Penentuan Arah Kiblat dengan Internet [1]

Pada hari Jumat lalu (20/8) seorang pengurus DKM sebuah masjid di daerah Setiabudi Bandung menceritakan tentang perubahan arah kiblat di masjidnya karena diduga arah kiblatnya salah. Namun, dia merasa belum yakin kebenaran arah kiblatnya karena belum diukur secara pasti. Akhirnya, kami pun mencoba mencari arah kiblat dengan fasilitas yang sudah ada di internet, yaitu menggunakan qiblalocator.com.

Dasar Arah Kiblat

Perintah menghadap ke arah kiblat saat shalat, disampaikan Allah dalam Alquran pada surat Al-Baqarah ayat 144: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

Perintah ini turun saat Rasulullah dan sahabatnya sedang shalat berjamaah di sebuah masjid. Pada awal shalat, mereka masih menghadap ke masjid Al Aqsha. Namun, saat dalam keadaan shalat, rasulullah dan sahabatnya mengubah arah shalat ke Masjidil Haram. Peristiwa ini menjadikan masjid tempat shalat tersebut dinamakan Masjid Qiblatain, masjid dua arah kiblat.

Permasalahan yang Muncul

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, penentuan posisi dan arah semakin mudah dan akurat. Dengan menggunakan metode ukur satelit dan bayangan sinar matahari pada waktu tertentu, ternyata ditemukan banyak masjid yang arah kiblatnya salah.

Hal ini menimbulkan keresahan di masyarakat. Apalagi beredar isu bahwa posisi Indonesia terhadap Kota Mekkah tempat kiblat berada, telah berpindah karena adanya gempa bumi.  Gempa memang terkait dengan pergeseran lempeng benua. Gempa di Jawa terjadi karena penyusupan lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Namun, pergeseran lempeng yang mengubah arah kiblat, perlu waktu puluhan juta tahun.

Kesalahan arah kiblat tidak bisa dianggap sepele. Kesalahan satu derajat di Indonesia, yang berjarak sekitar 8.000 Km untuk Jawa Barat, bisa menyebabkan penyimpangan besar di Mekkah sekitar 140 Km. Hal ini dengan mempertimbangkan sikap tubuh dan pandangan yang bisa menyimpang sampai 20 derajat saat shaf rapat atau menengok ke ujung kiri atau kanan sajadah.

Arah saf berbeda sampai 2 derajat pun tidak signifikan perbedaannya. Jadi kalau ada masjid yang arah kiblatnya menyimpang sampai 2 derajat, masih bisa ditoleransi. Demikian menurut Prof. Dr. T. Djamaluddin dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Perbaikan arah kiblat di masyarakat biasanya dengan meluruskan arah kiblat. Sangat sederhana, cukup dengan mengubah arah shafnya tanpa harus membongkar bangunannya. Keresahan akan berlanjut jika pengurus masjid enggan mengubah arah shaf. Padahal, ibadah shalat harus didasari kebenaran arah kiblat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun akhirnya mengeluarkan Fatwa No. 3 Tahun 2010 tentang Arah Kiblat yang kemudian direvisi dengan Fatwa No. 8 Tahun 2010.  Pada Fatwa No. 3 Tahun 2010, MUI menetapkan pada point ketiga: “Letak geografis Indonesia yang berada di bagian timur Ka’bah/Mekkah, maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap arah barat”.

Ternyata fatwa ini tidak menyelesaikan masalah, malah mendapatkan protes dari para ahli. Akhirnya, MUI pun melakukan revisi dengan Fatwa No. 8 Tahun 2010 dengan merevisi ketentuan hukum butir ketiga menjadi: ”Kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke barat laut dengan posisi bervariasi sesuai dengan letak kawasan masing-masing.

Jadi apa yang menyebabkan terjadinya kesalahan arah kiblat sehingga harus dilakukan penyempurnaan? Prof. Dr. T. Djamaluddin mengemukakan pernyataan, “Mengapa disarankan penyempurnaan? Karena sebagian besar masjid atau mushalah arah kiblatnya ditentukan sekadar perkiraan dengan mengacu secara kasar arah kiblat masjid yang sudah ada atau dengan menggunakan kompas yang tidak akurat.”

Metode Penentuan Arah Kiblat

Selama ini, alat yang mudah digunakan untuk menentukan arah kiblat yaitu kompas. Tetapi, ternyata ada permasalahan karena adanya penyimpangan arah utara magnetik bumi. Untuk Indonesia Barat, penyimpangan tidak terlalu signifikan. Di Indonesia Tengah dan Timur, arah Utara magnetik menyimpang 1 hingga 4 derajat ke arah Timur. Cara mengatasinya, yaitu menentukan terlebih dahulu arah Utara sebenarnya sebelum mengukur.

Foto: dokumentasi LPP

Contoh Kompas. Foto: Thomas Djamaluddin, LAPAN

Menentukan posisi utara yang sebenarnya dapat juga dilakukan menggunakan teodolit.

