Semuanya berawal dari sepucuk surat yang dilayangkan Arthur James Balfour kepada Lord Rothschild, 2 November 1917. Tertanda dari Menteri Luar Negeri Kerajaan Inggris kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris. Surat tersebut menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis membuat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina. Surat ini kemudian dikenal luas dengan nama Deklarasi Balfour.
Tepatnya dua puluh tahun sebelum Deklarasi Balfour ditetapkan, kongres Zionis pertama diadakan. Kongres tersebut didasari pemikiran Theodore Herzl, seorang jurnalis Yahudi berdarah Austria-Hungaria. Pada tahun 1890-an, Herzl meramu Zionisme dengan beragam ideologi ciptaannya berdasarkan urgensi pada masa itu. Hingga pada akhirnya, lahirlah sebuah buku sebagai representasi dari hasil pemikirannya, Der Judenstaat (The State of the Jews). Semenjak diterbitkannya buku tersebut, pergerakan Zionisme memikat hati sejumlah kaum Yahudi yang tersebar di seluruh penjuru dunia untuk hijrah ke sebuah “Tanah yang Dijanjikanâ€Â.
Deklarasi Balfour yang ditetapkan dua puluh tahun setelah kongres Zionis sedunia pertama di Basel, Swiss, merupakan pelicin bagi Zionisme untuk menjadikan Palestina sebagai tanah air kaum Yahudi. Pada tanggal 14 Mei 1948, proklamasi kemerdekaan negara Israel pun dikumandangkan.
Bukan Sekedar Ideologi Sakit Hati
Timbul pertanyaan, apa yang membuat kaum Zionis begitu tega menghabisi nyawa-nyawa tak bersalah etnis Arab Palestina? Mengapa Zionis seringkali tidak mengindahkan ketetapan-ketetapan internasional, bahkan melanggarnya? Apa latar belakang dibalik kebiadaban mereka yang tampak tidak pernah mengenal sense of humanity (sentuhan kemanusiaan)?
Jika dilihat dari sejarahnya, kaum Yahudi patut digolongkan sebagai kaum tertindas. Pada era kekaisaran Romawi, penduduk Yahudi diusir secara paksa dari tanah Arab oleh otoritas yang berkuasa saat itu. Terpaksa kaum Yahudi hidup luntang-lantung dalam pengasingan yang tersebar di berbagai belahan bumi. Sentimen anti-Semitisme pun berkembang luas pada zaman pertengahan di kalangan bangsa Eropa dan penduduk Kekhilafahan Islam–yang sebenarnya tidak lagi mengindahkan syariat Islam murni.
Puncak penindasan Yahudi terjadi pada masa kediktatoran Nazi yang digawangi Adolf Hitler, seorang pemimpin karismatik yang membenci kaum Yahudi. Dalam program pembantaian ras yang berjuluk Holocaust ini, lebih dari 6 juta ras Yahudi dimusnahkan.
Apakah kesengsaraan yang dialami oleh kaum Yahudi menjadi semacam alibi bagi gerakan Zionisme untuk melakukan sejumlah tindakan biadab bagi yang menghalangi berdirinya negara Israel? Apakah serangan tidak berperikemanusiaan–yang dilancarkan pemerintahan Israel terhadap kapal Mavi Marmara–merupakan acara ‘balas dendam’ atas perlakuan mereka yang menindas Yahudi beberapa abad yang lalu? Lalu, mengapa bangsa Arab Palestina yang tidak pernah melakukan tindakan sebiadab rezim Nazi terhadap kaum Yahudi, menjadi pelampiasan Zionis untuk melancarkan agenda mereka?
Ternyata ini bukan sekedar balas dendam, melainkan perwujudan dari firman Tuhan mereka dalam kitab suci. Klaim teologis ini berdasarkan Kitab Kejadian 15:18:
Pada hari ini Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, “Untuk Tuhanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar Eufrat.â€Â
Dalam Kitab Yosua 21:43, ditemukan hal yang senada:
Jadi seluruh negeri itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, yakni seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.
Negeri yang dimaksud dalam firman-firman kaum Zionis disimpulkan sebagai tanah Palestina. Akidah dan manhaj Zionisme ini berdiri atas keyakinan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling utama di dunia. Hal ini tercantum dalam Kitab Talmud, Sanhedrin, halaman 2 nomor 58:
Bani Israel lebih tinggi derajatnya di sisi Allah daripada malaikat. Jika seorang Yahudi memukul orang Yahudi, maka seolah-olah orang itu telah memukul Tuhan. Kaum Yahudi adalah bagian dari Allah, seperti seorang anak merupakan bagian dari bapaknya. Oleh karena itu, apabila seorang non-Yahudi memukul orang Yahudi maka orang itu harus dihukum mati.
Poin-poin yang berada dalam kitab Talmud tersebut menjadi inspirasi bagi penggagas Zionisme untuk menciptakan The Protocols of The Meetings of The Elders of Zion, sekumpulan kerangka kerja teknis gerakan Zionisme yang berlaku hingga saat ini.
Bersambung…
Latar belakang kaum Yahudi melancarkan aksi Zionisme ternyata berlandaskan dalil-dalil yang berada di dalam kitab mereka. Lalu apa yang membedakan agama Yahudi dengan agama Islam? Apa keunggulan-keunggulan yang Islam punyai bila dibandingkan dengan Yahudi?
Baca kelanjutannya di Zionisme, Islam, dan Indonesia: Perbandingan Dua Agama Samawi (2).







![Sekolah Pranikah Angkatan 14 [19 Februari 2012] Sekolah Pranikah Angkatan 14 [19 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/poster-SPN-50x50.jpg)


![Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [10 Februari 2012] Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [10 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_4265-50x50.jpg)
