Kenangan dari Gaza: Meskipun Berbeda, Tapi Tetap Bersama

Foto: endisraeliapartheid.blogspot.com

Foto: endisraeliapartheid.blogspot.com

Meskipun berasal dari berbagai negara, suku, dan agama, tidak menghilangkan rasa kebersamaan dan saling tenggang rasa 600 relawan freedom flotilla (armada kebebasan) akhir Mei 2010 lalu. Santi Soekanto, jurnalis Hidayatullah, merasakan hal tersebut ketika ikut dalam ekspedisi kapal Mavi Marmara ke Jalur Gaza.

Dihadapan sekitar 200 jamaah Kajian Sabtu Dhuha Masjid Salman ITB di Ruang Utama Masjid Salman ITB pada Sabtu (24/), Santi berbagi cerita dan foto ketika dirinya bersama 12 orang berangkat menuju Gaza.

“Ini adalah kapal yang dibeli oleh 30 ribu ibu-ibu arisan di Turki dan Bahrain,” tunjuk Santi ke gambar kapal kargo yang ditampilkan di proyektor. “Kapal ini berisi mainan, alat-alat kesehatan, obat-obatan, dan lainnya. Kapal ini dibeli seharga 1 juta Dollar (Amerika),” lanjut Santi disambut decak kagum hadirin.

Dalam pemaparan singkatnya, Santi juga mengenang 2 kawannya sesama relawan di Gaza, Iara Lee dari Brazil dan Alex Harrison dari Inggris. Ketika ditawan oleh tentara Israel, seluruh tawanan wanita begitu dehidrasi dan membutuhkan minum. Semua tawanan diborgol dan hanya mampu diam tak berdaya.

Namun, kedua kawan relawannya itu, Iara dan Alex, berteriak dan meminta minum untuk tawanan wanita yang sudah sangat kehausan dan dehidrasi. Akhirnya pihak Israel melepaskan borgol kedua kawan Santi dan menyuruh mereka berdua untuk memberikan minum ke tawanan wanita lainnya.

“Kala itu, kami (tawanan wanita) merasa seperti di zaman rasul dulu. Setiap orang memprioritaskan yang lebih membutuhkan minum,” ujar Santi. Dalam hal ini, Santi melihat, tanpa membeda-bedakan agama dan asal negara, relawan Gaza berusaha bersatu dan menolong sesama.

Masih menurut Santi, dari 600 orang yang ikut dalam kapal Mavi Marmara, 100 orang di antaranya bukan muslim. “Bahkan, ada seorang uskup, yang ikut sholat subuh menjelang penyerangan (tentara Israel terhadap kapal Mavi Marmara),” ungkap Santi.

Hal senada diungkapkan Surya Surya Fahrizal, wartawan Hidayatullah yang tertembak ketika penyerangan tentara Israel ke kapal Mavi Marmara. Kala itu, keadaan dirinya sudah mulai membaik. Lantaran banyak relawan yang tertembak, terpaksa Surya harus melepaskan selang oksigen yang membantunya bernafas usai tertembak.

“Karena peralatan medis terbatas, relawan medis hingga berdebat tentang siapa yang harus mendapatkan bantuan oksigen terlebih dahulu,” papar Surya. “Namun, beberapa di antara mereka akhirnya meninggal,” lanjut Surya. Meskipun begitu, Surya banyak belajar sepulangnya dari Gaza, terutama tentang tenggang rasa dan kebersamaan.

Selain berbagi cerita, dalam kegiatan ini juga diputar video detik-detik penyerangan Mavi Marmara oleh Israel. Video berdurasi 1 jam tersebut, berhasil dibawa keluar dari Israel dan dapat diunduh secara bebas melalui internet. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) YPM Salman ITB.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.