hikmah yang bisa dipetik, yaitu:

  1. Kepuasan kaum Quraisy terhadap solusi yang diberikan oleh Muhammad untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Gelar Al Amin dari mereka untuk Muhammad, merupakan bukti bahwa perilaku beliau selalu dibimbing Allah. Rekam jejak inilah yang membuat bangsa kaum Quraisy tidak bisa secara terang-terangan menolak kenabian Muhammad.
  2. Peran Muhammad di tengah-tengah penduduk Makkah pada waktu itu sangat beragam. Peran ini meliputi seluruh sisi kehidupan sosial yang ada. Rasulullah selalu terlibat pada berbagai peristiwa penting seperti masalah Hajar Aswad ini, dan sebelumnya perang Fijar serta perjanjian Hilful Fudhul. Peran positif beliau senantiasa dilandasi satu tujuan mulia, yaitu menempatkan yang haq pada tempatnya dan menegakkan nilai-nilai kebenaran serta keadilan.

Disarikan dari seri kajian sirah Nabawiyah di Masjid Salman ITB pada 11 Januari 2011 oleh Ust. Zulkarnain, S.ThI.

Related posts

*

*

Top