Biaya pendidikan semakin mahal saja. Hal yang terjadi kemudian, pendidikan menjadi semakin transaksional dan komersial. Demikian dituturkan Manajer Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Salman ITB, Syamril, pada Friday Season on Salman ITB bertajuk “Ketika Sekolah Menjadi Pabrik Manusiaâ€.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Divisi Pengkajian dan Penerbitan (DPP) YPM Salman ITB. Bertempat di Ruang Utama Masjid Salman ITB, Jum’at (30/07), diskusi ini juga menghadirkan Iwan Hermawan dari Forum Aspirasi Guru Independen (FAGI).
Lebih lanjut, Syamril berseloroh bahwa sila kesatu Pancasila telah berubah. Dari Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Keuangan Yang Maha Berkuasa.
“Siswa dari golongan ekonomi menengah ke atas semakin mendapatkan kemudahan dengan komersialisasi pendidikan. Hal ini menyebabkan akses siswa dhuafa untuk kuliah di perguruan tinggi menjadi semakin kecil,†ujar Syamril miris.
Selain minimnya akses siswa dhuafa terhadap pendidikan, kesenjangan sosial pun akan semakin lebar antara orang berpengasilan tinggi dan orang yang berpenghasilan rendah.
Sedangkan Iwan Hermawan berpendapat, ada tiga masalah krusial dalam dunia pendidikan Indonesia. Pertama, minimnya fasilitas pendidikan yang diberikan. Kedua, rendahnya kesejahteraan guru. Kemudian yang ketiga, lemahnya partisipasi guru dan masyarakat dalam berbagai kebijakan pendidian di sekolah.
“Berbagai praktek penyuapan pun terjadi di pendidikan Indonesia pada saat ini. Misalnya, penyuapan atasan untuk posisi yang lebih tinggi di dinas pendidikan. Atau penyuapan badan penilai sekolah untuk memperoleh penilaian yang diinginkan,†tutur pria kelahiran 48 tahun silam ini.
Iwan menjelaskan, di Bandung, standar nasional jumlah siswa di kelas sekolah negeri berjumlah maksimal 32 orang. Namun, kenyataannya jumlah siswa melebihi kuota yang ditetapkan.
“Untuk tim pemantau dari provinsi saja, sekolah biasanya menyediakan dana lima ratus ribu sebagai ‘hadiah’,†ujar pria yang mengidolakan Otto Iskandardinata ini.
Lebih lanjut, Iwan menilai ada beberapa latar belakang yang menyebabkan masalah-masalah krusial di sektor pendidikan di Indonesia. Di antaranya: otoritas kepala sekolah yang terlalu besar tanpa ada stakeholder, lemahnya institusi pengawasan, dan minimnya fasilitas pendidikan yang diberikan. Rendahnya kesejahteraan guru serta lemahnya partisipasi guru dan masyarakat dalam kebijakan pendidikan, juga salah satu latar belakang maraknya kasus ini.
Solusi
Ketika disinggung mengenai solusi, Syamril menekankan pada dua aspek yang harus diperhatikan dalam dunia pendidikan saat ini. “Pertama, struktural. Kedua, Kultural,†ujar pria kelahiran 36 tahun silam ini.
Solusi dari segi struktural misalnya adanya kebijakan bahwa pendidikan itu untuk semua kalangan. Selain itu, diperlukan juga pendanaan yang memadai dari negara. Sedangkan dari segi kultural, Syamril menandaskan bahwa kita harus memuliakan pendidikan dan menganggap ilmu sebagai kunci kesuksesan dunia dan akhirat.
Berbeda dengan Syamril, Iwan lebih menekankan kepada aspek melek hukum sebagai solusi. Para akademisi serta praktisi pendidikan seharusnya membaca regulasi dan Undang-Undang Pendidikan yang berlaku sampai tamat. Pelanggaran-pelanggaran pendidikan yang terjadi diakibatkan karena hanya sedikit guru yang mengetahui hukum-hukum dunia pendidikan secara menyeluruh.
“Konsisten dan konsekuen terhadap aturan yang ada, itulah inti dari solusi untuk pendidikan saat ini,†simpul Iwan.







![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)