Sebagai perguruan terdepan di Indonesia dan Asia Tenggara, Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah harus tidak hanya berpikir Indonsia semata. ITB juga harus mampu berpikir dunia. Untuk itu, ITB berencana mencanangkan kemampuannya untuk mencetak pemimpin dunia.
Demikian disampaikan Rektor ITB Prof. Dr. Akhmaloka ketika menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam Syukuran Wisuda Muslim ITB di masjid Salman ITB pada Ahad (18/7) lalu. Kegiatan ini bertajuk Setelah Wisuda Mau Apa? yang dihadiri oleh sekitar 40 orang, terdiri dari mahasiswa, mahasiswi, wisudawan, dan wisudawati muslim ITB beserta jajaran pengurus YPM Salman ITB.
Lebih lanjut, Akhmaloka menuturkan bahwa tingkat productivity negara-negara di dunia akan berubah. Dalam 50 tahun ke depan, banyak negara-negara maju saat ini, akan menurun tingkat productivity-nya. Akhmaloka mencontohkan dengan Jepang yang tingkat productivity-nya akan menurun sebesar 50 persen pada 50 tahun mendatang. “Begitu pun dengan Amerika dan negara-negara Eropa. Mereka mulai menunjukan penurunan (tingkat) productivity-nya,” sambung lulusan ITB tahun 1985 ini.
Sebagai gantinya, productivity negara-negara Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan diprediksikan meningkat dan memimpin dunia. Akhmaloka menyebut China dan India sebagai negara yang akan memimpin dunia di masa yang akan datang.
“Saat ini mereka (China) tengah mempersiapkan diri menjadi pemimpin dunia. Kalau kita tidak pintar, siap-siap kita akan dibodohi,” pesan Akhmaloka.
Alumni Karisma ITB ini juga menuturkan bahwa dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi, semua negara memiliki kapasitas dan peluang yang sama. Menurutnya, ada banyak sumber informasi di internet yang bisa diakses oleh setiap orang dari berbagai negara.
Meskipun begitu, Akhmaloka menegaskan, yang membedakan setiap negara adalah budaya. Tak heran, bila China yang tengah bersiap menjadi pemimpin dunia, mengharuskan setiap mahasiswanya untuk pergi ke luar negeri. Tujuannya, tentu untuk mempelajari budaya dan bahasa dari negara-negara yang ada di dunia. Sehingga di masa depan, China mampu memberikan yang terbaik untuk semua negara di dunia.
Selain Akhmaloka, hadir sebagai pembicara talkshow Dirut PT Chevron Indonesia Ir. Abdul Hamid Batubara, MBA. Dirut PT Telkom Indonesia Ir. Rinaldi Firmansyah, CFA. MBA yang dijadwalkan sebagai pembicara, tidak dapat hadir karena baru tiba di Bandung pukul setengah 8 pagi.
Syukuran sarjana muslim ITB ini merupakan tradisi Salman ITB. Sekretaris Umum YPM Salman ITB Dr. Yazid Bindar menuturkan dalam sambutannya bahwa kegiatan ini selalu menjadi nostalgia yang akan selalu dikenang alumni ITB. Biasanya, kegiatan ini diisi motivasi untuk peserta kegiatan agar mampu berkiprah. Bagaimana pun, Salman ITB merupakan organisasi yang mengedepankan pola pembinaan yang menitikberatkan pada penguatan ruhani.
Kegiatan ini didukung oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Ikatan Alumni ITB, Ikatan Alumni Gamais ITB, PT Chevron, PT Telkom Indonesia, dan Rumah Amal Salman ITB.
Kurang Interaksi dan Sinergi
Akhmaloka juga menyinggung perihal kurangnya rasa interaksi dan saling bersinergi alumni ITB. “Dalam hal kemampuan dan intelektual, alumni ITB tidak diragukan lagi,” sahut alumni SMA Muhammadiyah Cirebon ini. “Namun, dari sisi sociology interact, ini yang dipertanyakan,” papar Akhmaloka. Menurutnya, inilah salah satu masalah besar di ITB.
Menurut Akhmaloka, bila alumni ITB mampu bersinergi dan berinteraksi, bukan tidak mungkin mereka akan berhasil. Pengurus Salman ITB tahun 1992 hingga 1995 ini, juga berpesan agar alumni ITB senantiasa membuka cakrawala dan melihat serta memahami orang lain. “Jangan hanya ingin dipahami orang lain saja, tapi harus mau memahami orang lain juga,” tandas Akhmaloka.
Bagaimana pun, lanjut mantan Dekan FMIPA ITB ini, era globalisasi dunia terbuka untuk semua orang. “Sehingga, untuk menghadapinya, harus saling dan mampu berinteraksi dengan orang lain,” simpul Akhmaloka.