Contoh Teodolit. Foto: Thomas Djamaluddin [LAPAN]Penggunaa Teodolit dalam penentuan arah kiblat. Foto: Thomas Djamaluddin [LAPAN]Teodolit lebih akurat dibandingkan kompas dalam menentukan posisi utara. Hal ini dikarenakan teodolit tidak dipengaruhi oleh magnetik bumi. Teodolit mengacu kepada posisi bintang atau matahari.

Setelah teodolit diarahkan ke matahari, lalu diset menjadi nol dan dikunci, selanjutnya kita catat waktunya dan lihat azimut matahari dari almanak atau aplikasi astronomi.

Misalnya saja pada 8 September 2006 pukul 15.00 WIB dari Bandung, Azimut matahari pada 283o 32’. Penentuan arah Utara berdasarkan azimut matahari. Didapat arah Utara = 360o – 283o 32’ = 76o 28” ke arah kanan.

Setelah menemukan posisi Utara sebenarnya, selanjutnya cari arah kiblat dari hasil perhitungan yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti Departemen Agama atau lembaga lain seperti peneropongan bintang Boscha atau LAPAN, atau dari hasil perhitungan rumus segitiga bola dengan computer programming.

Misalnya dari rumus segitiga bola dengan computer programming diperoleh arah kiblat untuk Bandung 64,84o dari Utara ke Barat, atau 25,16o (25o10’) dari Barat ke Utara. Dengan menggunakan kompas atau Teodolit, arah kiblat adalah 64,84o dari Utara ke Barat, atau 25,16o (25o10’) dari Barat ke Utara.

Penentuan Arah Kiblat dengan Bayangan Sinar Matahari

Arah kiblat dapat juga ditentukan dengan bayangan benda pada saat-saat tertentu. Menurut Prof. Dr. Thomas Djamaluddin,  di Masjidil Haram, ada menara yang sangat tinggi dengan lampu yang sangat terang di puncaknya. Fungsinya, agar semua orang bisa dengan mudah menentukan arah kiblat dengan hanya melihat lampu di atas Masjidil Haram.

Nah, ahli falak mengetahui ada lampu alami yang sangat terang, yang pada saat-saat tertentu tepat berada di atas kota Mekkah, sekitar Masjidil Haram. Itulah matahari. Pada sekitar tanggal 28 Mei dan sekitar 15 dan 16 Juli setiap tahunnya, pada saat tengah hari di Mekkah, matahari tepat berada di atas kepala. Pada saat itulah, orang di Mekkah tidak bisa melihat bayangan mereka sendiri karena matahari tegak lurus di atas kepala mereka.

Namun, di tempat lain di dunia yang bisa melihat matahari, ada bayangan benda yang bisa dijadikan pemandu arah kiblat. Pada saat itulah, seolah-olah kita sedang melihat lampu terang di atas Masjidil Haram dan garis bayangan kita  menjadi petunjuk arah Masjidil Haram. Maka, berdasarkan dalil syar’i, hadapkanlah wajah kita saat shalat ke arah itu. Itulah arah kiblat. Sangat-sangat mudah. Tinggal lihat matahari dan bayangan sekitar pukul 16.18 WIB pada 28 Mei atau 16.27 WIB pada 15 dan 16 Juli.

Model arah kiblat dengan bayangan sinar matahari. Gambar: rukyatulhilal.org

Model arah kiblat dengan bayangan sinar matahari. Gambar: rukyatulhilal.org

Berdasarkan perhitungan astronomi pergerakan matahari, dapat diketahui kapan matahari tepat berada di atas Kota Mekkah atau Ka’bah sehingga arah kiblat dapat lebih mudah dan lebih akurat ditentukan. Jika matahari tepat berada di atas Ka’bah, maka bayangan semua benda akan tampak seperti tampak pada gambar. Arah kiblat adalah dari ujung bayangan ke arah tongkat.

Untuk daerah yang mengalami siang bersamaan dengan Mekkah, seperti di Indonesia, waktunya antara tanggal 26 hingga 30 Mei, pukul 16:18 WIB (09:18 UT/GMT) dan antara tanggal 14 hingga 18 Juli, pukul 16:27 WIB (09:27 UT/GMT).

Jika masjid memiliki celah sehingga sinar matahari dapat masuk, maka dapat dilakukan penentuan arah kiblat seperti gambar berikut.

Penentuan arah kiblat di sebuah masjid dengan bayangan sinar matahari. Foto: T Djamaluddin [LAPAN]Terlihat pada gambar bahwa arah kiblatnya tidak sesuai dengan arah sinar matahari. Sehingg kiblat di masjid tersebut harus diperbaiki dan disesuaikan dengan arah sinar matahari.

Perbaikan arah shaf ke arah kiblat yang sebenarnya. foto: T Djamaluddin [LAPAN]

Bersambung…

Penulis adalah alumni Teknik Fisika ITB. Saat ini menjabat sebagai Manajer Eksekutif LPP Salman ITB. Aktif juga sebagai Pengurus DKM Masjid Al Barru, Bandung

2 Comments

  1. Pingback: Tweets that mention Penentuan Arah Kiblat dengan Internet [1] -- Topsy.com

*

*

Top