Pencurian di Rumah Visi Sidomukti

Mobil polisi kerap parkir di depan Rumah Visi Sidomukti. (Foto: Danar AD)

Mobil polisi kerap parkir di depan Rumah Visi Sidomukti. (Foto: Danar AD)

Baru sebulan resmi berdiri, Rumah Visi Sidomukti sudah menjadi incaran pencuri. Akhirnya, Rabu (6/10) dini hari, tempat tinggal Beswan Pelopor itu resmi pula disatroni maling.

Pukul 02.00 WIB Rabu itu, terdengar suara berisik di halaman belakang rumah. Meskipun beberapa anak mendengarnya, mereka mengabaikannya. “Paling kucing,” pikir mereka.

Begitu pagi tiba, semua penghuni terkejut melihat rak sepatu yang nyaris kosong. Barulah mereka semua sadar, dini hari itu bukan sekedar kucing yang mengobrak-abrik sepatu mereka, melainkan maling.

Alhasil, sebelas pasang sepatu sukses dibawa maling. Bukan sepatu biasa, maling itu menggondol sepatu-sepatu mahal yang harganya lebih dari  200 ribu Rupiah harga per pasangnya. “Jika ditotal, malingnya bisa untung 1 juta lebih tuh,” komentar Mukhtar, wali Rumah Visi Sidomukti.

Perasaan kaget tak terhindarkan. Bagaimana pun, insiden ini adalah pertama kalinya terjadi bagi para penghuni Rumah Visi. Lebih lagi, Polsek dan pos satpam hanya berjarak 8 meter dari rumah, mobil polisi pun sering parkir di depan Rumah Visi, dan ruko di samping barat rumah pun ramai 24 jam.

Saat mengetahui, beberapa anak ada yang berteriak panik, “Wah, pake sepatu apa aku nanti kuliah?!” Untungnya, masih ada teman yang tidak kehilangan dan bersedia meminjamkan sepatu. Sedihnya, umur sepatu-sepatu yang raib itu tak lebih tua dari umur Rumah Visi, alias baru berumur beberapa minggu. “Sepatu-sepatu itu memang tergolong baru. Anak-anak baru belanja setelah mendapatkan uang beasiswa,” terang Mukhtar mewakili.

Namun, selain sepatu, tidak ada barang ataupun nyawa yang hilang. Padahal di sana terdapat motor, sepeda, dan berbagai barang berharga lainnya yang sebenarnya dapat dibawa serta.

Setelah kejadian, Noval, perwakilan penghuni Rumah Visi segera melapor ke satpam dan polisi. “Meminta pertanggungjawaban. Kan kita sudah membayar iuran keamanan (sebesar) 40 ribu Rupiah per bulannya.”

Kemungkinan besar pencurian ini terjadi akibat kelalaian penghuni mengunci pagar belakang. “Anak-anak sekarang sudah diperingatkan untuk lebih berhati-hati dalam mengunci dan menyimpan sepatu serta sepeda di dalam dapur saja,” tutur Mukhtar.

“Sebenarnya saya juga khawatir dengan komputer Rumah Amal yang berada di ruang tamu ini. Jika malam tiba, meskipun lampu dimatikan, komputer ini tetap saja terlihat dari luar. Tidak ada korden sih,” keluh Yaman, pegawai Rumah Visi.

Kewaspadaan dan penjagaan mutlak perlu ditingkatkan. Kejadian ini tidak hanya menjadi pelajaran bagi penghuni Rumah Visi Sidomukti, tetapi juga bagi seluruh penghuni asrama Salman. Tak jarang para penghuni asrama lain ikut bersimpati atas kehilangan ini. Semoga ini merupakan pencurian pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah Rumah Visi Sidomukti.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.