Masjid Salman dalam Perspektif Arsitektur Ahmad Noe’man

Oleh: Shinta Asarina dan Fery Adi Prasetyo

Dua orang jemaah Masjid Salman ITB tengah menikmati terbitnya matahari di koridor masjid (Foto: Yudha PS)

Dua orang jemaah Masjid Salman ITB tengah menikmati terbitnya matahari di koridor masjid (Foto: Yudha PS)

Berada di lingkungan yang asri di Jalan Ganesa, Bandung, Masjid Salman ITB turut memancarkan nuansa kesejukan di dalamnya. Pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya pun turut membuat nyaman dengan udara segar yang mereka hasilkan. Tak heran jika masjid ini tak pernah sepi. Selain orang-orang yang hendak beribadah, banyak juga yang datang ke Masjid Salman untuk berkumpul, mentoring, atau hanya sekedar untuk melepas penat seusai kuliah.

Berkapasitas sekitar seribu orang, Masjid Salman ITB tercatat sebagai masjid pertama di Indonesia yang berada di lingkungan kampus. Masjid yang dirancang pada tahun 1964 oleh Achmad Noe’man ini, boleh dibilang juga sebagai masjid pertama dengan arsitektur masjid modern. Namun, jika dilihat dari lokasinya yang berada di sekitar kampus yang memang sarat akan dinamika dan semangat pembaharuan, hal tersebut merupakan hal yang wajar.

Landasan Syariah

Berbicara mengenai arsitekturnya, Masjid Salman ITB merupakan manifestasi dari gagasan Ahmad Noe’man. Selaku perancangnya, beliau menentang sikap taqlid (meniru) dalam pembangunan masjid tanpa pemahaman akan kaidah-kaidah yang seharusnya.

Menurut Ahmad Noe’man, hal ini berlandaskan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 170: “Dan apabila dikatakan pada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’, mereka menjawab ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. ‘(Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?‘”.

Lebih lanjut, Ahmad Noe’man menyampaikan bahwa tidak ada yang disebut sebagai arsitektur Islam sepanjang suatu ide atau karya tidak sesuai disiplin ilmu arsitektur. Landasan beliau adalah hadits berikut: “Dan apabila sesuatu itu merupakan urusan duniamu, maka engkaulah yang lebih mengetahuinya (berhak menentukannya)”.

Bisa dibilang para arsitek-lah yang berhak mewujudkan gagasan dalam perancangan suatu bangunan, sepanjang tidak menyalahi tuntunan Rasulullah SAW, tanpa harus terikat budaya-budaya yang telah ada.

Rancangan Masjid dan Keunikannya

Menara Masjid Salman ITB menjelang terbitnya matahari (Foto: Yudha PS)

Menara Masjid Salman ITB menjelang terbitnya matahari (Foto: Yudha PS)

Pemahaman Ahmad Noe’man di bidang arsitektur dan syariah secara Islam, telah melahirkan gagasan baru dalam arsitektur masjid. Bahkan jika dilihat dari luar, bangunan ini tidak terlihat sebagai masjid. Alih-alih terdapat kubah di atasnya, masjid ini justru didesain menggunakan atap datar yang setiap ujungnya melengkung ke atas sehingga menyerupai cawan yang terbuka.

Menurut Ahmad Noe’man, bentuk atap beton yang membentang sejauh 25 meter tersebut, merupakan interpretasi beliau dari bentuk negatif atap bangunan Aula Timur ITB yang juga menjadi ciri khas atap-atap di bangunan kampus ITB. Namun, lengkungan ini bukan hanya berfungsi sebagai penghias masjid, tetapi juga berfungsi sebagai talang datar untuk mengalirkan air dari atap datarnya sebagai antisipasi terhadap tingginya curah hujan di Indonesia.

Menariknya, desain atap Masjid Salman ITB ini mengundang interpretasi bermacam-macam dari para pengamat dan jamaah. Ada yang menganalogikan bentuk atapnya seperti bentuk telapak tangan yang sedang berdoa menengadah ke atas. Ada juga yang berpendapat bahwa bentuk cawan itu sebagai wadah untuk ilmu, berkah, dan rizki.

Bahkan ada juga yang menghubungkan bentuk atap ini dengan bentuk menara di sebelahnya. Bentuk atap diinterpretasikan sebagai huruf “Ba” untuk kata “Bait” yang berarti rumah. Sedangkan bentuk menara diinterpretasikan sebagai huruf “alif” untuk kata Allah. Sehingga apabila disatukan menjadi “Bait Allah”, secara harfiah bermakna Rumah Allah.

Ahmad Noe’man, sang desainer, sendiri mengaku hanya merancang sebuah bentuk yang fungsional yang beliau istilahkan sebagai “engineer feeling“.

Pastinya, bentuk atap Masjid Salman ITB tidak secara mudah dapat dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai bangunan masjid jika dilihat dari luar. Oleh karena itu, adanya menara di ujung bagian timur ruang terbuka masjid, membantu masyarakat mengenalinya sebagai sebuah masjid.

Menara yang berbentuk menhir tersebut memang akhirnya menjadi satu-satunya penanda fisik dari luar bahwa bangunan tersebut adalah masjid. Sekali lagi, hal ini karena ketiadaan kubah yang biasanya ada di setiap masjid. Menara pun berfungsi memperluas jangkauan suara adzan sekaligus menjadi landmark komplek Masjid Salman ITB.

Selain bentuk atap yang unik, salah satu ciri khas masjid rancangan Achmad Noe’man adalah ketiadaan kolom (tiang penyangga) di tengah bangunan masjid. Beliau menghindari kolom pada setiap rancangannya atas dasar dua hal. Pertama, beliau meyakini bahwa shaf yang sempurna adalah saf yang tidak terputus. Adanya kolom tentu saja akan merusak kesempurnaan ini.

Kedua, kolom –seperti yang terdapat di masjid Istiqlal, Jakarta– dapat mengganggu pemandangan jamaah saat khatib berkhutbah pada shalat Jum’at atau Shalat ‘Id. Sehingga besar kemungkinannya mengurangi kekhusyuan jemaah dalam beribadah.

Selain mengikuti kaidah-kaidah pembangunan masjid yang syari, setiap bagian dari Masjid Salman ITB memiliki fungsinya masing-masing. Ventilasi silang dan koridor digunakan untuk menetralisir panasnya cuaca saat terik matahari.

Koridor-koridor yang ada di sisi utara, selatan, dan timur ruang utama shalat tersebut, selain untuk menambah kesan sejuk pada masjid, juga berfungsi sebagai transisi antara bagian luar masjid yang berkesan berat dan dingindan bagian dalam yang hangat, akrab, dan nyaman.

Hal ini dikarenakan material koridor terbuat dari beton, dan material ruang utama masjid didominasi oleh kayu jati, baik pada lantai, dinding, maupun plafonnya.

Detail-detail kecil pun tidak luput dari perhatian Ahmad Noe’man. Keberadaan miniatur Kabah di atas mimbar, merupakan simbolisasi kiblat umat muslim. Keberadaan lampu-lampu, baik di bangunan utama maupun koridor yang letaknya tersembunyi, juga turut mempercantik tampilan masjid ini.

Disarikan dari wawancara Redaksi SalmanITB.com dengan Ahmad Noe’man yang merupakan perancang dan penggagas Masjid Salman ITB

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.