Cerita Keajaiban Allah dari Gaza

Foto: Photobucket.com

Foto: Photobucket.com

Kenapa orang-orang gencar memboikot produk dari negara-negara pro Israel? Apa perlunya? Repot amat, kan cuma sesekali makan di restoran yang “I’m lovin it” itu. Adakah di antara kita yang masih bertanya-tanya dan disimpangsiurkan oleh pemberitaan di media?

Bulan Juli 2010 lalu, Salman ITB mendatangkan tamu-tamu istimewa dalam Tabligh Akbar bertajuk Mengungguli Zionis dalam Bidang Kesehatan. Adalah Dadang Rukanta, dokter spesialis bedah ortopedi asal Bandung, hadir sebagai salah satu pembicara dalam Tabligh Akbar tersebut. Dadang pernah menjadi salah satu relawan medis Indonesia di Gaza selama kurun waktu Desember 2008 hingga Februari 2009 lalu.

“Gaza itu seperti Bandung, luasnya hampir sama, isinya yang berbeda. Di sana seperti kota mati, banyak reruntuhan, listrik juga mati,” cerita Dadang di hadapan sekitar 200 hadirin.

Diceritakan Dadang, penduduk Gaza sangat kreatif. Dengan keterbatasan karena blokade dan serangan, mereka mampu secara otodidak menciptakan alat-alat kedokteran. “Teknologi yang ada di Rumah Sakit sudah canggih. Syifa Hospital punya MRI sendiri (red: Magnetic Resonance Imaging),” tutur Dadang.

Pendidikan dan Alquran merupakan dua hal yang sangat penting di sana. Dalam suasana perang yang begitu kental, semangat ruhiyah senantiasa terjaga di Gaza. Senandung tilawah Alquran terdengar dimana-mana.

“Bandung saja hanya punya 20-an dokter ortopedi, di sana ada 53,” ungkap Dadang. Menurutnya, itu membuktikan pendidikan mereka yang juga maju.

Beberapa keanehan sempat ditemukan Dadang selama bertugas di sana. Luka-luka para mujahid cepat sembuh, pendarahannya hanya sedikit, dan lukanya tidak cepat busuk. Kiranya ini salah satu keajaiban Allah yang nyata. “Kalau operasi di sini (Bandung), biasanya butuh persediaan darah banyak. Di sana (Gaza), hampir tidak ada pendarahan ketika saya mengoperasi. Cukup diseka saja,” kisah Dadang.

Syahid yang Dirindukan

Jika di negeri kita banyak foto-foto calon pejabat bertebaran di spanduk-spanduk, lain halnya di Gaza sana. Ada banyak spanduk di sana berisikan foto dan nama serta tanggal syahidnya. Orangtua-orangtua jauh dari kesan sedih jika anaknya meninggal.

Sesekali waktu, Dadang menemui seorang bapak yang menunjukan foto anaknya di handphone. “‘Ini anak saya, sudah syahid,’ kata Bapak itu bangga,” kenang Dadang. “Di sana kematian adalah hal yang begitu indah,” tambah Dadang. Kaum Palestina sangat yakin bangsa Yahudi tidak akan menang. Allah itu dekat dan memberikan pertolongan.

Amanah Ikhwah Gaza

Indonesia punya cerita tersendiri untuk rakyat Palestina. Seolah-olah memiliki ikatan persaudaraan erat. “Anda jauh-jauh datang kemari hanya untuk menolong kami?” kenang Dadang. Saudara-saudara di Gaza sangat berterimakasih atas bantuan dari Indonesia. Mereka menitipkan beberapa pesan untuk saudara-saudara umat Islam di Indonesia.

Mereka minta dido’akan, do’a umat Islam sejatinya adalah kekuatan untuk mereka di sana. Mereka juga minta agar apa yang dilihat di Gaza, hasil dari kezaliman Yahudi, disebarluaskan. Kezaliman Yahudi itu nyata. Doa kita, usaha kita sekecil apapun untuk mendukung Palestina adalah berharga.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.