Landasan berpikir kita dalam permasalahan ini adalah harta tidak boleh terkumpul di sebagian kecil manusia. Harus didistribusikan, terutama kepada mereka yang tidak memiliki hal lain selain tenaga, baik berupa fisik maupun otak.
Jika kita mempekerjakan seseorang, lakukanlah dalam rangka mendistribusikan kekayaan. Mereka yang memiliki keahlian, memberikan keahliannya kepada mereka yang memiliki kekayaan. Mereka yang memiliki kekayaan, membeli dari mereka yang menawarkan keahlian tersebut. Dengan begitu, terjadi pertukaran atau saling berbagi sehingga terbangun rasa saling membutuhkan. Harapannya, agar kedua pihak bisa lebih sejahtera. Hanya dengan begitu, rahmat Allah bisa tersebar.
Mempekerjakan orang tidak ada salahnya, bahkan merupakan suatu sikap yang mulia. Cuma, hak-hak yang dipekerjakan harus diberikan dengan baik, karena semangat mempekerjakan adalah distribusi nikmat. Jangan sampai kekayaan hanya dipegang oleh sekelompok kecil orang. Karena ketidakseimbangan itu akan menyebabkan, cepat atau lambat, malapetaka. Padahal, kita diminta untuk memberikan rahmat bagi semesta alam.
Ini bagian dari ujian. Tidak semua manusia dibuat kaya oleh Allah, juga tidak semua manusia dibuat pintar, walaupun itu semua mudah bagi Allah. Hikmahnya supaya ada tolong menolong dan saling mengenal, saling mewujudkan arti kasih sayang kepada sesama.
Sering kita mendengar, “Kau bisa menemui-Ku di rumah sakit dengan menjenguk orang sakit, di tempat-tempat orang miskin dengan menolong orang miskin.†Sehingga tumbuh rasa kasih sayang dan mengenal sifat Allah yang Rahman dan Rahim dengan lebih baik.
Mempekerjakan pun jangan berlandaskan eksploitasi dan mereka yang bekerja tidak mendapatkan hak-hak semestinya. Akibat eksploitasi, cepat atau lambat, akan timbul letupan-letupan sosial yang dapat mempunyai dampak luas dan berjangka panjang.
Letupan-letupan ini pada akhirnya akan merugikan semuanya. Para pekerja akan kehilangan pekerjaannya dan pemilik aset mengalami kesulitan mengembangkannya. Oleh karena itu, hubungan kerja yang bersifat eksploitatif harus dihindari. Sebagai gantinya, hubungan kerja atas dasar mensyukuri nikmat harus dibangun bersama-sama antara pekerja dan yang mempekerjakan.
Ini harus dicari titik temunya dengan saling memahami. Para tenaga kerja harus bersyukur atas kesempatan kerja yang dimiliki dan terpenuhinya hak-haknya secara wajar. Sedangkan bagi para pemegang modal pun harus bersyukur karena sudah diberi pekerja-pekerja yang jujur dan sungguh-sungguh serta berdoa agar dapat berbuat lebih banyak. Jadi makmurnya bersama-sama.
Hubungan perburuhan tidak sekedar dalam hubungan employee – employer. Ada hasrat keinginan kuat dari interaksi tersebut untuk menciptakan kesejahteraan bersama sehingga rahmat Allah terwujud dalam konteks sosial.
Syukurilah Pekerjaan Kita
Jika kita berkesempatan berada di posisi employee, sikap employee yang harus dikembangkan kepada employers, antara lain:
- Bangun pagi. Kita bersyukur memiliki pekerjaan karena banyak orang yang belum mempunyai pekerjaan.
- Banyak berdoa. Mendoakan employers agar hatinya terbuka, bertambah rezekinya, dan semakin mengerti tanggung jawabnya kepada pekerja. Dengan begitu, para bos bisa berbagi kekayaan yang dibangun dengan lebih adil.
- Membangun komunikasi yang baik dan terbuka. Menciptakan jalur komunikasi antara owner dan pekerja yang berbasis pada saling percaya.
Apabila kondisi di atas sudah terpenuhi, kita semua akan merasa nikmat karena diberi keberkahan oleh Allah.
Mencobalah berpikir sedikit lebih panjang. Karena, ketika manusia sudah mati, namanya masih akan tetap dikenang. Jangan sampai ketika sudah mati, kita masih dikutuk orang. Celaka kita!
Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan bagaimana mempekerjakan orang lain dengan memenuhi hak-haknya. Karena semangatnya jangan sampai kita mengambil hak orang lain dengan cara yang bathil. Hal ini disebutkan dalam surat Al – Baqarah ayat 188:
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.
Puasa membangun sensitivitas yang tinggi atas kehadiran Allah. Tiba-tiba kita diingatkan untuk tidak mengambil hak orang lain, termasuk mengambil hak-hak orang yang kita pekerjakan. Luar biasa sekali.
Namun, nampaknya pelanggaran atas perintah ini sering kali dilanggar oleh manusia. Sehingga, terbayang sekali sulitnya perintah ini dijalankan.
Kebanyakan orang memiliki hasrat yang kuat terhadap harta. Semakin banyak harta, semakin tidak mau berbagi, semakin pelit. Seperti orang minum air laut. Tidak bersedia berbagi adalah awal dari bencana sosial. Oleh karena itu, Islam mengajarkan supaya kita membelanjakan atau menginfakkan harta yang paling kita sayangi.
Disarikan dari wawancara antara SalmanITB.com dan Hermawan K Dipojono


![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)



![Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012] Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/05/Asrama-Salman-ITB-50x50.jpg)
![Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012] Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/kelas-tematik-50x50.jpg)


